Kamis, 23 April 2026

Opini

Otonomi Anak

JARED Diamond, profesor Geografi di UNCLA, mengajukan beberapa

Editor: bakri

Belum lama berselang kasus kejahatan seksual anak di sebuah sekolah internasional di Jakarta, membuat prihatin kita semua. Lingkungan yang notabene dilengkapi dengan segala macam aturan dan jaminan bahwa lingkungan sekolah adalah “rumah kedua” yang aman bagi anak. Kenyataannya justru menjadi ruang kejahatan yang fatal. Jauh dari jangkauan orang tua yang telah menyerahkan tanggung jawab sejak jam masuk hingga jam keluar sekolah.

Pemahaman tentang solusi mengatasi persoalan kejahatan seksual anak yang selama ini cenderung diabaikan kemudian menjadi isu yang hangat dibicarakan. Pemahaman anak-anak tentang urusan seks dan sebagainya menjadi tuntutan yang mulai harus ditanamkan pada anak dalam pendekatan religius. Anak-anak harus memahami atonomi tubuhnya untuk mengetahui apa yang dapat membahayakan, perilaku yang mengarah pada kejahatan atas tubuhnya. Sehingga sekedar ‘berteriak’ dan marah ketika ada bagian tubuhnya yang sensitif diganggu menjadi hal yang harus sudah dipahami anak-anak sejak dini.

Berbagai jalan keluar dilakukan dengan medium kurikulum sekolah, maupun materi pembelajaran yang sedikit banyak memberikan penjelasan tentang tubuh, organ intim dan bahaya yang mengintainya. Anak-anak perempuan menjadi salah satu subyek yang memiliki kekuatiran lebih besar. Sekalipun anak laki-laki juga rentan dari kejahatan seksual, seperti sodomi.

Menurut Jared, sekalipun pandangannya didasarkan pada pengalamannya melihat berbagai jenis kelompok bangsa dan suku tertentu dalam beradaptasi dan memberikan ruang otonomi pada anggota suku, klan dan keluarganya. Pada akhirnya otonomi dalam kadar tertentu dibutuhkan anak sebagai bagian dari otonomi individualnya. Untuk memberikan ruang belajar dan pembelajaran tentang hidup dan kehidupan. Dengan memahami realitas kehidupan yang sebenarnya, dengan bimbingan lingkungan keluarga, sekolah, alam melalui internalisasi nilai-nilai religius dalam semua jenis medium yang memungkinkan bisa terkoneksi, baik realitas maupun nirkabel yang tanpa batas. Selamat Hari Anak Nasional!

* Hanif Sofyan, mahasiswa program Magister UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: acehdigest@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved