Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Mengapa Kampus Aceh Belum Memimpin Joint Study Migas dan Apa Jalan Keluarnya?

Fakta-fakta ini menegaskan bahwa aktivitas meningkat, tetapi peran kampus Aceh masih lebih sering sebagai anggota tim, bukan lead institution. 

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ir. Muhammad Irham, S.Si, M.Si. 

Alih teknologi pun harus dilengkapi target yang jelas, mulai dari jumlah staf yang tersertifikasi, jumlah jam kerja teknis yang terdokumentasi, hingga hak akses terhadap data dan perangkat lunak.

Pendekatan ini konsisten dengan kebijakan TKDN serta rekomendasi performance-based local content dari Bank Dunia dan ERIA.

Sebagai langkah kelembagaan, perlu segera dibentuk entitas hukum riset migas Aceh dalam bentuk konsorsium akademik khusus, seperti Aceh Energy Research Consortium, yang melibatkan USK, UTU, Unimal, serta mitra internasional.

Dalam dua tahun pertama, konsorsium ini harus fokus pada tiga hal utama, yaitu memperoleh sertifikasi mutu dan keselamatan (ISO dan PTK-007 equivalent), membangun secure data room beserta lisensi perangkat lunak strategis, dan menyusun kajian wilayah terbuka (Aceh Open Area Study) yang bisa langsung ditenderkan sebagai JSA dengan posisi konsorsium sebagai prime contractor.

Pendanaan awal bisa diperoleh dari kombinasi Dana Otsus, matching fund LPDP, dan CSR KKKS yang beroperasi di Aceh.

Sebagai strategi cepat (quick wins), proyek Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) Arun bisa dijadikan flagship pertama yang dipimpin penuh oleh konsorsium kampus Aceh.

Proyek ini mencakup pemodelan storage complex, evaluasi well integrity, sistem MMV (Monitoring, Measurement, and Verification) berbasis seismik 4D dan fiber-optic, serta kajian kebijakan dan ekonomi karbon.

Dengan adanya regulasi nasional tentang CCUS dan rencana pengembangan multi-user hub di Arun, proyek ini berpotensi bersaing di tingkat global.

Selain itu, keterlibatan langsung dalam proyek ini dapat mempercepat penguatan kurikulum Teknik Perminyakan di USK agar lebih selaras dengan kebutuhan industri masa depan.

Peta Jalan 36 Bulan (tanpa menunggu)

Dalam enam bulan pertama, fokus utama adalah melakukan gap assessment terhadap standar PTK-007, membangun data room mini, serta menjalin kerja sama formal dengan mitra eksternal melalui MoU kerja-paket di proyek JSA Meuseuraya.

Selama periode ini, pelatihan langsung (on-the-job training) harus dilakukan secara terstruktur di Aceh dengan target minimal 15.000 jam orang, guna memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan yang terukur dari mitra industri kepada tenaga teknis lokal.

Memasuki bulan ke-6 hingga ke-18, konsorsium kampus diharapkan mulai mengerjakan paket-paket kerja secara mandiri, seperti reprocessing data seismik 2D/3D dan pemodelan sistem petroleum basin di wilayah North Sumatra.

Dari pekerjaan ini, ditargetkan lahir 2–3 studi teknis mendalam setara pre-FEED yang dapat langsung ditawarkan BPMA kepada calon investor.

Selanjutnya, pada periode 18 hingga 36 bulan, konsorsium sudah harus naik kelas menjadi prime contractor pada satu proyek JSA open area yang relatif non-kompleks, serta menjadi co-prime dalam paket pengembangan proyek CCUS Arun.

Keberhasilan Harus, Bukan Sekadar Ikut Terlibat

Untuk memastikan keterlibatan kampus Aceh dalam proyek JSA berjalan secara substantif, perlu ditetapkan indikator kuantitatif yang dapat dipantau secara publik.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved