Kamis, 23 April 2026

Opini

Jalan Layang Pesisir Lhoknga-Lamno Lebih Unggul daripada Terowongan Geurute

Jalur ini selama puluhan tahun menjadi urat nadi penghubung antara wilayah barat Aceh dengan ibu kota provinsi. 

|
Editor: Zaenal
chat.chaton.ai
ILUSTRASI JALAN LAYANG - Gambar ilustrasi jalan layang yang membentang di atas laut mengikuti lekuk tebing gunung, diolah dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) pada, Selasa (4/11/2025). Tokoh Masyarakat Aceh Barat–Selatan Mayjen TNI (Purn.) Teuku Abdul Hafil Fuddin berpendapat, jalan layang pesisir Lhoknga-Lamno lebih unggul dari banyak sisi, dibandingkan dengan terowongan Geurute. 

Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Teuku Abdul Hafil Fuddin (Tokoh Masyarakat Aceh Barat–Selatan)

RENCANA peningkatan jalur strategis Banda Aceh – Aceh Jaya kembali menjadi perhatian. 

Jalur ini selama puluhan tahun menjadi urat nadi penghubung antara wilayah barat Aceh dengan ibu kota provinsi. 

Tantangan utama terletak di kawasan perbukitan Paro, Kulu, dan Geurute, di mana kemiringan jalan, curah hujan tinggi, serta potensi longsor kerap menghambat mobilitas barang dan manusia.

Dua opsi besar kini mengemuka: pembangunan jalan layang pesisir (Lhoknga–Lamno) atau pembuatan terowongan menembus perbukitan Geurute. 

Keduanya bertujuan sama--mempercepat konektivitas dan menekan risiko bencana--namun memberikan dampak ekonomi yang sangat berbeda.

Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, mantan Panglima Kodam Iskandar Muda.
Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, mantan Panglima Kodam Iskandar Muda, Tokoh Masyarakat Aceh Barat-Selatan. (SERAMBINEWS.COM/HENDRI ABIK)

Jalan Layang Pesisir: Infrastruktur yang Menumbuhkan Ekonomi

Pilihan membangun jalan layang menyusuri pesisir barat bukan sekadar solusi teknis, tetapi langkah strategis membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru. 

Dengan panjang sekitar 25 kilometer, jalur ini dapat dirancang sejajar dengan garis pantai, melewati kawasan wisata Lhoknga, Ujong Pancu, hingga Lamno yang memiliki potensi wisata dan perikanan tinggi.

Dari sisi biaya, pembangunan jalan layang di atas garis pantai jauh lebih efisien. 

Berdasarkan perbandingan proyek sejenis di Indonesia, biaya jalan layang pesisir rata-rata berkisar antara Rp150–250 miliar per kilometer, tergantung kondisi lahan dan bentang struktur. 

Sementara itu, biaya terowongan pegunungan dapat mencapai Rp600 miliar hingga Rp1 triliun per kilometer, belum termasuk biaya sistem keamanan, ventilasi, dan mitigasi gempa.

Lebih dari sekadar hemat biaya, jalur layang pesisir juga memberi multiplier effect yang langsung dirasakan masyarakat:

  • Menghidupkan sektor pariwisata pesisir,
  • Membuka akses bagi nelayan dan UMKM pesisir,
  • Memperluas konektivitas logistik untuk produk pertanian dan hasil laut,
  • Mendorong investasi baru di sektor perhotelan dan ekonomi kreatif.

Pemandangan laut yang spektakuler dapat menjadikan jalur ini ikon baru seperti Great Ocean Road di Australia atau Jeju Coastal Road di Korea Selatan. 

Infrastruktur ini tak hanya menghubungkan wilayah, tapi juga memperkuat identitas ekonomi pesisir Aceh.

Terowongan Geurute: Solusi Teknis Berbiaya Tinggi

Pembangunan terowongan menembus gunung Geurute memang tampak menjanjikan dari sisi waktu tempuh, namun memiliki tantangan besar dalam aspek biaya, geologi, dan perawatan. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved