Kupi Beungoh
Ketika Balai Pengajian Mulai Tergeser oleh Dunia Digital
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebiasaan anak-anak dan remaja di Aceh mulai mengalami perubahan.
Melihat kondisi saat ini, banyak orang tua lebih memprioritaskan pencapaian akademik anak demi prospek kerja dibandingkan pendidikan agama. Padahal, dalam Islam ilmu dasar ibadah merupakan kewajiban fardhu ‘ain yang tidak boleh diabaikan.
Fakhruddin menilai sebagian orang tua kini lebih memprioritaskan pendidikan akademik karena dianggap memiliki peluang kerja yang lebih besar. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama pendidikan agama dasar atau ilmu fardhu ‘ain tetap diberikan kepada anak.
Pola pikir seperti ini perlahan membuat pendidikan agama kehilangan prioritas. Anak dituntut unggul dalam pelajaran sekolah, tetapi minim pembinaan akhlak dan pemahaman agama. Akibatnya, remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh budaya digital tanpa filter nilai yang kuat.
Balai Pengajian Juga Harus Beradaptasi
Di sisi lain, balai pengajian juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sebagian remaja merasa metode pembelajaran yang digunakan masih monoton dan kurang menarik.
“Ada anak datang mengaji tetapi tidak paham karena cara mengajarnya kurang menarik,” kata Fakhruddin.
Menurutnya, pengajian tidak cukup hanya mempertahankan cara lama, tetapi juga perlu menghadirkan metode belajar yang lebih menarik, kreatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Dengan begitu, balai pengajian tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar agama, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman bagi generasi muda untuk berkembang dan berinteraksi.
Menjaga Masa Depan Generasi Aceh
Aceh dikenal sebagai daerah dengan identitas Islam yang kuat. Karena itu, menjaga keberadaan balai pengajian bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga jati diri masyarakat Aceh.
Menjaga minat remaja terhadap pengajian bukan hanya tanggung jawab teungku atau lembaga agama saja, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Orang tua memiliki peran penting dalam menjaga kedekatan anak dengan lingkungan pengajian. Bukan hanya membatasi penggunaan gadget, tetapi juga memberikan dorongan agar anak tetap dekat dengan pendidikan agama di tengah derasnya arus digital.
Karena itu, pendidikan akademik dan agama harus berjalan seimbang agar generasi muda Aceh tidak hanya unggul secara ilmu, tetapi juga kuat dalam nilai dan moral.
Banda Aceh, 23 Mei 2026
Penulis, Nurul Amalia (Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry. Email: nuramaliatj168@gmail.com)
| Aceh - Sumatra Gelap: Alarm Krisis Listrik Nasional dan Jalan Ilmiah Menuju Energi 100 Persen Stabil |
|
|---|
| Di Antara Mimpi Allende dan Keteguhan Castro, Kemana Arah Perubahan Indonesia? |
|
|---|
| Pemilu Mendatang, Saatnya Aceh Menata Ulang Dapil |
|
|---|
| Judi Online di Aceh: Antara Hukuman, Kesadaran, dan Efek Jera |
|
|---|
| Kritik Bukan Benci: Scopus Q1, Gema Sitasi, dan Martabat Ilmu Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nurul-Amalia-Mahasiswi-Prodi-Komunikasi-dan-Penyiaran-Islam-UIN-Ar-Raniry.jpg)