Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Rupiah Jatuh karena Ikut Kabur  

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Indonesia punya pasar besar, sumber daya alam, bonus demografi, dan posisi geopolitik strategis. Tetapi potensi tanpa kredibilitas hanya menjadi brosur indah. Uang akan tinggal di tempat yang membuatnya tenang, bukan di tempat yang hanya memintanya percaya.

Rupiah Dihukum Risiko Domestik

Mata uang bukan sekadar angka ekonomi; ia adalah suara kepercayaan. Dalam teori nilai tukar modern, kurs tidak hanya digerakkan oleh inflasi, suku bunga, cadangan devisa, neraca perdagangan, atau pertumbuhan ekonomi. Kurs juga dibentuk oleh ekspektasi, persepsi risiko, dan keyakinan pasar.

Angka makro yang tampak rapi tetap bisa kalah jika arah kebijakan dianggap kabur.

Di situlah rupiah terluka. Pasar tidak hanya membaca data; pasar membaca gelagat. Belanja negara yang makin ambisius, beban subsidi energi, defisit yang mendekati batas psikologis, proyek besar seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, Danantara, serta perdebatan independensi Bank Indonesia membentuk satu keraguan: apakah kebijakan ekonomi Indonesia masih disiplin, transparan, dan dapat dipercaya?

Program-program itu tidak otomatis salah. Tetapi pasar tidak menilai niat; pasar menilai risiko. Dari mana uangnya? Siapa menanggung bebannya? Seberapa bersih tata kelolanya?

Apakah ia memperkuat produktivitas, atau justru membuka lubang fiskal baru? Ketika program besar dibayangi dugaan mark-up, jual beli titik dapur, kontroversi figur pengelola, dan pertanyaan transparansi, rupiah ikut menanggung diskonnya.

Titik paling sensitif tetap Bank Indonesia. Pasar tidak hanya bertanya berapa suku bunga hari ini, tetapi siapa yang sebenarnya memegang setir kebijakan moneter.

Isu burden sharing, mandat tambahan untuk menopang pertumbuhan, dan kekhawatiran intervensi politik melahirkan pertanyaan tajam: apakah BI masih penjaga stabilitas, atau mulai digeser menjadi kasir fiskal negara? Rupiah tidak hanya butuh intervensi; rupiah butuh penjaga yang dipercaya bebas dari tekanan politik.

Maka tekanan kurs bukan lagi sekadar cerita dolar, minyak, atau perang. Itu hanya angin dari luar. Yang membuat rupiah mudah goyah adalah fondasi kepercayaan di dalam negeri yang retak. Rupiah tidak hanya dihukum karena defisit transaksi berjalan atau mahalnya impor energi. Rupiah dihukum karena defisit yang lebih dalam dan lebih mahal: defisit kepercayaan.

Jangan Salahkan Dolar, Benahi Rumah Sendiri

Rupiah tidak akan pulang hanya karena dolar disalahkan. Minyak, perang, dan gejolak global memang memberi tekanan, tetapi bangsa yang serius tidak merawat alasan. Tim besar yang kalah tidak terus memaki wasit, hujan, atau rumput lapangan.

Ia menonton ulang permainan, mengakui lubang pertahanan, lalu membenahi diri. Negara juga begitu. Jika rupiah jatuh lebih dalam daripada tetangga, yang pertama harus diperiksa adalah rumah sendiri.

Pasar tidak kekurangan pernyataan; pasar kekurangan keyakinan. Karena itu, pemerintah harus membangun ulang disiplin fiskal, kepastian hukum, tata kelola program besar, transparansi belanja, kredibilitas Danantara, dan independensi Bank Indonesia. Rupiah tidak butuh slogan agar dicintai. Rupiah butuh alasan agar dipercaya.

Jalan pulang rupiah adalah kredibilitas. Pangkas pemborosan, tutup celah rente, jelaskan pembiayaan program prioritas, jaga Bank Indonesia dari tarikan politik, dan pastikan belanja negara melahirkan produktivitas, bukan sekadar panggung kekuasaan. Uang tidak bisa dimarahi agar tinggal. Ia hanya bisa diyakinkan.

Pada akhirnya, tugas pemerintah bukan sekadar menahan rupiah agar tidak jatuh, tetapi membuat Indonesia layak menjadi rumahnya kembali. Jika rumah ini rapi, pasti, dan dipercaya, rupiah tidak perlu dipanggil pulang. Ia akan tahu sendiri jalan pulangnya.

 

Penulis adalah Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Email: mshabri@usk.ac.id

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved