Kamis, 28 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Hari Raya Idul Adha Qurban: Bukti Cinta dan Pengorbanan terhadap Tuhan

Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan fondasi spiritual yang terus hidup dalam kesadaran umat Islam hingga hari ini.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
for serambinews/FOR SERAMBINEWS.COM
Kaipal Wahyudi, Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. 

Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya untuk berqurban, ia sedang melatih dirinya untuk tidak diperbudak oleh harta.

Ketika ia berbagi dengan orang lain, ia sedang membersihkan hatinya dari sifat kikir. Ketika ia melaksanakan qurban dengan ikhlas, ia sedang menundukkan egonya.

Dalam makna yang lebih luas, qurban adalah proses penyucian diri. Ia adalah latihan spiritual untuk menjadi manusia yang lebih bersih hatinya, lebih ringan jiwanya, dan lebih dekat dengan Tuhan.

Bahkan dalam tradisi sufistik, qurban dipahami sebagai “penyembelihan diri” dalam arti simbolik, menyembelih sifat-sifat buruk yang menghalangi manusia dari Tuhan. Ini adalah perjalanan batin yang tidak mudah, tetapi sangat penting dalam kehidupan spiritual.

Qurban dalam Kehidupan Hari Ini

Jika dikaitkan dengan kehidupan modern, makna qurban justru semakin relevan. Hari ini, manusia hidup dalam dunia yang sangat sibuk. Waktu terasa sempit, pekerjaan menumpuk, dan perhatian sering terpecah ke banyak hal.

Dalam kondisi seperti ini, hubungan dengan Tuhan sering kali menjadi nomor sekian. Ibadah dilakukan sekadarnya, bahkan terkadang hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Manusia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk dunia daripada untuk Tuhan.

Di sinilah qurban hadir sebagai pengingat.

Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan membutuhkan pengorbanan. Bukan hanya pengorbanan harta, tetapi juga waktu, perhatian, dan kesungguhan.

Qurban hari ini tidak hanya berarti menyembelih hewan.

Ia juga bisa berarti meluangkan waktu untuk beribadah di tengah kesibukan, mengurangi ketergantungan pada hal-hal yang tidak penting, dan lebih peduli terhadap sesama.

Dalam dunia yang penuh dengan distraksi, media sosial, ambisi karier, gaya hidup konsumtif, manusia sering kehilangan arah.

Qurban mengajak manusia untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan bertanya: apa yang sebenarnya paling penting dalam hidup ini?

Lebih jauh lagi, qurban juga mengajarkan nilai sosial yang sangat kuat. Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial, qurban menjadi sarana untuk berbagi. Ia mengingatkan bahwa dalam setiap rezeki yang kita miliki, ada hak orang lain.

Dalam konteks Aceh, nilai ini sangat terasa. Tradisi seperti meugang, gotong royong dalam penyembelihan, hingga makan bersama dalam kuah beulangong menunjukkan bahwa qurban bukan hanya ibadah individual, tetapi juga pengalaman sosial yang memperkuat kebersamaan.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved