Pojok Budaya
Belajar Menulis Hikayat dari Teks Latin, Aslinya Masih Terkunci
Sumber yang tersedia adalah teks hikayat dalam aksara Latin. Dari sana saya mulai belajar kaidah: buhu dan pakhôk.
Saya ingin membaca dari tulisan aslinya. Langsung dari Jawoe. Dari aksara Arab yang menjadi tubuh asli naskah-naskah itu. Jalurnya terasa tertutup.
Lima tahun sudah saya tekuni kaidah ini. Buhu dan pakhôk sudah berulang kali saya praktikkan. Kaidahnya sudah saya pahami sebagian besar.
Saya sudah menulis beberapa syair sendiri. Saya masih menyimpannya. Kepercayaan untuk mempublikasikannya masih tertahan.
Baca juga: VIDEO Polisi Selidiki Ledakan Kapal Aceh Hebat 2, Korban Capai 15 Orang
Saya masih menimbang. Apakah yang saya pelajari dari teks Latin sudah cukup akurat?
Apakah ada sesuatu yang hilang dalam proses alihaksara itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya ingin membaca dari sumbernya langsung.
Saya mencari siapa yang menguasai kaidah ini dan masih aktif. Nama-nama itu ada. Sebagian sudah sukar ditemui.
Baca juga: Raup 98,5 Poin, Pemkab Bireuen Raih Penghargaan dari KIA
Sebagian tenggelam dalam kesibukan lain. Satu-dua bersedia berbagi sebentar. Ketersediaan lebih dari itu sukar diperoleh. Kelas yang tersistem, dengan jadwal tetap, masih perlu dibangun.
Lalu saya melihat pengumuman dari Bale Tambeh. Mereka membuka kelas Arab Jawoe bahasa Aceh. Tahap ketiga. Gratis. Mulai 20 Juni 2026. Ini yang saya butuhkan sejak lama. Baru sekarang terlihat.
Transmisi Ini Bergantung pada Satu Orang
Saya menunggu penulis syair. Penulis syair menunggu waktu luang mereka. Transmisi kaidah sastra klasik Aceh bekerja dengan cara yang persis sama.
Bergantung pada siapa yang mau mengajar. Pada kapan orang itu bersedia. Pada apakah ada yang memutuskan ini penting untuk dilakukan.
Baca juga: AS Tembak Jatuh Dua Drone Iran di Selat Hormuz Usai Trump Klaim Perang Telah Berakhir
Bale Tambeh mengisi ruang itu selama lebih dari tiga dekade. T.A. Sakti memulainya sejak 1992. Swadaya. Dua kali dalam setahun kelas dibuka. Pesertanya datang dari berbagai latar.
Musisi, penulis, mahasiswa. Terbuka untuk siapa saja. Gratis. Program ini dibangun selama puluhan tahun.
Saya ingin mengikuti kelas itu sebagai musisi yang butuh membaca aksara aslinya sendiri. Lima tahun belajar dari teksnya. Ini jalur ke aksaranya.
Baca juga: Fix! Bahlil Diagendakan Lantik Pengurus Golkar Aceh pada 10-12 Juli di Hotel Hermes, Cek Susunannya
Tapi kerja ini berdiri di atas satu orang. Tiga puluh tahun lebih T.A. Sakti menanggung ini. Jika ureung chik itu satu hari memilih berhenti, jalur itu ikut tutup.
| Pintu yang Masih Ditanya-tanya, Qanun Sudah Berjalan Tanpa Mereka |
|
|---|
| Buloh Peurindu: Senandung Terakhir dari Geulanggang Labu |
|
|---|
| Yang Tak Masuk Pasal: Dua Dasawarsa Menunggu Giliran Kebudayaan Aceh dalam Revisi UUPA |
|
|---|
| Jauh Dulu, Baru Pulang: Validasi Dulu Baru Dapat Kesempatan? |
|
|---|
| Pustaka yang Kekurangan Mulut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MORITZA-THAHER.jpg)