KUPI BEUNGOH
Americano No, Acehpungono Yes
Setelah perjalanan sejarah begitu panjang, kopi Aceh masih harus minggir di tanahnya sendiri, memberi panggung kepada Americano dan Cappuccino.
Ini seperti orang datang mencari kuah beulangong, tetapi diberi beef stew continental. Memesan martabak Aceh, tapi yang dihidang Pizza Hut.
Order manok goreng, yang disuguhkan KFC. Atau mencari mie Aceh, tetapi disodori spicy noodle fusion with local soul. Jiwa lokalnya ada, tetapi namanya seperti sedang ikut tes TOEFL dan IELTS.
Orangnya Aceh Pungo, Kopinya Acehpungono
Nama Acehpungono tidak datang dari ruang hampa. Ia bermain-main dengan ingatan lama tentang Aceh Pungo, sebutan kolonial Belanda bagi keberanian ekstrem pejuang Aceh dalam Perang Aceh.
Dalam catatan Belanda, fenomena itu dikenal sebagai Atjeh Moorden: serangan nekat seorang pejuang Aceh terhadap serdadu kolonial, sering seorang diri, sering bersenjata rencong, dan sering pula berakhir mati.
Belanda menyebutnya “gila”. Orang Aceh membacanya sebagai marwah. Bukan gila tanpa akal, melainkan gila berani, gila melawan, gila menolak tunduk.
Dalam sejarah perang melawan kaphe Belanda, keberanian itu dibakar oleh keyakinan agama. Perang dipahami sebagai jihad membela agama, tanah, dan martabat. Mati di jalan itu diyakini sebagai syahid.
Dalam bahasa maqashid syariah, membela agama dan menjaga kehormatan hidup bukan urusan pinggir; ia bagian dari cara sebuah masyarakat mempertahankan makna keberadaannya.
Karena itulah Aceh melahirkan banyak nama besar. Ada Teuku Umar, Teuku Nyak Arief, Daud Beureueh, dan banyak pejuang lain.
Ada pula perempuan-perempuan yang menyala: Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan Pocut Baren. Malahayati bahkan dikenal sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia, pemimpin pasukan Inong Balee, pasukan janda perang yang membela kehormatan Aceh di laut.
Jauh sebelum kata emansipasi rajin muncul di seminar hotel, Aceh sudah punya perempuan yang memimpin armada.
Sejarah Aceh juga mengenal perempuan di singgasana. Ada Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Sultanah Inayat Zakiatuddin Syah, dan Sultanah Kamalatuddin Syah.
Lebih tua lagi, Sultanah Nahrasiyah dari Samudera Pasai memimpin pada abad ke-15, saat kerajaan Islam itu menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara.
Jadi, kalau bicara keberanian, Aceh tidak hanya punya lelaki bersenjata rencong. Aceh juga punya perempuan yang memegang kuasa, memimpin perang, menjaga negeri, dan membuat sejarah tidak terlalu maskulin.
Nah, sejarah sebesar itu masa tidak sanggup melahirkan satu nama kopi?
Menu yang Punya Nyali
Di sinilah Kupi Acehpungono perlu diseduh. Bukan kopi untuk membuat orang nekat membawa rencong.
kopi
Aceh
kopi aceh
gayo
Kopi Gayo
Serambinews.com
Serambi Indonesia
M Shabri Abd Majid
sejarah kopi aceh
Aceh Pungo
cita rasa kopi aceh
| Kebohongan Akademik Mengancam Keselamatan Pasien |
|
|---|
| Ironi Wisata Musiman Suak Gedeubang: Cuan UMKM Melejit, Sampah Melangit |
|
|---|
| Tradisi ‘Pemamanen’ dalam Khitanan Anak Laki-Laki Alas Mulai Jarang Dikenal Generasi Muda |
|
|---|
| Aktivitas Fisik: Kunci Lansia Tetap Mandiri |
|
|---|
| Idul Adha dan Makna Pengorbanan: Jalan Menuju Kebersamaan untuk Aceh yang Bermartabat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Profesor-M-Shabri-A-Majid-Guru-Besar-Ekonomi-Islam-USK-Banda-Aceh.jpg)