Minggu, 19 April 2026

Opini

Rahasia Umur

HADIS di atas mendeskripsikan tentang durasi kontrak manusia dengan Allah Swt untuk hidup dalam

Editor: bakri

Oleh Fauzi Saleh

“Umatku berusia antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit sekali yang melewati itu.” (hadis Nabi Muhammad saw)

HADIS di atas mendeskripsikan tentang durasi kontrak manusia dengan Allah Swt untuk hidup dalam dunia ini. Pertanyaannya adalah seberapa efektifkah kita menggunakan umur yang diberikan itu sebagai akumulasi waktu yang sangat pendek ini? Ternyata proses perjalanan sang waktu sangat mulus, sehingga tidak merasa kehadiran dan kehilangannya.

Umat-umat terdahulu berumur lebih panjang daripada umat sekarang. Umat Nabi Adam itu mencapai seribuan tahun, demikian nabi-nabi selanjutnya. Biasanya, umur umat itu ukurannya adalah nabi yang diutuskan mereka. Nabi Muhammad saw sebagai Rasul akhir zaman yang diutus oleh Allah Swt untuk menjadi panutan dan teladan kita berusia 63 tahun. Itu artinya umat Nabi Muhammad saw pun berusia sekitar itu.

Kesadaran (awareness) untuk memanfaatkan umur secara efektif sangat jarang dimiliki manusia. Mengapa kesadaran ini penting? Karena ialah yang mengantarkan manusia berpikir kira-kira berapa lama lagi kira-kira dapat hidup di pentas dunia ini untuk bersiap-siap menuju alam abadi. Kalau begitu, bagaimana frekuensi kebaikan dan ibadah itu terus ditingkatkan dan maksiat semakin dikurang dan ditinggalkan. Gosip, umpat, fitnah, hasud dan dengki semakin dikikis, sementara ibadah dan muamalah terus ditingkatkan. Kesadaran yang mendorong untuk beramal dan berbuat, melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menjauhkan amaliyah yang mudharat dan memudharatkan.

Meraih permata yang hilang itu penting. Apa permata itu? Jawabannya adalah waktu. Al-Qurtubi dalam tafsir Ahkamul Quran menyebutkan andaikata manusia berumur 60 tahun, dapat dipastikan setengah usianya habis untuk tidur dan istirahat, tinggal 30 tahun sisanya digunakan untuk apa setelah dipotong masa-masa balita, kanak dan usia taklif. Bila dikurangi 10 tahun setelah masa tamyiz (masa sudah mampu membedakan mana baik-buruk), sisanya waktu efektif 20 tahun, tapi apakah waktu efektif ini digunakan secara efektif? Belum tentu, 20 tahun ini masih disempatkan untuk obrolan yang tidak bermanfaat, tontonan yang sia-sia, permainan yang memudharatkan dan seterusnya.

Akhirnya, adakah 10 tahun usia yang digunakan untuk ibadah yang merupakan puncak dan tujuan penciptaan itu, sebagaimana firman Allah Swt, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 51). Merujuk kepada ayat ini, kunci kehidupan dalam mengisi umur kita itu adalah ibadah. Tapi, berapa banyak orang yang menggunakan kunci sehingga bisa masuk ke dalam kehidupan yang hakiki guna mempersiapkan amal untuk yaumul mahsyar kelak, ataukah kita hanya bermain di luar “rumah kehidupan” ini yang penuh gurau, tawa dan sandiwara.

Bila manusia yakin akan singkatnya umur, kira-kira seberapa banyak manusia yang sudah berkarya dalam hidupnya. Allah mengajak kita untuk berkarya yang akan dilihat dan dinilai oleh Allah, Rasul dan orang beriman sebagai refleksi kesadaran akan pentingnya umur itu tadi.

Mempersiapkan diri
Ironisnya, manusia justeru tidak banyak mempersiapkan diri untuk itu, meski mereka tahu bahwa kehidupannya akan segera terakhir. Setiap individu yakin pula bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih baik dan abadi. Dalam bahasa agama disebut maa laa ‘aynun ra’at wa laa udzunun sami’at wa khathara fi qalbi al-basyar (sesuatu yang tidak dilihat mata, didengar telinga, dan terbetik dalam hati). Nikmat surgawi ini sangat khas dan spesifik sebagai surprise bagi orang yang beriman dan beramal saleh.

Manusia harusnya selalu melakukan muhasabah untuk melihat berapa umur tersisa. Penulis cenderung mengatakan bahwa manusia ini hakikatnya menyelesaikan sisa umur. Hal itu karena umur yang sudah kita jalani hari ini, lebih banyak dari pada yang tersisa dengan tolok ukur hadis Nabi saw di atas, bahwa usia umat beliau antara 60-70 tahun itu. Pertanyaannya adalah apa content umur tersisa itu?

Alquran memberikan dua kunci sebagai content, yaitu aamanuu (beriman) dan aamilush shalihat (beramal saleh) sebagaimana disebut dalam Surah al-Ashr. Substansi dua lafaz ini tidak simple bila ditelaah secara komprehensif. Fondasi berkarya dalam hidup adalah iman. Iman ini yang dapat menjadikan amal itu sempurna. Iman ini menjadi SOP-nya amal. Bila berbuat karena iman, maka supervisor utamanya adalah Allah. Wa Huwa ma’akum ainama kuntum (Dia bersamamu di mana pun kamu berada).

Pengawasan melekat ini akan mendorong setiap individu berhati-hati dan semangat dengan penuh keikhlasan. Pertanggungjawaban optimal dalam kehidupannya dipersembahkan kepada Allah. Lihatlah Nabi Ibrahim as ketika selesai merenovasi Kakbah. Beliau bersama anaknya berdoa, “Ya Allah, terimalah dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui.”

Kualifikasi amal itu baik ukuranya adalah maqbul disetujui Allah swt. Syarat maqbul itu minimal memenuhi rukun dan syarat baik secara dhahiriyyah maupun batiniyah. Biasanya, amal yang diterima di sisi Allah juga diridhai manusia. Amal maqbul itu tidak bila semata-mata pada aspek materi duniawi semata-mata, tetapi lebih kepada kualitas yang bersifat ukhrawi. Dengan demikian, kualitas amal itu menunjukkan kualitas umur manusia. Semakin berkualitas amalnya maka semakin bermutu pula hari-hari yang dilaluinya.

Bila merujuk kepada content kehidupan yang kedua, amal saleh, maka di sana tersirat karya dan kualitas. Artinya amal yang tidak saleh maka dengan karya yang sia-sia. Saleh secara harfiah bermakna layak, cocok dan pantas. Amal saleh itu bila merujuk kepada leksikal ini maka bermakna amal yang baik dan pantas untuk dilaksanakan karena sesuai dengan tuntunan. Tuntunan itu merupakan standar operasional yang dibuat oleh Allah Swt. Dalam konteks kehidupan agama, standarnya adalah Alquran dan sunnah, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Aku tunggalkan kepada kamu dua perkara, kalau engkau memegangnya maka engkau tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunnah Nabi.”

Kematangan manusia
Bicara umur, bicara angka. Angka yang penting menurut para ulama adalah 40. 40 Tahun adalah umur kematangan manusia. Pada angka ini, manusia dapat dilihat kecenderungan pada kebaikan dan kejahatan. Ulama berpandangan, manusia ketika pada usia ini tidak akan banyak lagi berubah. Semuanya sudah mantap dan mapan dalam kebiasaannya. Bila ia baik, maka akan mantap dalam kebaikannya, sebaliknya bila ia jahat maka ia juga akan mantap dalam kejahatannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved