KUPI BEUNGOH
Abusyik, Garnison, dan Tanah Indatu
Fenomena Roni Ahmad dengan Kupiah Mirah seakan mendobrak mitos bahwa politik tidak selalu erat dengan uang.
Oleh: Ridha Yuadi*
BUNYI dentingan sodet yang bertubrukan dengan panci membuat dapur menjadi berisik. Entah sadar, entah tidak, lelaki berbadan gempal itu mengambil pisau besar, lalu mengayunnya dengan cepat.
“Jangan ada yang keluar dari rumah,” pekiknya. Kami diam tertegun.
Garnison menjeda kalimatnya, tak berapa lama, bau harum pun membanjiri udara ketika ikan asin segar yang ditebas dengan pisau tajam itu, tersaji di meja makan.
“Selesaiii, yuk kita makan,” ajak Garnison, yang sebelumnya sudah meracik tongkol tumis.
Ikan asin goreng, yang dipadukan dengan sure tumeh menjadi menu pelengkap makan malam di rumah kontrakannya, kawasan Ulee Kareng Banda Aceh, pertengahan 2015 silam.
Malam itu, lelaki berusia 48 tahun ini terlihat agak letih namun semangat bicaranya masih khas: blak-blakan. Sesekali tawa renyah meluncur dari bibir alumnus Maktabah Tajurra, Libya itu.
Terkadang, ia juga bersikap diam tak banyak bicara, namun di balik ‘pendiamnya’, Garnison adalah seorang pendengar yang baik, ia ingin menyerap hal-hal positif sekaligus menyelami alur berpikir lawan bicaranya.
“Kita asalnya dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah,” ujarnya, dengan sorot mata yang tajam, serius tapi santai.
Baca: Tolak Mobil Mewah, Abusyik Minta Minibus 16 Kursi, Ini Alasannya
Tanah, kata Garnison, kalau tidak digarap akan ditumbuhi rumput-rumputan, ilalang dan pepohonan, bahkan kalau dibiarkan dalam waktu yang lama maka tanah akan menjadi hutan belantara.
“Kalau di atas tanah sudah ada rumput maka yang datang adalah binatang ternak seperti kambing, sapi atau kerbau,” tamsilnya, seperti sedang memikirkan nasib rakyat Pidie, nun jauh di sana.
Nah, salah satu sifat binatang ternak adalah egois dan kerjanya hanya mikirin makan, maksudnya sehari-hari hanya memikirkan makan saja. Lalu kalau tanah ini juga dibiarkan lagi maka padang rumput itu akan berubah menjadi semak belukar, atau menjadi padang alang-alang.
Dan ketika sudah berubah menjadi padang ilalang, maka yang datang bukan lagi binatang ternak, melainkan jenis binatang buas seperti singa dan serigala.
“Sifat dari binatang buas itu lebih buruk dari binatang ternak,” kata Garnison, dengan suara yang kian meninggi.