Opini
Jurus ‘Dewa Mabok’ Trump
BANYAK masyarakat Amerika Serikat (AS) atau dunia terkejut ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS ke-45 pada pilpres 8 November 2016 lalu
Sesungguhnya politik bukan barang baru bagi Trump. Sudah pernah mencalonkan diri pada 2000 melalui Partai Reformasi (sebuah partai kecil di AS), lalu mundur. Dia juga pernah berencana maju untuk pemilihan Gubernur New York pada 2006 dan 2014. Trump juga hampir mencalonkan diri dalam pilpres AS pada 2012, tetapi akhirnya menarik diri.
Bila ditelusuri sebenarnya ideologi politiknya tidak pernah jelas. Trump tercatat telah berkali-kali gonta-ganti partai, mulai dari Demokrat (1987, 2001-2009), Republik (1987-1999, 2009-2011, 2012-sekarang), dan Reformasi (1999-2001).
Sulit diprediksi
Maklum saja seorang pebisnis kaya, tampaknya ideologi partai tidaklah penting baginya. Sikap pragmatisme, terlihat dari caranya menjalankan kampanye presiden dengan jurus-jurus aneh yang sulit diprediksi lawannya. Ada beberapa sikap “mabok” yang dicatat banyak orang seperti melarang umat Muslim datang ke AS dengan memberi tanda khusus. Mau mendeportasi 11 juta orang Hispanik yang tak punya dokumen lengkap.
Dia menghina imigran asal Meksiko. Mengusir wartawan keturunan Meksiko saat sesi wawancara sedang berlangsung. Jorge Ramos adalah pembawa acara terkenal untuk Univision, jaringan televisi hispanik terbesar di AS. Mencela wajah kandidat bakal capres Partai Republik Carly Fiorina saat debat kedua. Mengejek gaya rambut terbaru Hillary Clinton. Masih banyak lagi ocehannya yang dinilai kayak orang mabok.
Pada hakikatnya kemenangan Trump banyak memberikan pelajaran dan renungan bagi dunia. Kemenangannya sekaligus menjungkirbalikkan hasil sebagian lembaga survei top di AS yang telah puluhan tahun begitu dipercaya. Siapa yang tak tau kehebatan Gallu-up, ABC, CNN dan lainnya. Tapi akhirnya para jagoan survei itu harus menggaruk kepala yang tidak gatal. Sepanjang sejarah pilpres AS setelah Perang Dunia II, hasil lembaga survei selalu tak melenceng. Baru tahun ini, lembaga itu harus gigit jari.
Taka ada yang salah dari lembaga survei itu. Yang salah adalah para pemilih yang tersembunyi yang datang ke kotak pemungutan suara di luar jumlah yang diperkirakan para jagoan survei. Trump sebagai orang kaya yang playboy memang banyak bergelimang skandal. Semua memberikan kesan bahwa Trump tak layak menjadi presiden AS. Dia bahkan dianggap sebagai public enemy. Bukan hanya oleh sebagian warga AS, tapi juga masyarakat dunia.
Hanya satu hal yang mungkin kita lupa, Trump adalah pebisnis, dan pemain watak televisi, bukan politikus. Dia tak mau tampil dengan citra orang suci. Karena di masa muda Trump terkenal sebagai “lelaki gatal”, uangnya segerobak, mata wanita mana tak sirna dengan pesonanya, ganteng, muda dan kaya. Ini juga membuatnya bisa menggaet Melania (46) isterinya yang sekarang, mantan model seksi majalah dewasa kelahiran Slovenia.
Melania beberapa kali muncul di sampul majalah Harper Bazaar, Vanity Fair, dan pernah tampil polos di majalah Inggris GQ. Dia bisa berbicara dalam lima bahasa, Slovenia, Serbia, Inggris, Prancis dan Jerman. Kini sebagai first lady AS, baju bikininya yang dulu, sudah disembunyikan di kolong tempat tidur.
Meski ditentang tapi tak ada yang salah pada Trumph, dia sudah memenangi perlombaan menuju Gedung Putih secara fair dan pengakuan Hillary hanya beberapa jam setelah kotak suara ditutup, adalah bukti pertarungan sudah selesai. Ada protes pada Trump, ternyata ketidakdewasaan berdemokrasi juga masih terselip pada rakyat negara adidaya, yang mengaku negara paling demokratis di dunia itu. Kini, setelah sukses dengan jurus “dewa mabok”-nya, Donald Trump adalah fenomena baru dalam drama politik Washington.
Said Mursal, wartawan senior di Banda Aceh. Email: saidmursal22@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/trump-imigrasi_20170130_093920.jpg)