Kupi Beungoh
Rupiah Jatuh karena Ikut Kabur
Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026.
Data exchange rate International Monetary Fund memberi pesan serupa. Rupiah bergerak dari sekitar Rp16.162 per dolar AS pada akhir 2024 menjadi Rp16.782 pada akhir 2025, lalu melemah ke sekitar Rp17.789 pada Mei 2026.
Dalam hitungan kasar, rupiah kehilangan sekitar 10 persen nilainya sejak akhir 2024 dan sekitar 6 persen hanya dalam lima bulan pertama 2026. Ini bukan sekadar pelemahan kurs. Ini sinyal bahwa Indonesia sedang dibaca lebih rentan dibanding banyak negara sekitar.
Secara teori, gejala ini dekat dengan pendekatan portfolio balance dan risk premium. Investor tidak hanya mengejar bunga; mereka membaca risiko.
Ketika risiko fiskal, kelembagaan, dan arah kebijakan dianggap meningkat, investor meminta premi lebih tinggi atau memindahkan dana ke tempat yang lebih aman. Kalimatnya keras, tetapi datanya jelas: pasar tidak sekadar membeli dolar; pasar sedang menjual risiko Indonesia.
Rupiah Lebih Nyaman di Singapura
Dolar Singapura menjadi salah satu mata uang paling tangguh di ASEAN. Kuatnya bukan karena Singapura besar, tetapi karena ia dipercaya.
Ketika rupiah melemah, sebagian dana Indonesia justru lebih nyaman menyeberang ke negeri tetangga. Ini bukan sekadar cerita kurs. Ini cerita tentang rasa aman yang pindah alamat.
Data PPATK menunjukkan transfer dana dari Indonesia ke Singapura pada semester I/2024 mencapai Rp3.595,95 triliun, jauh di atas transfer ke Amerika Serikat sebesar Rp781,8 triliun dan China sebesar Rp466,1 triliun.
Dibanding semester I/2023 yang sekitar Rp1.249,5 triliun, lonjakannya mencapai 187,7 persen. Tentu tidak semua transfer itu berarti pelarian modal ilegal.
Singapura juga mitra bisnis dan sumber investasi penting bagi Indonesia. Tetapi angka sebesar itu tetap berbicara: banyak pemilik dana merasa Singapura lebih pasti untuk menyimpan, mengelola, dan memutar aset.
Secara sederhana, kurs bergerak mengikuti permintaan dan penawaran. Ketika permintaan terhadap rupiah turun, sementara permintaan terhadap dolar AS, dolar Singapura, atau valas lain naik, rupiah tertekan.
Ketika investor melepas aset rupiah, eksportir menahan devisa, masyarakat membeli valas untuk berjaga-jaga, dan dana domestik mencari parkiran yang lebih aman, pelemahan rupiah bukan misteri. Itu harga dari kepercayaan yang keluar.
Di sinilah kalimat “uang juga bisa kabur” menemukan bentuk paling nyata. Uang tidak hanya mengejar imbal hasil; uang mengejar ketenangan.
Singapura menawarkan apa yang sering mahal di negara berkembang: kepastian hukum, tata kelola, stabilitas politik, pasar keuangan yang dalam, dan kebijakan moneter yang kredibel.
Monetary Authority of Singapore bahkan menjadikan nilai tukar sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga. Pesannya terang: stabilitas dijaga, inflasi dikendalikan, kredibilitas tidak dinegosiasikan.
Karena itu, penguatan dolar Singapura terhadap rupiah bukan semata cerita tentang Singapura yang kuat. Ia juga cerita tentang Indonesia yang sedang digelisahkan. Pasar tidak membeli potensi; pasar membeli kepastian.
| Menyoal Kerugian Negara dari Praktik Under Invoicing SDA |
|
|---|
| Belajar Menjahit Sambil Kuliah: Kini Riki Punya Usaha Konveksi Sendiri |
|
|---|
| Belum Sembuh dari Corona, Membedah Trauma Kolektif Penonton Berita Hantavirus |
|
|---|
| Rp 1.620 Triliun untuk MBG, Mengapa Bukan untuk Menghidupkan Dapur Rakyat? |
|
|---|
| Sulaiman Tripa: Dari Pantee Raja ke Mimbar Profesor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)