Video
VIDEO - Dari Kiai Kampung ke Rektor UB: Perjalanan Prof KH Mohammad Bisri
Atas permintaan para pengurus, Prof Bisri kembali mengambil peran sebagai pengasuh pesantren
SERAMBINEWS.COM - Perjalanan hidup Prof Dr KH Mohammad Bisri MS dipenuhi berbagai tantangan sekaligus pesan moral tentang pentingnya keseimbangan dalam kehidupan. Lahir di kawasan Mbetek, Kota Malang, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang dikenal religius. Lingkungan tersebut membentuk karakter dirinya yang kuat dalam nilai keagamaan sekaligus aktif dalam kegiatan fisik sejak kecil.
Sejak masa kanak-kanak, kehidupan Prof Bisri terbagi antara sekolah, olahraga, dan mengaji. Pada siang hari ia kerap menghabiskan waktu bermain sepak bola bersama teman-temannya. Sementara pada malam hari, ia belajar ilmu agama langsung dari sang ayah.
Kisah tersebut disampaikan Prof Bisri saat diwawancarai secara eksklusif oleh SURYAMALANG.COM dalam program Cerita Para Kiai yang tayang selama bulan Ramadhan, Sabtu (28/2/2026). Program tersebut bertujuan mengenalkan sosok para kiai yang memiliki pengaruh dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: Alumni MSBS Berbagi di Bulan Ramadhan, 40 Anak Yatim dan Dhuafa Terima Santunan
Saat ini, Prof Bisri dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh. Ia juga masih aktif sebagai akademisi dan pengajar di Universitas Brawijaya (UB) Malang.
“Waktu kecil kalau malam pasti mengaji dengan Abah. Pagi sekolah, sore olahraga. Karakter saya terbentuk dari dua hal itu,” ujarnya.
Perjalanan akademik Prof Bisri ternyata berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Ia semula bercita-cita masuk jurusan manajemen ekonomi, namun gagal lolos seleksi perguruan tinggi negeri.
Tidak menyerah, ia kembali mencoba mendaftar dan memilih jurusan yang relatif sepi peminat, yakni Teknik Pengairan di Universitas Brawijaya. Keputusan tersebut justru menjadi awal perjalanan akademiknya hingga berhasil meraih gelar profesor.
Kariernya di dunia pendidikan terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai dekan pada 2013, sebelum akhirnya terpilih sebagai Rektor Universitas Brawijaya periode 2014–2018.
“Saya sebenarnya terpaksa mencalonkan diri sebagai rektor, tapi akhirnya malah terpilih,” katanya sambil tertawa.
Baca juga: BBPOM Periksa 10 Sampel Takjil di Peukan Raya Ramadhan, Hasilnya Cukup Menggembirakan
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, Prof Bisri juga terlibat dalam pembangunan pondok pesantren yang berdiri pada 1996 di atas lahan sekitar 500 meter persegi. Pendirian pesantren tersebut berawal dari ajakan seorang temannya, yang kemudian ia jalankan setelah mendapat restu orang tua.
Pesantren yang kini bernama Bahrul Maghfiroh itu terus berkembang hingga memiliki lahan hampir 4 hektare. Namun saat menjabat sebagai rektor, pengelolaan pesantren diserahkan kepada adiknya, Gus Lukman, agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan.
Titik balik terjadi pada 2017 ketika sang adik wafat. Sebulan sebelum meninggal, Gus Lukman sempat mengajak Prof Bisri berkeliling pesantren, sebuah momen yang kemudian ia anggap sebagai pesan terakhir untuk melanjutkan perjuangan tersebut.
Akhirnya, atas permintaan para pengurus, Prof Bisri kembali mengambil peran sebagai pengasuh pesantren.
Saat mulai memimpin, ia melihat perlunya perubahan dalam sistem pendidikan pesantren. Ia menolak anggapan bahwa pesantren merupakan tempat bagi anak-anak bermasalah.
“Pondok itu tempat mencari ilmu agama dan mengamalkannya, bukan tempat anak-anak nakal,” tegasnya.
Baca juga: ISAD Aceh Barat Gelar Safari Ramadhan di Kecamatan Woyla Pada Malam Nuzulul Qur’an
| VIDEO Rudal Iran Menyerang, Armada Laut Washington Gagal Masuk Teluk Oman |
|
|---|
| VIDEO Kuwait Usir 2 Diplomat Iran seusai Bandaranya Hancur Kena Serangan Rudal |
|
|---|
| VIDEO - Usai Divonis, Noel Ramal ‘98 Jilid 2’ dan Gejolak Besar Nasional |
|
|---|
| VIDEO - Dibawa Polisi Dalam Kondisi Sehat, Pria Ini Pulang Tak Bernyawa, Tangis Istri Viral |
|
|---|
| VIDEO - Putin Bicara Soal Oreshnik, Rusia Masih Uji Efektivitas Senjata Terbaru |
|
|---|