Minggu, 31 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Americano No, Acehpungono Yes

Setelah perjalanan sejarah begitu panjang, kopi Aceh masih harus minggir di tanahnya sendiri, memberi panggung kepada Americano dan Cappuccino.

Tayang:
KOLASE SERAMBINEWS.COM
M SHABRI A MAJID adalah M SHABRI A MAJID adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

Bukan pula kopi untuk membuat orang berkelahi setelah rebutan parkir di depan warkop.

Kupi Acehpungono adalah kopi keberanian simbolik: keberanian menamai diri sendiri, menjual identitas sendiri, dan membuat Americano sedikit minder di tanah Aceh.

Bayangkan penikmat kopi dari luar Aceh masuk warkop dan membaca menu: Kupi Acehpungono. Ia pasti bertanya, “Ini kopi apa?”

Nah, saat itulah cerita Aceh mulai bekerja. Barista bisa menjawab, “Ini kopi untuk orang yang ingin sedikit lebih berani. Tidak harus melawan Belanda. Minimal berani bayar sebelum pulang.”

Bisa dibuat banyak varian: Acehpungono Original, Acehpungono Sanger, Acehpungono Gayo, Acehpungono Tarik, Acehpungono Khop, Acehpungono Pancung, Acehpungono Boh Manok Weng, Acehpungono Endatu, bahkan Acehpungono Duduk Lama Bayar Satu.

Yang terakhir ini berbahaya bagi arus kas, tetapi sangat dekat dengan realitas sosial Aceh.

Kopi bukan hanya rasa. Kopi adalah cerita. Sebelum lidah mencicipi, telinga lebih dulu membaca nama. Americano membawa bayangan Amerika. Cappuccino membawa Italia.

Kopi Gayo membawa kabut, kebun, petani, dan tanah tinggi. Kupi Acehpungono membawa sesuatu yang lebih nakal: sejarah perlawanan, humor lokal, marwah, dan rasa ingin tahu.

Inilah yang sering hilang dari warkop modern: keberanian menamai. Semua ingin terdengar global. Semua ingin terasa kafein internasional.

Padahal keunikan lahir bukan dari meniru, melainkan dari berani menjadi diri sendiri. Kalau semua kedai menjual Americano, Latte, dan Cappuccino, lalu apa bedanya warkop Aceh dengan kafe di bandara internasional?

Jangan sampai kopi Aceh menjadi bahan baku premium, tetapi nama yang dipajang tetap nama impor.

Jangan sampai petani Gayo menanam kopi, barista Aceh meracik kopi, penikmat Aceh menyeruput kopi, tetapi yang naik panggung tetap Americano. Itu bukan hilirisasi kopi. Itu hilirisasi rasa minder.

Yang Pahit Boleh, yang Minder Jangan

Kupi Acehpungono bisa menjadi provokasi kecil bagi ekonomi kreatif Aceh. Pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kopi, kampus, dan pemilik warkop bisa menjadikannya gerakan budaya. Buat festival Kupi Acehpungono.

Bikin lomba racikan Acehpungono. Tulis cerita singkat Aceh Pungo di balik menu. Sertakan asal biji kopi, petani, proses sangrai, dan cara seduh. Jangan hanya menjual kafein. Jual juga sejarah, humor, keberanian, dan sedikit kenakalan yang sehat.

Penikmat kopi luar Aceh, bahkan wisatawan internasional, tidak datang hanya untuk minum kopi yang namanya bisa ditemukan di mana-mana.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved