Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Merawat Damai Aceh dengan Menulis

DALAM senarai kumpulan essay Geunap Aceh; Perdamaian Bukan Tanda Tangan dinukilkan, satu kebiasaan Hasan Tiro

Tayang:
Editor: hasyim

Kelima, personal and grup transformation; dorongan yang akarnya dari keinginan (passion), para pihak yang berkonflik. Melihat sisi bencana dan akibat yang ditimbulkan dari perang dan dampaknya bagi semua orang, sebagai pertimbangan untuk menghentikan konflik. Proses ini tidak sederhana karena cara pandang yang berbeda dari para pihak yang terlibat konflik.

 Mengedepan intelektualitas
Di dalam proses itulah para pembuat konsep perdamaian, tokoh diplomasi memainkan pendekatan yang berbeda sebagai bagian dari babak baru menuju perdamaian dengan mengedepankan intelektualitas dari pada kekuatan fisik dan mesin perang. Tulisan dalam format perjanjian-perjanjian termasuk MoU Helsinki yang kemudian disepakati bersama menjadi bagian dari “senjata” diplomasi.

Dan menjadi benar apa yang diutarakan Nazamuddin, ketika berdialog dengan Hasan Tiro, di Lidinge, Stockholm 3 April 2006, bahwa menulis menjadi senjata yang lebih ampuh dari senapan mesin. Seperti kata orang bijak, jika ingin besar menulislah, jika anda orang biasa menulislah. Meski kata Salman Yoga, penulis asal Tanah Gayo, ikrar Rasullulah pertama di Gua Hira’ adalah iqra’ (bacalah), bukan tulislah!

Namun, perintah baca itu muncul karena tulisan-tulisan kandungan firman telah ditetapkan Allah Azzawajala di Lauhul Mahfuz. Dan dengan perantaraan malaikat Jibril tulisan-tulisan itu diperdengarkan, dibacakan dan kemudian menjadi tuntunan paling hakiki yang kita kenal dengan Alquran. Bahkan dengan basis argumen serupa, dengan menyebut bahwa menulis sunnah Nabi dan Berdamai Sunatullah, Herman RN yang penyair berujar: “Karena saya umat Nabi maka saya menulis”.

Sebagai buah terindahnya, panjangnya konflik kurang lebih tiga dasarwarsa, pada akhirnya reda lewat perjanjian perdamaian Helsinki pada 15 Agustus 2005. Seperti kata petuah hadih maja: Pat ujeun yang hana pirang, pat prang yang hana reda. Bek ta meuprang sabe keudroe-droe, hanco nanggroe reuloh bangsa. Bahwa proses menuju damai abadi harus terus dirawat, sehingga menjadi perdamaian yang tak tergantikan oleh konflik lagi. Sedramatis apa pun “gesekan” dalam nanggroe saat ini, mestinya kondisi tak perlulah menjadi buruk dan damai tetap lestari di tanah endatu ini. Semoga!

Hanif Sofyan, Pegiat Aceh Environmental Justice, Tanjung Selamat, Aceh Besar. Email: acehdigest@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved