Opini

Fenomena 'Guru Badut'

BANYAK ruang kelas hari ini, guru bukan lagi sosok yang berdiri tegak dengan wibawa ilmu dan keteladanan. Ia kini sering tampil sebagai penghibur.

|
Editor: mufti
IST
Fahrul Rozi SST, Guru SMK Negeri 1 Langsa 

Fahrul Rozi SST, Guru SMK Negeri 1 Langsa

BANYAK ruang kelas hari ini, guru bukan lagi sosok yang berdiri tegak dengan wibawa ilmu dan keteladanan. Ia kini sering tampil sebagai penghibur. Menari di depan papan tulis, tersenyum tanpa henti, menyesuaikan gaya agar murid tak bosan. Semua itu dilakukan bukan semata demi suasana belajar yang menyenangkan, melainkan agar ia tidak dianggap “membosankan” oleh murid, orang tua, bahkan oleh sistem yang menilai keberhasilan dari seberapa ramai kelas terlihat di media sosial.Inilah fenomena “Guru Badut." Guru yang terpaksa menghibur, bukan mendidik. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini mencuat di tengah kegelisahan para pendidik. Guru yang dulu dihormati karena ketegasan dan integritasnya, kini dituntut menjadi sosok serba bisa kreatif, lucu, interaktif, inovatif, sekaligus tidak boleh membuat murid merasa tertekan. Pendidikan seolah berubah menjadi panggung hiburan, dan guru entah sadar atau tidak memainkan peran sebagai bintang utamanya.

Ya, beginilah nasib guru masa kini jika tidak lucu, dianggap membosankan, jika tegas, dianggap menakutkan; jika diam, dituduh tidak komunikatif. Guru dituntut menjadi segalanya, mulai dari motivator, psikolog, content creator, sekaligus penghibur murah tanpa bayaran tambahan. Zaman ini tidak butuh guru pintar. Ia butuh guru viral yang bisa menari di TikTok sambil menjelaskan matematika, yang bisa menyanyikan Pancasila dengan irama K-pop.

Dulu, guru adalah teladan. Sekarang, guru adalah entertainer. Dulu, guru menanamkan nilai. Sekarang, guru menanamkan efek suara lucu di PowerPoint. Dulu, guru disegani. Kini, guru di-review seperti influencer "bapak dan ibu gurunya asyik sekali, tidak pernah marah, selalu tampil lucu,” tampaknya, wibawa sudah resmi pensiun.

Namun, apa jadinya bila ruang kelas berubah menjadi teater? Bila proses belajar diukur dari tawa dan bukan dari makna? Bila nilai kedisiplinan dianggap mengekang, dan ketegasan guru dituding “tidak ramah anak?"
Fenomena ini tak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sistem pendidikan yang perlahan kehilangan arah. Di satu sisi, ada dorongan besar untuk membuat pembelajaran jadi “menyenangkan," istilah yang begitu sering digaungkan dalam pelatihan guru.  Di sisi lain, ada tuntutan administratif yang menekan. Laporan kegiatan, unggahan di media sosial, video pembelajaran kreatif, hingga lomba-lomba inovasi.  Semua itu memaksa guru tampil atraktif, seolah menjadi tokoh utama dalam pertunjukan besar bernama “reformasi pendidikan.”

Anehnya, semua orang bertepuk tangan. Murid senang karena gurunya lucu. Orang tua bangga karena kelas anaknya viral. Pihak sekolah berlega hati karena tampak progresif. Tapi di balik itu ada guru yang lelah, lelah menjadi sosok yang harus selalu tersenyum, meski di dalam hatinya penuh beban. Guru bukanlah penghibur.

Ia pendidik, ia membentuk karakter, bukan sekadar menciptakan tawa. Tetapi di tengah budaya populer yang mengagungkan hiburan, nilai keseriusan dan keteladanan terasa usang. Guru yang sabar, tegas, dan konsisten justru dianggap ketinggalan zaman. Sementara guru yang bisa membuat konten lucu atau kelas kreatif dipuja sebagai panutan baru.

Kehilangan ruh

Ketika guru lebih sibuk memikirkan bagaimana agar murid tidak bosan, ia bisa saja lupa memikirkan bagaimana agar murid benar-benar belajar. Pendidikan yang sejatinya berakar pada proses pembentukan karakter kini melayang di permukaan, terjebak dalam pencitraan dan hiburan. Kita lupa bahwa belajar tidak selalu harus menyenangkan. Terkadang, belajar adalah proses yang penuh tantangan, bahkan menyakitkan. Seorang murid belajar disiplin bukan karena senang, tetapi karena ia diajarkan tanggung jawab. Ia belajar sopan santun bukan karena itu lucu, tetapi karena itu nilai moral.

Bila setiap nilai harus dikemas dalam hiburan, maka pendidikan akan kehilangan kedalamannya. Sistem yang menuntut guru untuk “selalu kreatif” tanpa memberi ruang bagi ketenangan, refleksi, dan kedisiplinan adalah sistem yang menciptakan kebingungan. Kreativitas memang penting, tetapi ia bukan panggung. Kreativitas pendidikan adalah tentang menemukan cara agar murid memahami hidup, bukan sekadar tertawa di kelas.

Guru hari ini hidup dalam paradoks. Ia diminta untuk menanamkan nilai, tetapi diukur dengan tontonan. Ia diharapkan menegakkan disiplin, tetapi dilarang menegur dengan keras. Ia dituntut menulis RPP yang kreatif, tetapi dikejar tenggat laporan administratif yang tak ada habisnya. Ia diminta menjadi panutan, tetapi jarang diberi ruang untuk berpendapat tentang kebijakan pendidikan. Dalam kondisi seperti ini, wajar bila sebagian guru mulai kehilangan arah. Mereka lebih memikirkan bagaimana tampil menarik di mata publik dari pada memikirkan substansi pembelajaran.

Di sinilah “Guru Badut” lahir bukan karena keinginan pribadi, tetapi karena tekanan sistem. Mungkin inilah ironi terbesar dunia pendidikan kita. Guru yang seharusnya menjadi pendidik, justru dipaksa menjadi penghibur agar tetap relevan. Pendidikan pun kehilangan ruhnya menjadi sekadar tontonan yang dikemas rapi untuk memenuhi ekspektasi birokrasi. Guru kini sibuk tampil menghibur, bukan tumbuh. Ia sibuk membuat pertunjukan, bukan perenungan. Pendidikan pun menjadi tontonan tanpa arah.

Lucunya, ketika hasil belajar anak-anak merosot, guru juga yang disalahkan. “Mungkin metodenya kurang kreatif,” kata para pengamat yang tak pernah masuk kelas. Padahal, guru sudah melakukan segalanya, bahkan sampai rela menjadi badut. Tapi ternyata, dunia hanya menonton tidak benar-benar peduli.

Butuh guru tegas

Sudah saatnya kita berani mengembalikan martabat guru sebagai pendidik sejati. Guru tidak harus selalu lucu. Tidak harus selalu tampil menarik di depan kamera.  Guru yang baik bukanlah yang paling menghibur, melainkan yang paling tulus mendidik. Pendidikan sejati membutuhkan keseimbangan antara kehangatan dan ketegasan, antara kegembiraan dan kedisiplinan. Guru boleh menghadirkan suasana menyenangkan, tetapi tidak boleh kehilangan arah nilai. Menghibur boleh, tetapi mendidik tetap utama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved