Rabu, 27 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan

Ini adalah bentuk pertama dari qurban sosial dalam skala institusional - pengorbanan eksklusivitas pengetahuan demi produktivitas kolektif

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Hari Raya Qurban - Idul Adha - di Aceh selalu hadir dengan wajah yang tertata rapi: masjid penuh, takbir panjang, hewan disembelih sesuai aturan, dan distribusi daging yang berlangsung seperti mekanisme sosial yang sudah stabil.

Secara ritual, tidak ada yang tampak gagal. Tetapi sejarah peradaban jarang tertarik pada ritual yang rapi.

Ia lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih tajam: apakah masyarakat yang sangat tertib secara simbolik juga mampu berubah secara struktural?

Di titik inilah muncul satu kegelisahan yang tidak nyaman: apakah Aceh benar-benar kekurangan nilai, atau justru terlalu nyaman dengan nilai yang tidak lagi diterjemahkan menjadi perubahan institusional?

Karena dalam sejarah panjang peradaban, yang membuat masyarakat tertinggal bukanlah ketiadaan moralitas, tetapi kegagalan mengubah moralitas menjadi sistem kerja yang efektif.

Baca juga: Prabowo dan The Economist: Indonesia dan Siklus Optimisme - Kewaspadaan Versi Media Internasional

Konsep “qurban sosial” lahir dari ketegangan ini. Ia adalah cara membaca ulang makna pengorbanan sebagai sesuatu yang tidak berhenti di altar ritual, tetapi masuk ke dalam struktur sosial.

Qurban sosial berarti kesediaan kolektif untuk mengorbankan kebiasaan yang sudah membeku menjadi budaya, bahkan ketika kebiasaan itu terasa benar, normal, dan tidak dipertanyakan lagi.

Ia tidak berbicara tentang mengorbankan identitas, tetapi mengorbankan inefisiensi yang telah disakralkan oleh kebiasaan.

Paradoks Identitas dan Perubahan

Dengan kata lain, qurban sosial adalah momen ketika sebuah masyarakat berani berkata - tidak semua yang kita lakukan hari ini masih layak dipertahankan besok.

Aceh memiliki modal yang secara historis sangat kuat: identitas keislaman yang dalam, struktur adat yang masih hidup, serta pengalaman panjang menghadapi krisis dan rekonstruksi.

Baca juga: Ribuan Warga Tumpah Ruah Saksikan Pawai Takbir Idul Adha di Aceh Besar

Tetapi justru dalam kekuatan itu tersimpan paradoks. Semakin kuat identitas simbolik suatu masyarakat, semakin besar kemungkinan ia menganggap perubahan sebagai ancaman terhadap dirinya sendiri.

Padahal dalam kenyataan sejarah, ancaman terbesar bukanlah perubahan, tetapi stagnasi yang tidak disadari.

Jika kita jujur, banyak hambatan kemajuan di Aceh tidak bersifat misterius.

Ia terlihat dalam bentuk yang sangat konkret: proses birokrasi yang panjang tetapi dianggap normal, keputusan publik yang lambat tetapi tidak pernah benar-benar ditantang, serta budaya kerja yang lebih menghargai prosedur sosial daripada hasil nyata.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved