Pojok Humam Hamid
RJ Lino, Mualem, dan Amran: “What Next” untuk Sabang?
Status lex special Sabang bisa dilemahkan dengan mudah, dengan satu pernyataan, satu tafsir hukum sembarangan.
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Empat bulan lalu, tengah malam, saya duduk berhadapan di salah satu warung kopi sederhana di kawasan Pango, Banda Aceh dengan Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf.
Dalam percakapan polos itu ia mengusik satu hal yang membuat saya terhenyak, sekaligus mengguncang asumsi-asumsi saya sendiri tentang Sabang.
Dengan gaya khasnya yang lugas, tanpa retorika dan tanpa basa-basi, ia menatap saya sambil bertanya, “Apa sebenarnya prospek Sabang itu Bang?
Apa yang bisa kita buat di Sabang?”
Saya menjawab apa adanya: “Saya tidak tahu apa-apa tentang pelabuhan.”
Mualem tertawa kecil, lalu menimpali, “Apa juga Profesor kalau begitu?”
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi titik balik.
Saya pulang dengan rasa malu dan gelisah.
Bagaimana mungkin saya bicara tentang masa depan ekonomi Aceh dengan Gubernur, tetapi tidak memahami salah satu aset strategisnya yang paling potensial sejak masa kolonial?
Sejak hari itu saya mulai membaca, belajar, bertanya, dan mencari guru yang tepat.
Di titik itulah Menteri Sofyan Djalil--sahabat lama, mentor saya, sekaligus mantan Menteri BUMN yang dulu merekrut RJ Lino pulang dari Tiongkok untuk memimpin Pelindo II.
Ia menghubungkan saya langsung dengan seseorang yang menurut banyak kalangan pelabuhan di Asia disebut sebagai “encyclopedia hidup logistik maritim Indonesia dan Asia Tenggara”: Richard Joost Lino, atau yang lebih dikenal sebagai RJ Lino.
Dan di situlah perspektif saya tentang Sabang berubah total.
Baca juga: VIDEO Prof Humam Minta Menteri Pertanian Cabut Penyegelan Beras di Sabang atau ke MK
Sabang Itu “Positioning Error”
Dalam pertemuan kami, Lino memulai pembicaraan dengan satu kalimat yang langsung membuka horizon baru.
“Sabang itu bukan pelabuhan kecil.
Sabang itu “positioning error”.
Yang salah bukan potensinya, tapi cara kita memikirkannya.
Ia menjelaskan bahwa Sabang tidak perlu bermimpi menjadi Singapura versi mini.
Singapura berkembang bukan karena ukurannya, tetapi karena ia menjadi simpul -node- strategis dari rantai pasok global.
Sabang pun punya potensi itu--bahkan dengan beberapa keunggulan yang Singapura tidak punya.
Dari seluruh paparan Lino, ada satu ide yang ia sebut sebagai “hal yang paling mungkin dilakukan segera, realistis, dan punya multiplier terbesar untuk Aceh dan wilayah sekitar.”
Yang dimaksud Lino adalah menjadikan Sabang sebagai pusat gudang regional biji-bijian dan gula untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Bukan pelabuhan peti kemas raksasa.
Bukan pusat re-ekspor barang konsumsi.
Tetapi gudang pangan kawasan untuk gandum, kedelai, jagung, dan beras, dan gula, lima komoditas yang menggerakkan sistem pangan dua miliar manusia di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Ini adalah jumlah seperempat penduduk dunia.
Sebelum saya sempat bertanya, Lino menjelaskan dengan kejernihan yang membuat saya tercengang.
Mayoritas stock jagung Sabang yang berasal dar AS, Brazil, Argentina, Uni Eropah, dan Ukraina nantinya bisa disalurkan ke India Selatan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Vietnam, yang selalu rentan terhadap ketegangan geopolitik Samudra Hindia.
Mereka membutuhkan buffer stock dekat jalur pelayaran, dan Sabang tepat berada di mulut jalur tersebut.
Kedelai, yang menggerakkan industri pangan Asia, dikuasai oleh pemain global seperti Cargill, ADM, Bunge, dan Louis Dreyfus.
Indonesia mengimpor 2–2,5 juta ton kedelai per tahun, mayoritas dari Amerika Serikat.
Namun suplai ke Asia sangat tergantung pada stabilitas rute Pasifik.
Jika terjadi ketegangan di Laut Cina Selatan atau Taiwan, distribusi kedelai akan terganggu.
Sabang bisa menjadi titik buffer untuk Asia Tenggara.
Gandum hampir semua diimpor.
Indonesia sendiri mengimpor 11 juta ton per tahun--terbesar kedua di dunia.
Bila perang Ukraina-Rusia memblokade Laut Hitam, atau rute India–Afrika terganggu, kehadiran “secondary hub” seperti Sabang akan menjadi penyelamat.
Sedangkan beras, meski Sabang bukan eksportir atau produsen, bisa menjadi pusat transshipment sekaligus reserve depot bagi negara-negara rentan.
Rantai pasok beras dunia sangat sensitif.
Ketika India menutup ekspor pada 2023, harga beras Asia melonjak drastis.
Tentang gula, komoditas yang harganya sangat sensitif terhadap geopolitik dan cuaca, bisa ditampung Sabang sebagai buffer.
Sabang dapat melayani negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan yang mengimpor dari India, Thailand, dan Brazil.
Rantai pasok gula global sangat rapuh.
Krisis harga dan distribusi bisa terjadi jika terjadi embargo, perang, atau bencana alam di negara penghasil utama.
Jika Timur Tengah bergejolak, rute volume besar ke Asia juga terganggu.
Baca juga: Respons Impor Beras di Sabang, TA Khalid Minta Semua Pihak Bek Kram-Krum Menyikapi Aceh
Pintu Gerbang Makanan
Lino menekankan satu hal yang membuat saya tercengang: ketika satu jalur pangan terganggu, dunia bisa runtuh dalam tiga minggu, dan Indonesia selama ini tidak punya “food gateway”- pintu gerbang makanan, sama sekali.
Saat saya bertanya mengapa bukan Belawan, Dumai, atau Lhokseumawe, Lino menjawab tanpa jeda.
“Karena Sabang bebas bea.
Karena Sabang punya kedalaman laut alami.
Karena Sabang berada tepat di jalur strategis global.
Dan, karena Sabang tidak ‘terkontaminasi’ birokrasi pelabuhan warisan kolonial.”
Kemudian ia menambahkan, “Kalau Indonesia via Aceh benar-benar ingin masuk sistem maritim global yang yang tangguh, bukan menjadi pengikut pola pelabuhan nasional biasa, Sabang-lah pintunya.”
Dalam penjelasannya, Lino juga menyinggung potensi energi terbarukan Sabang.
Ia berkata, “Sabang punya potensi geothermal.
Artinya Sabang bisa menghasilkan energi hijau.
Dan ke depan, kapal-kapal dunia membutuhkan green fuel, bukan lagi energi fosil.”
Bayangkan, Sabang menyediakan “green-based port refueling” bagi kapal internasional.
Ini bukan mimpi liar, ini arah industri maritim global pasca-2030.
Baca juga: Mualem: Impor Beras Sabang Sah
Menyoal Kata Ilegal Mentan Amran
Namun di saat saya sedang belajar, membaca, dan memahami visi besar Sabang dari bacaan dan para ahli, tiba-tiba Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman muncul dengan pernyataan keras, “beras impor 250 ton di Sabang “ilegal”.
Ilegal?
Di daerah yang secara hukum adalah kawasan nonpabean, perdagangan bebas?
Di pelabuhan yang izinnya dikeluarkan BPKS sesuai UU 37/2000 dan UUPA Pasal 167–170?
Yang lebih ironis, pernyataan keras itu disampaikan seolah Sabang adalah bagian dari rezim bea impor nasional, padahal status hukum Sabang adalah lex specialis, bukan objek birokrasi impor standar nasional.
Jika bukan ketidaktahuan hukum, maka apa?
Jika bukan ketidakpedulian terhadap kekhususan Aceh, lalu apa?
Namun kemudian, ketika Bloomberg Techno mengonfirmasi, Amran tiba-tiba melunak, “Tak usah diperpanjang, sudah selesai.”
Sikap lunak ini bukan transformasi visi.
Ini sekadar hasil rapat koordinasi dengan Menko yang posisinya lebih tinggi.
Dari keseluruhan polemik Sabang–Amran, satu kesimpulan pahit muncul.
Tidak satu kalimat pun dari Menteri Amran mencerminkan hormat terhadap status hukum Aceh dan Sabang.
Tidak satu pun ia menyebut UUPA atau UU 37/2000.
Tidak satu pun memperlihatkan ia memahami Sabang sebagai kawasan khusus.
Ia melihat Sabang sebagai pelabuhan biasa, dan di situlah tragedi kebijakan terletak.
Tiga Persoalan Sekaligus Kesempatan
Setelah diskusi dengan Mualem, memperoleh pencerahan dari RJ Lino, dan menyaksikan kebingungan birokrasi pusat mengenai status Sabang, saya melihat tiga persoalan sekaligus kesempatan besar.
Sabang butuh visi, bukan nostalgia.
Potensi grain hub dan gula, green fuel bunkering, dan “multi-country food reserve” adalah masa depan—bukan proyek-proyek kosmetik masa lalu.
Sabang butuh pemimpin yang berani.
Kepala BPKS, Gubernur Aceh, dan elite lokal tidak boleh hanya menunggu dikritik atau ditegur Jakarta.
Mereka harus menjadi “agenda setter”.
Sabang butuh perlindungan hukum aktif.
UUPA dan UU 37/2000 tidak boleh hanya dihafal.
Kedua hukum itu harus digunakan sebagai instrumen diplomasi domestik untuk menegosiasikan ulang hubungan Aceh dengan pusat dalam konteks ekonomi global.
Sabang memiliki semua bahan baku untuk menjadi simpul besar ekonomi maritim kawasan.
Sabang punya kedalaman laut, posisi strategis, status bebas bea, potensi energi hijau, dan akses langsung ke jalur pelayaran Asia–Timur Tengah–Afrika.
Namun potensi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan jika para pejabat pusat memperlakukan Sabang seperti pelabuhan kecil lokal, para wakil Aceh di Jakarta diam, para pemimpin Aceh tidak berani memimpin, dan Sabang tidak dipikirkan dengan perspektif global sebagaimana dinasehati RJ Lino.
Mualem membuka percakapan dengan tantangan yang sederhana tapi mengguncang: “Apa prospek Sabang?”
Setelah belajar, membaca, dan berdialog dengan para ahli, saya bisa berkata dengan pasti, Sabang bukan sekadar prospek--ia adalah peluang yang datang sekali dalam satu generasi.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Aceh mau mengambilnya, tetapi apakah Aceh cukup cerdas dan berani untuk mempertahankannya dari sentuhan oknum elit pusat yang kadang tak pernah benar-benar menghormati kekhususannya.
Dan kepada Mualem maupun rakyat Aceh, jangan terlalu marah kepada Amran.
Ironisnya, ia--dengan ketidaktahuannya, ketidakpeduliannya, sekaligus arogan--justru menjadi pemantik yang menyingkap kenyataan pahit.
Status lex special Sabang bisa dilemahkan dengan mudah, dengan satu pernyataan, satu tafsir hukum sembarangan.
Ia adalah “pengingat brutal” bahwa sebagian oknum elite pusat selalu punya cara halus untuk menormalisasi kekhususan, menundukkan otonomi, dan menunda tanggung jawab.
Dan di situlah pelajaran terbesar.
Jika kita ingin Sabang menjadi aset yang tak tergantikan, bukan pelabuhan kecil yang terlupakan, kita harus belajar memimpin sendiri, memikirkan pelimpahan kewenangan dengan cermat, dan bekerja super keras.
Aceh dengan sungguh sungguh, wajib menyiapkan strategi yang cukup keras agar tidak ada lagi menteri atau birokrat yang bisa meremehkan keistimewaan Aceh hanya karena lupa atau sengaja mengabaikan hukum.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
impor beras sabang
kasus impor beras di sabang
Menteri Pertanian Amran Sulaiman
Pelabuhan Bebas Sabang
Berita Serambi hari ini
berita aceh terkini
pojok humam hamid
Serambi Indonesia
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
| Survei Nasional Terbaru Tentang Perang Iran: Sebaiknya Prabowo Ekstra Hati-Hati |
|
|---|
| Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran |
|
|---|
| Aturan Baru Komdigi: Kenapa Semua Orang Tua Harus Senang? |
|
|---|
| Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-4.jpg)