Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Artificial Intelligence dan Martabat Publikasi Ilmiah yang Tercoreng

Di tangan yang benar, Artificial Intelligence menjadi asisten riset. Di tangan yang salah, ia berubah menjadi mesin pembuat kredibilitas palsu.

Tayang:
Serambinews.com/HO/Tidak Ada
M SHABRI ABG MAJID adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Pada 17–21 Mei 2026, nama Indonesia tercoreng di Kopenhagen. Dalam International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD), mencuat dugaan riset palsu yang melibatkan warga negara Indonesia: identitas berbeda, nama presentasi yang tidak konsisten, klaim data primer dari Andes tanpa kolaborator lokal, hingga judul-judul bertabur istilah AI atau Artificial Intelligencemachine learning, satellite climate, transcriptomics, dan mathematical modeling.

Kasus ini adalah alarm keras bagi publikasi ilmiah kita. Kebohongan akademik kini tidak selalu datang sebagai plagiarisme kasar. Ia bisa tampil rapi, fasih, dan canggih; memakai bahasa Inggris yang bersih, abstrak yang meyakinkan, serta istilah Artificial Intelligence yang berkilau.

Di tangan yang salah, Artificial Intelligence (AI) bukan asisten riset, melainkan mesin pembuat ilusi: membuat yang palsu tampak metodologis, yang kosong terdengar mutakhir, dan yang tidak pernah dikerjakan seolah pantas naik ke forum dunia.

Karena itu, perdebatan kita bukan lagi boleh atau tidak boleh memakai AI (Artificial Intelligence).

Pertanyaan yang lebih genting ialah: di mana batas bantuan teknologi sebelum ia merampas tanggung jawab ilmuwan?

Publikasi ilmiah bukan pabrik kalimat. Ia adalah ikrar moral bahwa data, metode, argumen, dan kesimpulan telah dipikirkan, diuji, dan berani dipertanggungjawabkan.

Asisten, Bukan Pengarang

AI paling tepat ditempatkan sebagai asisten teknis, bukan pengarang intelektual. Ia dapat membantu memperbaiki bahasa, menata struktur, menyusun ringkasan awal, memperjelas abstrak, dan memberi ruang lebih adil bagi penulis non-penutur asli bahasa Inggris.

Dalam batas ini, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna. Namun, ketika AI dipakai untuk menciptakan kesan ilmiah tanpa data, tanpa metode yang dapat diperiksa, dan tanpa tanggung jawab penulis, ia berubah dari alat bantu menjadi alat penyamaran.

Artikel di American Chemical Society Nano (ACS Nano) mencatat bahwa AI dapat membantu mengurai kebuntuan menulis, memberi perspektif tambahan, mengingatkan aspek yang terlewat, serta membantu penyusunan judul, abstrak, dan kesimpulan.

Namun, peringatannya juga keras: AI tidak memahami informasi baru, tidak menghasilkan analisis mendalam, dan tidak dapat menggantikan kreativitas ilmiah manusia.

Keluaran AI bisa rapi, tetapi dangkal; fasih, tetapi salah; meyakinkan, tetapi berisi rujukan palsu (Buriak et al., 2023).

Di sinilah garis etik pertama harus ditarik. AI boleh membantu tangan, tetapi tidak boleh mengambil alih kepala. Ia boleh merapikan bahasa, tetapi tidak boleh menggantikan nalar.

Ia boleh memberi saran, tetapi tidak boleh menjadi sumber teori, interpretasi, atau kesimpulan tanpa verifikasi manusia.

Hosseini et al. (2024) mengingatkan bahwa sistem bahasa berbasis AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak cerdas, tetapi juga keliru, tidak relevan, bias, dan gagal memahami hubungan antara bahasa dan kebenaran faktual.

Dalam dunia ilmiah, kalimat indah tanpa verifikasi hanyalah kabut yang memakai jas laboratorium.

Karena itu, AI tidak dapat menjadi penulis. Nama penulis adalah tanda tanggung jawab, bukan sekadar tanda produksi teks.

Penulis harus mampu menjelaskan data, mempertahankan metode, menjawab kritik, mengakui kesalahan, dan memikul konsekuensi etis dari naskahnya. AI tidak memiliki kesadaran moral untuk semua itu.

Baca juga: Artificial Intelligence, Antara Ancaman dan Kemudahan

Deklarasi, Bukan Ketakutan

Penerbit besar dunia pada dasarnya tidak sedang memusuhi Artificial Intelligence. Mereka sedang menata adabnya.

Elsevier, misalnya, membolehkan penggunaan AI untuk menyintesis literatur, mengorganisasi isi, memperbaiki bahasa, dan meningkatkan keterbacaan.

Namun, Artificial Intelligence tidak boleh menggantikan pemikiran kritis, keahlian, dan evaluasi manusia. Penulis tetap wajib meninjau, memverifikasi, menyunting, dan bertanggung jawab atas seluruh isi naskah (Elsevier, 2025).

Sikap ini lebih matang daripada sekadar melarang. Sebagian jurnal kecil masih terlalu kaku, seolah naskah yang disentuh AI otomatis kehilangan martabat ilmiah.

Padahal yang merusak bukan AI sebagai alat, melainkan AI yang disembunyikan, tidak diperiksa, dan dipakai untuk menutupi kemalasan berpikir. Yang perlu dijaga bukan kemurnian palsu dari alat bantu, melainkan kejujuran proses dan akuntabilitas penulis.

Dalam soal deklarasi, Resnik dan Hosseini (2026) menawarkan batas yang lebih proporsional. Penggunaan AI sebaiknya wajib diungkap ketika disengaja dan substansial, misalnya untuk menghasilkan isi, menganalisis data, membuat gambar, menyusun interpretasi, atau memengaruhi kesimpulan.

Sebaliknya, penggunaan ringan untuk ejaan, tata bahasa, atau perbaikan kejelasan kalimat tidak perlu diperlakukan sebagai pelanggaran besar.

Elsevier juga meminta penggunaan AI yang relevan dinyatakan melalui AI declaration statement, mencakup nama alat, tujuan penggunaan, dan tingkat pengawasan penulis. 

Pemeriksaan dasar ejaan, tata bahasa, dan tanda baca tidak perlu dideklarasikan. Namun, jika AI masuk ke proses riset, penggunaannya harus dijelaskan di bagian metode bila relevan.

Maka, yang dibutuhkan bukan fobia teknologi, melainkan kejujuran yang terukur.

Deklarasi sederhana sudah cukup: “Dalam penyusunan naskah ini, penulis menggunakan [nama alat] untuk penyuntingan bahasa dan peningkatan kejelasan.

Penulis telah membaca, merevisi, dan bertanggung jawab penuh atas isi akhir naskah.” Kalimat seperti ini bukan tanda kelemahan. Justru ia menunjukkan kedewasaan akademik.

Jangan Serahkan Nalar

Kasus Kopenhagen menunjukkan satu hal penting: AI tidak menciptakan kecurangan akademik dari nol, tetapi dapat mempercepat dan mempercantik bentuk-bentuk lama kecurangan.

Fabrikasi data, manipulasi identitas, afiliasi palsu, metode fiktif, dan klaim riset yang tidak dapat diverifikasi kini bisa dibungkus dalam bahasa yang lebih rapi dan istilah yang lebih meyakinkan.

Larangan paling penting adalah membiarkan AI menggantikan kerja ilmiah.

AI tidak boleh dipakai untuk menciptakan data palsu, memperindah hasil, menyamarkan kelemahan metode, atau menulis analisis yang tidak dipahami penulisnya sendiri.

Jika AI digunakan untuk analisis data, pembuatan kode, pengolahan gambar, atau klasifikasi teks, prosesnya harus dapat dijelaskan dan diaudit.

Journal of Medical Internet Research (JMIR) menekankan tiga prinsip penting dalam penggunaan AI: akuntabilitas, transparansi, dan kerahasiaan.

