Jumat, 5 Juni 2026

Video

VIDEO Warga Lempari Kapal Penambang Emas Milik PT MGK di Sungai Krueng Woyla

warga melempari kapal pengeruk emas tersebut dengan batu sebagai bentuk protes yang dinilai merusak lingkungan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sadul Bahri | Editor: T Nasharul

Laporan: Sa'dul Bahri | Meulaboh

SERAMBINEWS.COM – Aksi protes warga terhadap aktivitas penambangan emas kembali memanas. Puluhan warga melempari sebuah kapal penambang emas milik PT Magellanic Garuda Kencana (MGK) yang tengah beroperasi di aliran Sungai Krueng Woyla, tepatnya di Desa Gleng, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat, Sabtu (4/10/2025).

Aksi tersebut terjadi bertepatan dengan kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Panitia Khusus (Pansus) DPRK Aceh Barat ke lokasi tambang.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar pada 24 September 2025 lalu di gedung DPRK Aceh Barat.

Dalam video yang beredar, tampak sejumlah warga melempari kapal pengeruk emas tersebut dengan batu sebagai bentuk protes terhadap aktivitas tambang yang dinilai merusak lingkungan. 

Seorang yang diduga anggota kepolisian terlihat berusaha menenangkan massa dan menghentikan aksi pelemparan agar tidak berkembang menjadi kericuhan.

Baca juga: Ancaman Erosi Krueng Woyla dan Meureubo, Aceh Barat Telah Usulkan Penanganan ke BNPB

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait insiden tersebut maupun langkah lanjutan atas protes warga. 

Namun berdasarkan keterangan sejumlah warga, keberadaan kapal penambang emas di sungai tersebut telah lama menimbulkan keresahan.

Warga menilai aktivitas tambang berpotensi mencemari aliran sungai, merusak ekosistem, dan mengancam mata pencaharian masyarakat yang selama ini bergantung pada Sungai Krueng Woyla.

Sementara itu, Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Krueng Woyla (AMPKW), Dwi Abdullah, menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dan tidak pernah menginisiasi aksi pelemparan batu tersebut. 

Ia menegaskan bahwa kehadiran AMPKW di lokasi adalah dalam rangka memenuhi undangan Pansus DPRK Aceh Barat.

Baca juga: Ketua DPRA Dukung Gubernur Mualem Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Aceh

Dwi juga menyampaikan bahwa kerusakan lingkungan akibat aktivitas PT MGK sudah mulai tampak, terutama di sejumlah desa seperti Gleng dan Tanoh Mirah di Kecamatan Sungai Mas, serta Desa Pasi Janeng di Kecamatan Woyla Timur, di mana tanah di bantaran sungai mulai terkikis.

“Kami tidak pernah menginisiasi aksi demonstrasi atau mengajak masyarakat bertindak anarkis. Kami hadir karena diundang, dan kami selalu menjunjung tinggi aturan yang berlaku,” pungkas Dwi.

Hingga saat ini, pihak perusahaan PT MGK belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut maupun tuntutan warga yang meminta penghentian aktivitas penambangan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved