Opini

UIN Ar-Raniry Menuju Kampus Internasional

PADA usia ke-62 tahun, UIN Ar-Raniry kembali berdiri pada sebuah titik historis yang menentukan arah masa depannya

Editor: mufti
Dok Pribadi
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry, Muhammad Yasir Yusuf 

Paling tidak ada tiga harapan utama yang muncul dari stakeholder UIN Ar Raniry: Pertama, Internasionalisasi harus berbasis nilai Islam dan budaya Aceh. UIN Ar-Raniry harus tetap menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam yang berakar kuat pada adab, nilai-nilai syariah yang menghadirkan nilai-nilai keberkahan. Identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah bukan sekadar label, tetapi basis moral yang membuat UIN Ar-Raniry berbeda dari kampus lain.

Kedua, UIN Ar Raniry harus menjadi pusat keilmuan yang memberikan solusi bagi umat. Masyarakat Aceh ingin kampus ini menghasilkan alumni yang berakhlak, dosen yang berintegritas, dan penelitian yang membumi. Internasionalisasi harus membuka ruang bagi penelitian yang berdampak, bukan sekadar publikasi yang mengejar angka dan indeks. Ketiga, UIN AR Raniry menjadi ruang yang aman bagi peradaban. Artinya UIN Ar-Raniry diharapkan menjadi tempat yang menjaga generasi muda dari dekadensi moral. Ini pula menjadi salah satu penyebab beberapa mahasiswa dari luar Aceh datang ke UIN Ar Raniry.

Kampus internasional bukan berarti bebas nilai, tetapi kaya nilai. Internasional bukan berarti liberal, tetapi moderat, bijaksana, dan membawa rahmat.

Dies Natalis ke-62 ini adalah momentum untuk memperkuat arah perjalanan dan Rencana Induk Pengembangan (RIP) menuju tahun 2039. Jika UIN Ar-Raniry ingin memasuki panggung global, maka langkah itu harus dilakukan dengan membawa identitas Aceh, Islam, adab, dan kebermanfaatan.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved