Breaking News
Senin, 25 Mei 2026

Kupi Beungoh

Sekali AI Datang Kampus Pun Berubah

China menjadi contoh nyata tentang bagaimana negara mengubah arah pendidikan tinggi sesuai dengan kepentingan strategis nasionalnya.

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof.Dr.dr. Rajuddin, SpOG(K).,Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh dan Sekretaris ICMI Orwil Aceh   

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER

Dunia pendidikan tinggi sedang mengalami perubahan besar yang mungkin tidak disadari banyak orang.

Perubahan itu datang perlahan, tetapi dampaknya sangat mendasar, yaitu jurusan-jurusan lama mulai ditinggalkan, sementara program studi baru berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), data besar, robotika, hingga teknologi masa depan tumbuh sangat cepat.

China menjadi contoh nyata tentang bagaimana negara mengubah arah pendidikan tinggi sesuai dengan kepentingan strategis nasionalnya.

Laporan The Straits Times menuliskan bahwa sejak 2023 universitas-universitas di China mulai menutup ribuan program studi lama dan menggantinya dengan jurusan baru yang dianggap lebih relevan dengan perkembangan teknologi masa depan. 

Dalam satu tahun, sekitar 1.670 jurusan dihentikan dan 1.673 jurusan baru dibuka. Pemerintah China bahkan menargetkan sekitar 20 persen program sarjana di negaranya mengalami penyesuaian sebelum tahun 2025.

Ini bukan sekadar perubahan administratif di lingkungan kampus, melainkan sinyal kuat bahwa dunia sedang memasuki babak baru dalam peradaban pendidikan tinggi.

Pepatah Melayu lama mengatakan: “Sekali air bah, sekali tepian berubah.” Hari ini, air bah itu bernama AI, otomatisasi, digitalisasi, dan revolusi industri berbasis data. Tepian yang berubah adalah universitas, kurikulum, jenis pekerjaan, bahkan definisi tentang masa depan manusia itu sendiri.

Yang menarik, perubahan ini tidak hanya terjadi pada kampus berbasis teknologi. Sejumlah jurusan yang dahulu sangat diminati, seperti penyiaran, musik, bahasa asing, hingga beberapa cabang teknik konvensional mulai mengalami pengurangan. 

Sebaliknya, bidang-bidang baru seperti brain-computer interface, manufaktur cerdas, kecerdasan buatan, dan rekayasa visual digital justru tumbuh sangat cepat seiring perubahan kebutuhan industri dan arah pembangunan masa depan. Artinya, kampus hari ini tidak lagi sekadar tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan klasik. 

Baca juga: Profil Yuni Utami Eks Polwan Viral yang Kembali Bikin Geger, Pernah Dipecat hingga Dirawat di RSJ

Era Kecerdasan Buatan

Kampus mulai diarahkan untuk menjadi penyedia SDM strategis bagi perekonomian, teknologi, dan daya saing negara. Perubahan ini sulit dihindari karena dunia kerja terus berubah sangat cepat. Banyak pekerjaan rutin mulai digantikan oleh AI dan otomatisasi.

Kampus yang gagal beradaptasi berisiko menghasilkan lulusan yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.

Namun, di tengah arus besar transformasi teknologi, muncul pula kekhawatiran yang tidak kecil: jangan-jangan pendidikan tinggi perlahan kehilangan dimensi manusianya.

Ketika kampus berlomba mengejar AI, data science, dan teknologi cerdas, bidang humaniora, seni, budaya, bahasa, komunikasi, serta nilai-nilai kemanusiaan berisiko dipandang semakin kurang penting.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh manusia yang mampu berpikir kritis, memahami budaya, menjaga empati, dan membangun komunikasi antarmanusia. AI bisa membuat mesin berbicara, tetapi AI belum mampu memahami makna kesedihan manusia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved