Opini
Tradisi ‘Peulheuh Leumo’ Haruskah Dipertahankan?
PEMANDANGAN unik setelah musim panen padi adalah kehadiran ternak sapi yang dapat mencapai
Pertambahan bobot ternak sapi pada sistem pakan yang baik dapat menjadi 0,6-1 kg/hari (2-3 kali lipat dari sistem konvensional). Penggembalaan dapat dilakukan dengan pengontrolan seorang gembala di areal bekas lahan pertanian padi. Apabila peternak memiliki lahan sendiri, maka dapat dilakukan pembuatan paddock untuk memungkinkan rotasi penggembalaan maupun sistem lain yang sangat cocok untuk kawasan kita, yaitu cut and carry system, di mana peternak melakukan pengumpulan pakan hijauan segar untuk dibawa ke kandang.
Sistem cut and carry ini dapat dioptimalkan dengan menggunakan lahan di badan jalan maupun bantaran sungai. Apabila kumpulan sapi tersebut milik beberapa orang peternak, maka dapat diatur sistem pembagian kerja untuk penggembalaan. Selain itu dapat juga dilakukan fermentasi jerami sebagai pakan alternatif selama masa pengandangan. Selama ini jerami dibakar begitu saja setelah perontokan padi. Selama perkandangan sapi juga menghasilkan kotoran yang dapat diolah menjadi biogas dan pupuk kandang.
Sistem semi-penggembalaan harus ditinggalkan. Sikap proaktif peternak dalam bentuk kesadaran untuk tidak membiarkan ternaknya berkeliaran tanpa pengawasan. Begitu pula kebijakan pemerintah untuk mengatasi ternak yang berkeliaran mudah-mudahan menjadi kenyataan dan berkelanjutan. Masa depan cerah untuk perternakan dan pertanian terpadu apabila dilakukan dengan peningkatan teknologi dan ketakwaan. Semoga!
* Dr. Rita Khathir, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email : rkhathir79@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ilustrasi_20160919_120635.jpg)