Sabtu, 13 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan

Ini adalah bentuk pertama dari qurban sosial dalam skala institusional - pengorbanan eksklusivitas pengetahuan demi produktivitas kolektif

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Hari Raya Qurban - Idul Adha - di Aceh selalu hadir dengan wajah yang tertata rapi: masjid penuh, takbir panjang, hewan disembelih sesuai aturan, dan distribusi daging yang berlangsung seperti mekanisme sosial yang sudah stabil.

Secara ritual, tidak ada yang tampak gagal. Tetapi sejarah peradaban jarang tertarik pada ritual yang rapi.

Ia lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih tajam: apakah masyarakat yang sangat tertib secara simbolik juga mampu berubah secara struktural?

Di titik inilah muncul satu kegelisahan yang tidak nyaman: apakah Aceh benar-benar kekurangan nilai, atau justru terlalu nyaman dengan nilai yang tidak lagi diterjemahkan menjadi perubahan institusional?

Karena dalam sejarah panjang peradaban, yang membuat masyarakat tertinggal bukanlah ketiadaan moralitas, tetapi kegagalan mengubah moralitas menjadi sistem kerja yang efektif.

Baca juga: Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional

Konsep “qurban sosial” lahir dari ketegangan ini. Ia adalah cara membaca ulang makna pengorbanan sebagai sesuatu yang tidak berhenti di altar ritual, tetapi masuk ke dalam struktur sosial.

Qurban sosial berarti kesediaan kolektif untuk mengorbankan kebiasaan yang sudah membeku menjadi budaya, bahkan ketika kebiasaan itu terasa benar, normal, dan tidak dipertanyakan lagi.

Ia tidak berbicara tentang mengorbankan identitas, tetapi mengorbankan inefisiensi yang telah disakralkan oleh kebiasaan.

Paradoks Identitas dan Perubahan

Dengan kata lain, qurban sosial adalah momen ketika sebuah masyarakat berani berkata - tidak semua yang kita lakukan hari ini masih layak dipertahankan besok.

Aceh memiliki modal yang secara historis sangat kuat: identitas keislaman yang dalam, struktur adat yang masih hidup, serta pengalaman panjang menghadapi krisis dan rekonstruksi.

Baca juga: Ribuan Warga Tumpah Ruah Saksikan Pawai Takbir Idul Adha di Aceh Besar

Tetapi justru dalam kekuatan itu tersimpan paradoks. Semakin kuat identitas simbolik suatu masyarakat, semakin besar kemungkinan ia menganggap perubahan sebagai ancaman terhadap dirinya sendiri.

Padahal dalam kenyataan sejarah, ancaman terbesar bukanlah perubahan, tetapi stagnasi yang tidak disadari.

Jika kita jujur, banyak hambatan kemajuan di Aceh tidak bersifat misterius.

Ia terlihat dalam bentuk yang sangat konkret: proses birokrasi yang panjang tetapi dianggap normal, keputusan publik yang lambat tetapi tidak pernah benar-benar ditantang, serta budaya kerja yang lebih menghargai prosedur sosial daripada hasil nyata.

Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah masalah budaya institusional.

Baca juga: Khutbah Idul Adha di Suak Raya, Khatib Ajak Ayah “Sembelih Ego”

Qurban sosial memaksa kita untuk melihat bahwa sebagian dari apa yang kita sebut “kearifan” sebenarnya adalah mekanisme mempertahankan status quo.

Tidak semua tradisi memperkuat kemajuan; sebagian justru melindungi inefisiensi dari kritik. Dan dalam banyak masyarakat, hal ini menjadi titik buta yang paling berbahaya: inefisiensi yang tidak lagi dianggap masalah.

Untuk memahami dinamika ini secara lebih dalam, kita bisa menarik cermin sejarah ke salah satu fase paling produktif dalam peradaban Islam klasik, yaitu masa Abbasiyah.

Pada periode ini, dunia Islam tidak hanya berkembang secara politik, tetapi juga mengalami transformasi intelektual dan ekonomi yang sangat besar.

Namun yang sering diabaikan adalah bahwa transformasi ini tidak terjadi secara spontan. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan yang secara sosial tidak selalu nyaman, bahkan sering kali kontroversial pada masanya.

Baca juga: Meunasah Al-Bayan Aceh Barat Sembelih 22 Hewan Kurban, Warga Kompak Bergotong Royong

Salah satu perubahan paling mendasar adalah munculnya institusi pengetahuan yang terstruktur melalui Baitul Hikmah.

Di sini, pengetahuan tidak lagi bergantung pada otoritas individual atau hafalan personal semata, tetapi diorganisasi dalam bentuk sistem yang memungkinkan reproduksi, kritik, dan pengembangan.

Ini adalah bentuk pertama dari qurban sosial dalam skala institusional - pengorbanan eksklusivitas pengetahuan demi produktivitas kolektif.

Perubahan ini tidak netral. Ia menggeser struktur otoritas. Ia mengubah siapa yang berhak menentukan pengetahuan sah, bagaimana ilmu disebarkan, dan siapa yang memiliki akses terhadapnya.

Baca juga: Korem 011/Lilawangsa Sembelih 11 Ekor Hewan Kurban

Dalam setiap masyarakat, perubahan seperti ini selalu menimbulkan resistensi, karena ia menyentuh sumber kekuasaan yang tidak selalu tampak: monopoli atas informasi.

Lapisan kedua dari transformasi Abbasiyah adalah keterbukaan terhadap pengetahuan asing. Dunia Islam pada masa itu tidak tumbuh dalam isolasi intelektual.

Sebaliknya, ia secara aktif menyerap, menerjemahkan, dan mengembangkan tradisi Yunani, Persia, dan India. Filsafat, matematika, kedokteran, dan astronomi tidak ditolak, tetapi diolah ulang dalam kerangka peradaban baru.

Ini adalah bentuk qurban sosial yang lebih tajam: pengorbanan rasa superioritas budaya demi keunggulan intelektual. Banyak peradaban gagal melakukan ini.

Baca juga: Warga Meunasah Krueng Qurbankan 14 Sapi dan 10 Kambing, Sasar 972 Kepala Keluarga

Mereka lebih memilih rasa aman dalam batas identitasnya sendiri daripada risiko keterbukaan.

Namun sejarah menunjukkan pola yang keras: masyarakat yang menutup diri dari pengetahuan luar bukan hanya berhenti berkembang, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami dunia yang berubah di sekitarnya.

Lapisan ketiga adalah reformasi ekonomi dan administrasi. Standarisasi mata uang seperti dinar dan dirham, penguatan sistem fiskal, serta integrasi perdagangan lintas wilayah menciptakan fondasi ekonomi yang jauh lebih stabil.

Baca juga: VIDEO - Detik-detik Sapi Kurban Ngamuk di Indramayu, Motor Warga Berjatuhan

Namun ini juga berarti pengorbanan terhadap fragmentasi lokal yang sebelumnya nyaman. Sistem yang lebih besar selalu menuntut disiplin yang lebih tinggi, dan disiplin selalu memiliki biaya sosial.

Jika tiga lapisan ini digabung - institusi ilmu, keterbukaan intelektual, dan integrasi ekonomi - kita menemukan satu pola yang konsisten: kemajuan hanya terjadi ketika sebuah masyarakat berani melakukan seleksi terhadap dirinya sendiri.

Tidak semua yang lama dipertahankan, dan tidak semua yang baru ditolak. Yang menentukan adalah apakah sistem masih mampu menghasilkan masa depan.

Institusi vs Ketergantungan Individu

Sekarang, jika pola ini dibawa ke Aceh hari ini, pertanyaannya menjadi jauh lebih konkret dan tidak bisa dihindari.

Apakah kita berani membangun institusi yang lebih kuat daripada ketergantungan pada individu?

Apakah pendidikan kita benar-benar dirancang untuk menghasilkan kapasitas, atau hanya untuk mengulang formalitas?

Baca juga: Blackout PLN, Alarm Kemandirian Energi

Apakah birokrasi kita dirancang untuk melayani, atau untuk mempertahankan kenyamanan internalnya sendiri?

Qurban sosial tidak memberi ruang untuk jawaban yang nyaman. Ia memaksa kita mengakui bahwa sebagian hambatan kemajuan bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam struktur sosial itu sendiri.

Dan pengakuan ini adalah langkah pertama yang sering paling sulit, karena ia mengganggu narasi yang sudah mapan.

Dalam kisah Nabi Ibrahim, pengorbanan selalu berada pada titik paling ekstrem dari keterikatan manusia.

Baca juga: Viral Lagu “Mas Bahlil Ganteng My Little Bolu Ketan”, Golkar Sebut Bentuk Kreativitas Netizen

Namun jika dibaca secara sosial, pelajarannya menjadi lebih luas: setiap masyarakat yang ingin berkembang harus berani menguji ulang apa yang dianggap “tidak boleh disentuh”. Biasanya, di situlah stagnasi bersembunyi.

Aceh tidak kekurangan wacana tentang kemajuan. Yang sering kurang adalah keberanian untuk menyentuh struktur yang membuat kemajuan itu sulit terjadi.

Dan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang menunda reformasi struktural hampir selalu membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari.

Baca juga: VIDEO - Meriah! Bupati Al-Farlaky Lepas Ribuan Peserta Pawai Takbir Iduladha 1447 H

Karena dalam dunia sosial, tidak ada stagnasi yang benar-benar diam. Ia hanya bergerak lebih lambat dari perubahan di sekitarnya, sampai akhirnya tertinggal tanpa disadari.

Qurban sosial pada akhirnya adalah pertanyaan yang sangat sederhana tetapi tidak nyaman: apakah kita benar-benar ingin maju, atau kita hanya ingin merasa seolah-olah kita sudah bergerak maju?

Dan seperti dalam setiap fase penting sejarah, jawaban atas pertanyaan itu tidak ditentukan oleh kata-kata, tetapi oleh apa yang benar-benar berani kita ubah.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
Live
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved