Kupi Beugoh
Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa, Meniti Asa di Alue Canang Aceh Timur
Embun menetes perlahan dari ujung daun sawit, membasahi tanah merah yang sejak lama menjadi saksi perjalanan hidup masyarakat Desa Alue Canang
Oleh: Letkol Inf Novi Widyanto, SE *)
Kabut pagi masih menggantung rendah di langit pedalaman Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur.
Embun menetes perlahan dari ujung daun sawit, membasahi tanah merah yang sejak lama menjadi saksi perjalanan hidup masyarakat Desa Alue Canang, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.
Jalan-jalan berlumpur terbentang sunyi di antara perkebunan, sementara rumah-rumah kayu berdiri sederhana, menahan terpaan hujan dan panas yang datang silih berganti tanpa pernah memilih waktu.
Di desa kecil yang jauh dari riuh perkotaan itu, kehidupan berjalan dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa pilihan.
Ketika musim hujan tiba, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui kendaraan. Anak-anak harus berjalan kaki dengan sepatu penuh tanah demi sampai ke sekolah.
Para petani kesulitan membawa hasil kebun ke luar desa. Ambulans nyaris tak mampu masuk ketika ada warga yang sakit pada malam hari.
Baca juga: Senyum Rugaiyah di Rumah Baru: TMMD Ke-128 Menyulam Asa di Desa Alue Canang
Namun masyarakat Alue Canang telah lama terbiasa hidup dalam keterbatasan. Mereka menjalani hari demi hari dengan ketabahan yang tidak banyak diketahui orang luar.
Di balik wajah-wajah sederhana itu, tersimpan harapan panjang tentang perubahan yang entah kapan akan datang.
Dan pada suatu pagi di bulan April 2026, harapan itu perlahan mulai mengetuk pintu desa.
Tanggal 22 April 2026 menjadi hari yang tidak akan mudah dilupakan oleh masyarakat Alue Canang.
Lapangan desa yang biasanya lengang mendadak ramai dipenuhi warga.
Anak-anak berlarian kecil di tepi lapangan sambil memandangi kendaraan dinas TNI yang mulai berdatangan.
Baca juga: VIDEO - TMMD Kodim 0104/Aceh Timur di Alue Canang Resmi Ditutup, Ini Hasil Sasaran
Para orang tua berdiri dengan wajah penuh penasaran.
Di tengah udara pagi yang dingin, Bendera Merah Putih berkibar gagah, menjadi penanda dimulainya TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-128 Kodim 0104/Aceh Timur, yang dibuka oleh Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I, M.Si .
Hari itu bukan sekadar pembukaan sebuah program pembangunan. Hari itu adalah awal tumbuhnya keyakinan baru bahwa negara benar-benar hadir di tengah masyarakat pedalaman.
Prajurit TNI datang bukan hanya membawa alat kerja dan perlengkapan lapangan. Mereka datang membawa semangat pengabdian.
Mereka datang membawa tangan yang siap bekerja dan hati yang siap mendengar keluhan rakyat.
Tangan-tangan bersalaman. Senyum-senyum bertukar hangat. Tidak ada jarak antara prajurit dan warga.
Baca juga: Satgas TMMD Wujudkan Sarana Ibadah di TPA Desa Alue Canang, Aceh Timur
Tidak ada sekat antara loreng dan masyarakat. Yang ada hanyalah satu tujuan bersama, membangun desa demi masa depan yang lebih baik.
TMMD sejatinya bukan hanya program pembangunan fisik. Ia adalah bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Sebuah jembatan pengabdian yang mempertemukan negara dengan masyarakat di wilayah-wilayah yang selama ini mungkin jarang tersentuh pembangunan secara maksimal.
Di Alue Canang, TMMD hadir bukan sekadar memperbaiki jalan atau membangun rumah. Ia hadir untuk membangun harapan.
Sejak hari pertama pelaksanaan, denyut kehidupan desa mulai berubah. Suara alat berat memecah kesunyian pagi.
Denting palu terdengar bersahutan dari rumah-rumah warga. Prajurit TNI bekerja bersama masyarakat tanpa mengenal panas maupun hujan.
Baca juga: Pembangunan RTLH Program TMMD Milik Mariana di Alue Canang Aceh Timur Masuki Tahap Akhir
Mereka mengangkat batu, mencampur semen, menggali tanah, dan membangun desa dengan tangan sendiri.
Semangat gotong royong tumbuh kembali di setiap sudut kampung.
Warga yang sebelumnya hanya menjadi penonton pembangunan, kini ikut terlibat langsung.
Para pemuda membantu mengangkut material. Para orang tua menyediakan kopi dan makanan seadanya untuk prajurit yang bekerja sejak pagi.
Anak-anak kecil memandangi para tentara dengan tatapan kagum, seolah melihat sosok saudara yang datang membawa perubahan.
Selama tiga puluh hari pelaksanaan TMMD, perlahan wajah Alue Canang mulai berubah.
Baca juga: Dansatgas TMMD Beri Dukungan Moril Lewat Sembako kepada Warga Alue Canang Aceh Timur
Jalan desa yang menghubungkan Desa Alue Canang menuju Desa Jamur Labu sepanjang 2.200 meter diperkeras.
Jalan yang dulunya sulit dilalui ketika hujan kini mulai terbuka dan lebih mudah diakses kendaraan.
Bagi masyarakat kota, mungkin jalan hanyalah sarana transportasi biasa. Namun bagi warga Alue Canang, jalan adalah urat nadi kehidupan.
Dari jalan itulah hasil kebun dibawa ke luar desa. Dari jalan itu anak-anak menuju sekolah. Dari jalan itu akses kesehatan dan kebutuhan pokok masuk ke perkampungan.
Kini, ketika jalan mulai membaik, masyarakat merasa masa depan mereka pun ikut terbuka.
Tiga gorong-gorong dibangun untuk mengatasi aliran air yang selama ini sering merusak badan jalan.
Saat hujan deras turun, warga tidak lagi cemas jalan akan terputus atau kendaraan terjebak lumpur. Infrastruktur sederhana itu mungkin tampak kecil, tetapi manfaatnya begitu besar bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baca juga: Sinergi TNI dan Warga Alue Canang Aceh Timur Wujudkan Hunian Layak Warga Kurang Mampu
Juga Rehabilitasi Empat Rumah
TMMD juga merehabilitasi empat unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Rumah-rumah yang sebelumnya rapuh, bocor, dan nyaris roboh kini berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan manusiawi.
Di antara seluruh pembangunan itu, ada satu kisah yang paling membekas di hati banyak orang. Kisah tentang seorang ibu tua bernama Mariana.
Usianya kini 62 tahun. Tubuhnya mulai renta, namun matanya masih menyimpan keteguhan seorang perempuan yang bertahun-tahun bertahan dalam keterbatasan hidup.
Selama puluhan tahun Mariana tinggal di sebuah rumah kecil yang hampir roboh dimakan usia.
Atap rumahnya bocor di banyak sisi. Ketika hujan turun, air menetes dari sela-sela seng yang lapuk.
Baca juga: Wujudkan Sanitasi Layak, Satgas TMMD Bangun MCK di Alue Canang Aceh Timur
Dinding kayu mulai keropos. Angin malam masuk tanpa bisa dibendung. Lantai rumah yang dingin membuatnya sering kesulitan beristirahat.
Setiap kali malam hujan datang, Mariana harus berpindah-pindah sudut rumah mencari tempat yang tidak bocor. Ia hidup dalam kesunyian dan keterbatasan yang nyaris tak pernah diketahui banyak orang.
Namun hidup ternyata masih menyimpan harapan.
Melalui program RTLH TMMD Ke-128, rumah Mariana direnovasi menjadi tempat tinggal yang layak huni. Dinding baru berdiri kokoh.
Atap rumah tak lagi bocor. Lantai yang dulu dingin dan rapuh kini berubah menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Saat rumah itu sedang dibangun, Mariana berdiri memandang rumahnya dengan mata berkaca-kaca.
Baca juga: Bukan Bangunan Fisik Saja, Personel TMMD dan Warga Juga Tanam Pohon di Alue Canang Aceh Timur
Tangannya gemetar ketika menyentuh dinding baru yang kini melindunginya dari panas dan hujan.
“Terasa macam mimpi… tiga puluh tahun saya menunggu. Dulu kalau hujan, bocor sana sini. Sekarang Alhamdulillah… rumah saya sudah bagus berkat bapak-bapak TNI,” ucapnya lirih sambil menahan haru.
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya tentang angka dan laporan. Pembangunan adalah tentang menghadirkan kebahagiaan bagi manusia.
Bagi Mariana, rumah itu bukan sekadar bangunan dari semen dan kayu. Rumah itu adalah simbol kepedulian. Simbol bahwa negara tidak membiarkan rakyatnya berjalan sendiri menghadapi kehidupan.
Kisah Mariana hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang lahir dari TMMD Ke-128 di Desa Alue Canang.
Ada wajah-wajah anak sekolah yang kini lebih ceria karena jalan menuju sekolah tidak lagi penuh lumpur.
Baca juga: TMMD Wujudkan Akses Air Bersih di Alue Canang Aceh Timur, "Setetes Air, Sejuta Manfaat untuk Warga"
Ada senyum para ibu yang kini memiliki akses MCK yang lebih layak. Ada rasa syukur warga yang kini bisa mendapatkan air bersih lebih mudah.
Lima titik sumber air bersih dibangun untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Selama bertahun-tahun, sebagian warga kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
Saat musim kemarau tiba, mereka harus berjalan jauh untuk memperoleh air bersih.
Kini, air mulai mengalir lebih dekat ke rumah-rumah warga.
Bagi masyarakat perkotaan, air bersih mungkin hal biasa. Namun bagi warga pedalaman, air bersih adalah harapan tentang hidup yang lebih sehat dan lebih manusiawi.
TMMD juga menghadirkan tiga fasilitas MCK yang membantu meningkatkan sanitasi masyarakat.
Perlahan, kualitas hidup warga mulai berubah. Desa yang sebelumnya tertinggal kini mulai bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.
Namun TMMD tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.
Di balik pembangunan infrastruktur, hadir pula kepedulian sosial yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Pelayanan administrasi kependudukan dilakukan untuk membantu masyarakat memperoleh hak identitas mereka.
Banyak warga yang selama ini belum memiliki dokumen penting seperti KTP dan akta kelahiran akhirnya mendapatkan pelayanan langsung di desa mereka sendiri.
Program pengobatan massal dan KB Kes Terpadu juga dilaksanakan demi meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat pedalaman.
Warga yang sebelumnya kesulitan mengakses fasilitas kesehatan kini dapat memperoleh pemeriksaan dan pengobatan secara gratis.
Sosialisasi Bahaya Narkoba
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, TMMD juga menggelar sosialisasi bahaya narkoba bagi masyarakat dan generasi muda.
Karena membangun desa bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga masa depan generasi penerus bangsa.
Pembagian sembako dan pasar murah menjadi wujud kepedulian terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, bantuan itu menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi warga desa.
TMMD menghadirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pembangunan.
Ia menghadirkan rasa bahwa negara benar-benar hadir di tengah rakyatnya.
Hari-hari pelaksanaan TMMD dipenuhi cerita kebersamaan yang sulit dilupakan. Prajurit TNI tinggal bersama masyarakat.
Mereka makan bersama, bercanda bersama, bahkan ikut membantu aktivitas warga setelah pekerjaan pembangunan selesai.
Di malam hari, suasana desa menjadi lebih hangat. Anak-anak berkumpul mendengarkan cerita para prajurit.
Warga bercengkerama sambil menikmati kopi sederhana di teras rumah. Tidak ada perbedaan antara tentara dan rakyat. Semua larut dalam suasana kekeluargaan yang tulus.
Dari kebersamaan itulah lahir kemanunggalan yang sesungguhnya.
TMMD mengajarkan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada senjata atau kekuasaan, tetapi pada persatuan dan kepedulian antar sesama anak bangsa.
Dan ketika waktu tiga puluh hari itu perlahan mendekati akhir, masyarakat mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Desa mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Jalan mulai terbuka. Rumah-rumah menjadi lebih layak. Air bersih mulai mengalir. Semangat gotong royong kembali hidup. Harapan yang dulu terasa jauh kini perlahan menjadi nyata.
Pada Kamis, 21 Mei 2026, TMMD Reguler Ke-128 resmi ditutup dalam sebuah upacara di Lapangan Bolakaki Desa Alue Canang.
Upacara berlangsung khidmat dan penuh haru.
Hadir dalam kegiatan tersebut Irdam Iskandar Muda Brigjen TNI Heri Purwanto, S.E., unsur Forkopimda, TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta warga Desa Alue Canang.
Di bawah langit Alue Canang yang cerah, deretan prajurit berdiri tegap. Sementara masyarakat memandangi mereka dengan rasa bangga dan haru yang sulit diungkapkan.
Dalam amanatnya, Brigjen TNI Heri Purwanto, S.E. menegaskan bahwa TMMD merupakan bentuk nyata sinergi antara TNI, pemerintah daerah, Polri, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan desa serta memperkuat semangat gotong royong dan wawasan kebangsaan.
“Program ini tidak hanya membangun fisik desa, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, cinta tanah air, dan bela negara.
Pembangunan ini diharapkan memberi manfaat nyata dan mendorong kemajuan desa secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Kalimat itu bukan sekadar sambutan seremonial. Ia adalah refleksi dari apa yang benar-benar terjadi selama TMMD berlangsung di Alue Canang.
Sebagai Dansatgas TMMD Ke-128 Kodim 0104/Aceh Timur, saya menyadari bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu pihak semata.
Keberhasilan TMMD lahir dari kebersamaan.
Ia lahir dari ketulusan masyarakat yang rela bergotong royong demi kemajuan desanya.
Ia lahir dari dukungan pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait yang bekerja tanpa mengenal batas kewenangan. Ia lahir dari pengabdian prajurit TNI yang bekerja dengan hati demi rakyat.
TMMD telah mengajarkan bahwa membangun negeri tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Kadang, perubahan justru tumbuh dari desa kecil yang jauh di pedalaman.
Dari jalan yang diperkeras.
Dari rumah yang dibangun kembali.
Dari air bersih yang mulai mengalir.
Dari senyum warga yang kembali merekah.
Dan yang paling penting, dari harapan yang kembali hidup di hati masyarakat.
Desa Alue Canang hari ini mungkin masih sederhana. Namun di desa inilah kita melihat bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang beton dan bangunan.
Pembangunan sejati adalah tentang menghadirkan harapan bagi manusia.
TMMD Ke-128 memang telah selesai. Prajurit akan kembali ke satuan masing-masing. Alat berat akan meninggalkan desa. Lapangan yang dulu ramai akan kembali tenang.
Namun jejak pengabdian itu akan tetap tinggal.
Ia tinggal di jalan-jalan desa yang kini terbuka.
Ia tinggal di rumah-rumah yang kembali menghadirkan kehangatan.
Ia tinggal di sumber air yang mengalir membawa kehidupan.
Ia tinggal di senyum anak-anak yang kini berjalan lebih mudah menuju sekolah.
Dan ia tinggal di hati masyarakat Alue Canang yang kini meniti asa menuju masa depan yang lebih baik.
Karena sejatinya, membangun negeri bukan hanya tentang mendirikan bangunan.
Membangun negeri adalah tentang menumbuhkan harapan, menjaga kebersamaan, dan memastikan bahwa tidak ada rakyat yang berjalan sendirian.
Dan di sudut kecil pedalaman Aceh Timur bernama Alue Canang, harapan itu hari ini tumbuh dengan nyata.
Di tanah yang dulu sunyi, kini masa depan perlahan mulai berbicara. (*)
*) PENULIS adalah Dansatgas TMMD Ke-128 TA 2026 Kodim 0104/Aceh Timur.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Dua Model Kritik, Satu Pertanyaan yang Tak Dijawab |
|
|---|
| Hadirnya Negara dalam Tradisi Meugang |
|
|---|
| Abu di Lheue, Ulama dengan Pribadi Santun dan Mustajab Doa---Bagian 2 Habis |
|
|---|
| Kisah Abu di Lheue, Dirikan Dayah sebagai Benteng Melawan Paham Sesat---Bagian 1 |
|
|---|
| Kolegium di Persimpangan: Antara Regulasi Negara dan Otonomi Profesi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/serah-kunci-25052025.jpg)