Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Hari Raya Idul Adha Qurban: Bukti Cinta dan Pengorbanan terhadap Tuhan

Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan fondasi spiritual yang terus hidup dalam kesadaran umat Islam hingga hari ini.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
for serambinews/FOR SERAMBINEWS.COM
Kaipal Wahyudi, Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. 

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: apakah qurban dilakukan semata-mata karena perintah agama, atau karena cinta kepada Tuhan?

Secara lahiriah, qurban memang merupakan perintah agama yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Ia adalah ibadah yang dianjurkan, bahkan ditekankan bagi mereka yang mampu.

Namun jika hanya berhenti pada pemahaman “perintah”, maka qurban akan terasa sebagai kewajiban yang kering, sekadar rutinitas tahunan tanpa ruh.

Padahal, dalam Islam, ketaatan sejati tidak lahir dari keterpaksaan, tetapi dari cinta. Nabi Ibrahim tidak hanya taat karena diperintah, tetapi karena ia mencintai Tuhan di atas segalanya.

Cinta itulah yang membuatnya mampu menjalankan perintah yang secara logika sangat berat.

Dalam kehidupan manusia, kita bisa melihat perbedaan antara melakukan sesuatu karena terpaksa dan karena cinta. Jika karena terpaksa, maka akan terasa berat, bahkan sering dihindari.

Tetapi jika karena cinta, maka pengorbanan justru terasa ringan, bahkan membahagiakan.

Qurban berada pada titik ini. Ia adalah perintah, tetapi juga ekspresi cinta. Ia adalah kewajiban spiritual, tetapi juga pilihan hati.

Ketika seseorang berqurban dengan penuh keikhlasan, maka ia tidak sedang kehilangan, tetapi justru sedang menemukan makna.

Dalam perspektif tasawuf, cinta kepada Tuhan adalah puncak dari segala bentuk ibadah. Qurban menjadi bukti konkret dari cinta itu. Ia bukan sekadar simbol, tetapi tindakan nyata yang menunjukkan bahwa Tuhan ditempatkan di atas segala hal.

Apa yang Sebenarnya Dikorbankan?

Banyak orang memahami qurban hanya sebatas penyembelihan hewan. Padahal, jika dilihat lebih dalam, yang dikorbankan jauh lebih besar dari itu.

Hewan qurban hanyalah simbol. Ia adalah representasi dari sesuatu yang lebih dalam dalam diri manusia. Yang sesungguhnya dikorbankan adalah ego, keserakahan, kesombongan, dan keterikatan berlebihan terhadap dunia.

Setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing. Bisa berupa harta yang sangat dicintai, jabatan yang sulit dilepaskan, ambisi yang menguasai diri, atau bahkan ego yang membuatnya sulit menerima kebenaran.

Qurban mengajarkan bahwa semua itu harus ditempatkan di bawah cinta kepada Tuhan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved