• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 24 September 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Ulama dalam Pilkada Aceh

Jumat, 11 November 2011 10:13 WIB
Ulama dalam Pilkada Aceh
Tabrani. ZA
Oleh Tabrani. ZA

KETERLIBATAN ulama dalam polemik pilkada di Aceh sepertinya banyak disorot masyarakat luas, karena ulama dianggap bukan menjadi mediator dalam kisruh pilkada di Aceh. Tapi ulama sepertinya hanya mendukung satu pihak, bukan menjadi penengah. Kalau kita lihat dari sisi ini memang sangat disayangkan, karena ulama bukan menjadi penengah dalam konflik pilkada yang terjadi di Aceh.

Legitimasi ulama kepada satu pihak akan memunculkan resistensi pihak tersebut kepada pihak yang dilegitimasi. Karena legitimasi tadi akan dianggap sebagai pembenaran ulama bagi satu pihak dan “penyalahan” kepada pihak lain. Jika ulama sebagai figur sentral dianggap telah membenarkan satu kelompok, maka kemungkinan lahirnya anarkisme satu kelompok yang diberikan legitimasi tersebut terhadap kelompok yang didelegitimasi merupakan sebuah konsekuensi yang sangat terbuka (Teuku Zulkhairi: Serambi, 08/11/2011). Di sinilah ulama dituntut untuk bisa berlaku adil dan menjadi mediator di antara dua kubu yang sedang terjadi konflik, sebagaimana dalam firman Allah QS. Al-Hujarat ayat 9.

Di sisi yang lain, banyak pihak yang menyorot keterlibatan ulama dalam politik di Aceh seperti pernyataan IMM Aceh (Serambi, 26/10/2011) termasuk opini Teuku Zulkhairi (Serambi, 08/11/2011). Sepertinya IMM dan yang lainnya harus melihat kembali definisi ulama dan sejarah. Akan tetapi mendefinisikan ulama dalam perkembangan ilmu sekarang termasuk suatu hal yang sulit. Selain karena perubahan-perubahan sosial yang menggeserkan berbagai peran elite manusia juga karena banyak sekali ilmuwan yang merasa berhak mendefinisikannya. Tetapi, paling tidak semua orang setuju dengan definisi yang diberikan Nabi SAW, yaitu ulama adalah pewaris para Nabi (al-‘ulamaul warasatul anbiya). Yang kemudian menjadi perbedaan pendapat adalah ketika orang menginterpretasikan bagaimana sosok warasatul anbiya itu.

Melihat sejarah Nabi SAW, beliau tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi pembawa wahyu, pengajar ilmu (guru), penjelas mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga berperan sebagai pemimpin negara bahkan dapat dikatakan sebagai negarawan yang mengagumkan. Jika para sahabat Nabi dianggap juga pewaris Nabi seperti Abu bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, mereka pun telah memperlihatkan bahwa mereka juga tidak membatasi diri hanya sebagai guru saja, tinggal di madrasah, dayah-dayah atau pesantren. Ke empat sahabat Nabi ini menerima beban tanggung jawab yang diamanahkan oleh umatnya, yaitu sebagai pemimpin negara. Dan pada masa Muawwiyah, baru kekuasaan ulama dibatasi hanya sebagai hakim dan pemimpin agama saja. Ini dikarenakan Muawwiyah sendiri dalam ilmu agamanya tidak begitu dalam, karena terlambat bergabung dengan kelompok Nabi.

Mengikuti sejarah umat Islam, tidak ada salahnya seorang ulama memegang tampuk pimpinan di sebuah negara. Namun yang perlu dijaga adalah sifat keadilannya. Karena masalah keadilan adalah masalah universal. Siapa pun dan kapan pun menjadi pemimpin ketika dia tidak dapat berbuat adil, dia akan ditinggalkan atau menuai protes, bisa dalam bentuk ringan maupun berat. Islam sendiri adalah agama yang sangat memberikan perhatian pada keadilan.

Karena itu kalau ada yang berpendapat, ulama tidak boleh ikut campur dalam masalah politik, itu berarti kita telah mengabaikan kesuksesan umat Islam dalam sejarah. Akan tetapi, perlu dibuat catatan, bahwa politik yang diperjuangkan Nabi dan juga Khulafaurrasyidin bukan politik partai, bukan politik mazhab, bukan politik aliran, bukan primordial, tetapi politik demi agama dan kemajuan umat dan agama. Berjuang bukan demi sekte, tetapi benar-benar demi kemajuan agama Allah dan persatuan umat, sehingga mereka tidak ada yang merasa takut dengan ancaman, kehilangan jabatan, kemiskinan, bahkan juga penderitaan. Karena yang ditakuti oleh ulama hanyalah Allah. Seperti dijelaskan dalam Al-Quran. (Q.S: Fatir. 28).

Kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun khasanah dan rahmat lil ‘alamin yang harus dicontoh oleh para pewaris Nabi, dalam membawa ajaran untuk kedamaian dunia tidak hanya untuk masyarakat tertentu. Itu berarti para pewaris Nabi harus memahami ajaran Islam secara kaffah termasuk memahami masyarakat dunia. Kalau tidak, maka para pewaris Nabi akan tersekat menjadi ‘pendekar’ untuk orang kampungnya sendiri. Padahal Islam ada di mana-mana, di mana pun pelosok dunia.

Sejarah perjalanan umat Islam telah ditunjukkan kepada kita bagaimana umat Islam dahulu menghormati ulamanya. Karena ulama selalu tampil sebagaimana harapan mereka. Ulama telah tampil membela negara dari penjajahan kaum kafir, seperti Tuanku Imam Bonjol di Padang dan lain-lain. Tidak terkecuali di Aceh, pada era Kerajaan Aceh Darussalam kewibawaan agensi politik ulama sangat dominan. Pada era ini mereka tidak hanya mampu mempengaruhi struktur (negara) akan tetapi juga mampu mengendalikannya. Berbagai konseptualisasi agama dan politik yang menjadi kebijakan negara lahir dari pemikiran mereka (Nizarlin: 2011, 18 dari R.O Winsted: 1958). Ulama telah tampil membela agama dari kehendak orang-orang yang ingin merusaknya. Ulama juga menjadi agen pembangunan dan perubahan yang tanpa tanding. Ulama dan masyarakat saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat, realitas kekuasaan ulama dengan masyarakat ini oleh Giddens disebut dengan dialektika kendali (dialectic of control), (Giddens: 1984, 16).

Hal ini harus dipahami secara seksama sehingga tidak menimbulkan saling menuding apalagi sampai mencerca sesama orang Islam. Jika ada yang dianggap melenceng dari inti ajaran Islam hendaknya didiskusikan secara ilmiah dengan menggunakan argumen yang meyakinkan. Tidak dengan cara menduga. Objek yang didiskusikan benar-benar fakta bukan mendengar dari orang lain atau tulisan orang lain yang sebenarnya juga tidak jelas sumbernya. Karena itu marilah kita belajar dari sejarah. Marilah kita belajar untuk menghormati ulama, ulama yang sebenarnya. Kita sebagai umat jangan hanya bisa, mencerca, mengkritik dan menjelek-jelekkan ulama. Semoga!

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Alumnus Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh.
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
40241 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas