Kita butuh sistem pendidikan yang tidak menekan guru untuk menjadi konten kreator setiap hari. Kita butuh pemangku kebijakan yang memahami bahwa esensi pendidikan bukan pada “viral”nya kegiatan, melainkan pada transformasi nilai di ruang-ruang kecil kelas yang sering tidak terekam kamera. Guru harus kembali menjadi figur yang dihormati, bukan karena kepiawaian berakting di depan kelas, tetapi karena keteladanan dalam mendidik generasi. Mungkin, di balik senyum setiap “guru badut,” ada lelah yang tak terlihat. Ada idealisme yang perlahan pudar, tergerus oleh ekspektasi sistem.
Namun, di balik itu pula, ada harapan bahwa suatu hari nanti, pendidikan akan kembali menempatkan guru sebagai pendidik sejati, bukan penghibur. Guru sejati bukan yang paling sering membuat murid tertawa, tetapi yang paling dalam jejaknya di hati murid-muridnya. Mungkin, hari itu akan tiba ketika kita berhenti menilai guru dari seberapa ramai kelasnya, melainkan dari seberapa jauh ia mengubah hidup anak-anak didiknya.