Opini
UIN Ar-Raniry Menuju Kampus Internasional
PADA usia ke-62 tahun, UIN Ar-Raniry kembali berdiri pada sebuah titik historis yang menentukan arah masa depannya
Muhammad Yasir Yusuf, Wakil Rektor I UIN Ar Raniry Banda Aceh
PADA usia ke-62 tahun, UIN Ar-Raniry kembali berdiri pada sebuah titik historis yang menentukan arah masa depannya. Di satu sisi, kampus ini bergerak cepat memasuki lanskap global yang semakin kompetitif. Di sisi lain, ia memikul amanah sebagai institusi yang tumbuh dalam kultur Aceh yang kuat dengan syariat Islam.
Tantangan inilah yang menjadikan momentum Dies Natalis bukan sekadar seremoni seremonial, melainkan sebuah momen kontemplatif. Ke mana UIN Ar-Raniry akan melangkah, dan nilai apa yang akan dibawa?Pertanyaan ini semakin relevan karena perubahan dunia pendidikan tinggi berjalan amat cepat. Standardisasi internasional, akreditasi global, pertukaran dosen, dan mobilitas mahasiswa menjadi indikator baru bagi kredibilitas dan reputasi universitas. UIN Ar-Raniry tentu tidak boleh tertinggal. Namun, di balik ambisi internasional itu, masyarakat Aceh berbisik penuh harap. Jangan sampai kampus ini kehilangan jati diri sebagai institusi Islam yang berakar kuat pada budaya, sejarah, dan nilai moral Aceh. Opini ini hendak menggali dinamika tersebut. Antara kekuatan yang menuntun, tantangan yang menguji dan harapan yang mempertemukan modernitas dengan marwah keacehan.
Menuju reputasi global
Pertama, UIN Ar-Raniry telah memiliki posisi struktural yang kuat untuk menjadi bagian dari jaringan universitas global. Status Unggul pada tingkat institusi dan lebih dari 50 persen program studi terakreditasi. Unggul bukanlah pencapaian biasa (ada 59 prodi dengan 32 prodi mendapat status akreditasi unggul). Ini adalah capaian monumental yang lahir dari kerja akademik yang panjang, dari penjaminan mutu hingga transformasi tata kelola, yang mengantarkan kampus pada kelas “elite” perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dalam konteks regional Sumatera, capaian ini menempatkan UIN Ar-Raniry sebagai salah satu kampus Islam terbaik.
Kedua, pembangunan infrastruktur fisik yang terus berlanjut telah memperkuat atmosfer akademik.
Perpustakaan digital, laboratorium modern, pusat studi, serta fasilitas pembelajaran yang lebih representatif membuka peluang lebih luas bagi riset dan kolaborasi internasional. Pembangunan fisik ini bukan hanya menunjukkan keseriusan manajemen, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa kampus siap menjadi tuan rumah bagi mahasiswa dan peneliti dari berbagai penjuru dunia.
Ketiga, intensitas kerja sama internasional, baik dalam bentuk pertukaran mahasiswa, program visiting professor, joint research, hingga mobility program akademik, menciptakan jejaring akademik yang sangat dibutuhkan untuk menuju universitas berkelas internasional. Kegiatan-kegiatan ini bukan hanya memperluas perspektif sivitas akademika, tetapi juga memperkenalkan identitas Aceh ke kancah dunia.
Keempat, SDM UIN Ar-Raniry menunjukkan tren positif. Jumlah guru besar terus bertambah saat ini sudah mencapai 58 orang, disertai peningkatan dosen doktor yang berasal dari universitas ternama, baik dalam maupun luar negeri. Sumber daya manusia yang kuat menjadi modal utama bagi internasionalisasi, sebab kualitas sebuah universitas sangat ditentukan oleh mutu dosen dan penelitinya.
Kelima, fenomena peningkatan jumlah peminat mahasiswa dari tahun ke tahun menjadi indikator kepercayaan publik yang semakin menguat. Ini menandakan bahwa masyarakat Aceh dan di luar Aceh melihat UIN Ar-Raniry sebagai kampus masa depan yang menawarkan keseimbangan antara ilmu agama, sains modern, dan karakter islami. Ini juga menjadi peluang untuk menarik lebih banyak mahasiswa luar Aceh, bahkan luar negeri, yang ingin belajar di kampus berbasis syariat. Kekuatan-kekuatan inilah yang membuat langkah menuju internasionalisasi bukan sebuah angan, tetapi keniscayaan.
Menata ekosistem akademik
Meski berbagai capaian strategis telah diraih, perjalanan menuju kampus bertaraf internasional tetap menyimpan tantangan yang perlu direspons dengan pendekatan yang bijaksana dan konstruktif. Aspek karakter dan budaya akademik mahasiswa masih membutuhkan penguatan. Dalam beberapa situasi, komitmen terhadap disiplin, etika ilmiah, literasi akademik, serta ketertiban dalam beraktivitas di ruang digital belum sepenuhnya mencerminkan identitas kampus Islami yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan fisik dan capaian akreditasi perlu diimbangi dengan strategi pembinaan karakter yang lebih sistematis dan berkelanjutan.
Dalam konteks profesionalisme dosen, terdapat beberapa isu integritas dan etika yang perlu menjadi perhatian. Meskipun jumlahnya sangat kecil dibandingkan keseluruhan sivitas akademika, kemunculan kasus-kasus pelanggaran etika dan integritas menunjukkan perlunya penguatan tata kelola, kode etik, serta mekanisme supervisi yang kokoh. Dunia internasional menuntut kredibilitas dan kualitas, sementara masyarakat Aceh juga mengharapkan keteladanan moral dan akhlak mulia dari para pendidiknya. Keduanya harus berjalan seiring agar reputasi institusi tetap terjaga.
Kualitas alumni sebagai cerminan output pendidikan juga perlu terus ditingkatkan. Banyak lulusan telah menunjukkan prestasi yang membanggakan di berbagai sektor. Namun, masih terdapat ruang untuk memperkuat aspek karakter, kepedulian sosial, serta kedewasaan moral yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan Islam. Internasionalisasi akan memperoleh makna substantif apabila lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh dalam akhlak dan kontribusi terhadap masyarakat sekitar.
Terdapat tantangan struktural berupa kebutuhan untuk mensinkronkan percepatan internasionalisasi dengan penguatan kualitas internal kampus, khususnya dalam kerangka good governance university. Upaya meraih standar global tidak hanya membutuhkan peningkatan mutu akademik, tetapi juga perubahan pada tata kelola dan statuta UIN Ar Raniry, integritas, transparansi, dan profesionalisme seluruh sivitas akademika. Internasionalisasi yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila tata kelola perguruan tinggi berjalan dengan prinsip akuntabilitas, kejelasan peran, mekanisme evaluasi yang adil, serta budaya etis yang melembaga.
Dengan demikian, harmoni antara capaian akademik dan good governance university menjadi prasyarat agar transformasi UIN Ar-Raniry tidak berhenti pada capaian administratif, melainkan menghadirkan nilai substantif yang sejalan dengan karakter Aceh sebagai wilayah yang menjunjung tinggi syariat Islam. Di sinilah harapan besar masyarakat Aceh berada. Internasionalisasi bukan berarti menanggalkan identitas lokal. Justru, universitas bisa menjadi global karena keunikannya, bukan karena meniru kampus lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhammad-Yasir-Yusuf.jpg)