Penulis harus memeriksa fakta, memastikan referensi tidak palsu, tidak mencantumkan AI sebagai ko-penulis, dan menjelaskan penggunaan AI bila berdampak pada isi naskah. 

Penelaah dan editor pun tidak boleh mengorbankan kerahasiaan naskah ketika memakai AI dalam proses evaluasi (Leung et al., 2023).

Artikel American Chemical Society Energy Letters (ACS Energy Letters) mengingatkan bahwa AI dapat mengubah publikasi ilmiah secara mendasar.

Ia membuka peluang baru dalam pencarian literatur dan perumusan ide, tetapi juga dapat mempercepat lahirnya naskah ilmiah semu, artikel serial, dan sistem paper mills yang tampak rapi secara bahasa, tetapi kosong secara intelektual (Grimaldi & Ehrler, 2023).

Inilah bahaya zaman baru: kebohongan tidak lagi datang dengan wajah kasar. Ia bisa datang dengan abstrak yang tertata, metodologi yang terdengar meyakinkan, dan kalimat yang bersih. Namun, teks yang lancar tetapi tidak dipikirkan tetaplah kosong. Artikel yang indah tetapi tidak bertanggung jawab tetaplah rapuh.

Kajian di Journal of Korean Medical Science menunjukkan dua wajah AI dalam publikasi.

AI dapat membantu pencarian literatur, analisis data, manajemen sitasi, pemeriksaan bahasa, pemilihan jurnal, bahkan deteksi manipulasi gambar dan paper mills.

Namun, manfaat itu berjalan bersama risiko bias, distorsi, irrelevansi, misrepresentasi, plagiarisme, naskah fabrikatif, dan referensi palsu (Koçak, 2024).

Karena itu, AI tidak boleh menjadi topeng akademik. Ia tidak boleh membuat penulis tampak memahami sesuatu yang sebenarnya tidak ia kuasai.

Ia tidak boleh menjadi mesin pembuat legitimasi palsu. Ilmu yang lahir dari kabut seperti itu mungkin tampak bersih di permukaan, tetapi rapuh ketika disentuh pertanyaan kritis.

Adab Baru Publikasi

Dari praktik terbaik penerbit dan jurnal besar, ada beberapa batas yang patut dipegang. Pertama, AI boleh digunakan, tetapi tanggung jawab tetap berada pada manusia.

Kedua, AI tidak boleh menjadi penulis, karena kepengarangan menuntut akuntabilitas moral dan ilmiah. Ketiga, penggunaan AI yang substansial harus dideklarasikan secara jujur. 

Keempat, seluruh keluaran AI wajib diperiksa, sebab bahasa yang rapi belum tentu benar. Kelima, AI tidak boleh dipakai untuk membuat data palsu, gambar manipulatif, atau naskah semu.

Keenam, kerahasiaan manuskrip, data, dan proses peer review harus dijaga. Ketujuh, alat pendeteksi AI tidak boleh menjadi hakim tunggal, sebab ia dapat menghasilkan false positive dan false negative.

AI tidak perlu dimusuhi, tetapi juga tidak boleh disembah. Ia bukan dosa akademik, tetapi bisa menjadi pintu pelanggaran bila digunakan tanpa etika.

Ia bukan pengganti ilmuwan, melainkan cermin: dapat membantu, dapat pula menipu, tergantung siapa yang memegangnya.

Pada akhirnya, martabat publikasi ilmiah tidak ditentukan oleh seberapa canggih alat yang dipakai, tetapi oleh seberapa jujur manusia yang menulisnya.

AI boleh mempercepat kalimat, tetapi tidak boleh menggantikan keberanian berpikir. Ia boleh membantu menyusun bahasa, tetapi gagasan, tanggung jawab, dan kejujuran tetap harus lahir dari manusia.

Di tangan yang benar, AI menjadi asisten riset. Di tangan yang salah, ia berubah menjadi mesin pembuat kredibilitas palsu.

*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved