Opini
Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh
HEBOH mengenai foto Cut Meutia yang tidak berkerudung sebagai penutup kepala dalam lembaran uang kertas
Dalam Tambeh Limong Kureueng Sireutoh (95 bab) karya Syekh Jalaluddin Lam Gut, Aceh Besar 1242 H, pada Bab 66 ia memaparkan batasan aurat perempuan. Berikut isi anjuran tersebut: Tadeungo kupeugah aurat insan, hareuem ta kalon jeub kutika. Ureueng binoe bak ureueng lakoe, hareuem sinaroe jeub anggauta. Hingga rambot nyang diulee, bak ureung lakoe hareuem dumna. Hareuem tilek ureueng lakoe, bak ureung binoe jeub anggauta. Wajeb jitop ureueng binoe, bak ureueng lakoe jeub anggauta (Dengarlah saya katakan aurat manusia, haram dilihat setiap waktu. Aurat perempuan bagi laki-laki, adalah haram seluruh anggotanya. Sampai rambut di atas kepala, haram bagi laki-laki semua. Haram dilihat oleh laki-laki, seluruh anggota tubuh perempuan. Wajib ditutup oleh perempuan, dari laki-laki seluruh anggota badannnya).
Bait di atas merupakan gambaran yang diberikan kepada perempuan akan batasan auratnya terhadap laki-laki dan wajib bagi perempuan untuk menutup aurat dihadapan kaum lelaki.
Nazam Akhbarul Hakim (kabar yang bijaksana) yang merupakan saduran dari kitab bahasa Arab yang berjudul Munabbaha, membahas berbagai hal tentang pedoman hidup umat Islam. Mengenai kerudung penutup kepala bagi wanita, tercantum pada bagian nasehat bagi seorang calon pengantin pria (linto baro), yaitu: Tabri pinggang tabri bajee, yue top ulee oh peureugi. Judo aneuk tapeutimang, jampang jampang ba u Sigli. Sithon siblet tapeurawoh, ngat jitu’oh reusam nanggri (Berikan kain sarung dan baju, suruh tutup kepala saat berpergian. Jodoh hai anak kamu peduli, ajak ke kota Sigli kadang-kadang. Setahun sekali bawa wisata, agar paham resam negeri).
Di bagian nasihat bagi kaum perempuan, Nazam Akhbarul Hakim menyebutkan: Tatem pateh lon wahe Cutma e, hanroh tatajo dalam Nuraka. Watee tameujak wahe Cutma e, bak babah pinto tasawak ija. Tatop ulee troh u baho, bajee tasado u miyub dada (Patuhi saya wahai bibiku, tak sampai maju masuk Neraka. Tatkala pergi wahai bibiku, mulai di pintu pakailah kain panjang. Tutuplah kepala sampai ke bahu, baju tersandar menutup dada).
Meski pun kerudung perempuan Aceh tempo dulu cukup berbeda dengan jilbab pada era sekarang. Namun yang penting diketahui bahwa para wanita Aceh selalu menutup kepala dan rambut mereka. Begitulah!
* T.A. Sakti, Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kula (Unsyiah), penerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI pada 14 Agustus 2003 di Istana Negara, Jakarta, serta peminat manuskrip dan sastra Aceh. Email: t.abdullahsakti@gmail.com
* Siti Hajar, aktivis LSM perempuan dan pegiat sastra dan seni, tinggal di Banda Aceh. Email: sitibintanghue@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/cut-meutia_20161221_110113.jpg)