Opini
Kalheuh Pajoh Bu?
UREUNG Aceh, dalam tradisi menikmati makanan terdapat istilah pajoh bu beuleu-leu, engkot beu cut cut
Anak-anak harus diajarkan bahwa menikmati makanan harus dalam porsi yang sesuai dan mencakup semua unsur yang dibutuhkan tubuh. Penjelasan harus diberikan dengan bahasa yang bijak, rasional dan mudah dipahami oleh anak-anak. Jika mindset tentang makanan tidak ditumbuhkan sejak anak masih kecil, maka ketika sudah dewasa, akan sulit untuk memahami tentang pentingnya mengatur pola makan yang sehat, sehingga pola pikir tidak akan membentuk pola makan.
Pola pikir tersebut bisa diubah dengan hidup dalam kesadaran. Sadar bahwa hidup sehat merupakan harga mati, sadar bahwa bahaya kesehatan yang dapat timbul dari makanan yang mereka konsumsi. Karbohidrat yang berlebihan, kurangnya serat dari sayur dan buah-buahan, serta pentingnya berolahraga bagi tubuh. Karena pola hidup sehat ini memiliki manfaat jangka panjang, yang dapat dirasakan bahkan ketika usia menua, juga dampak positifnya dapat dirasakan oleh keturunan kita nantinya.
Seperti yang dikatakan oleh Hippocrates, leave medicines in the chemist’s pot if you can cure your patients with food. Hidup sehat itu merupakan pilihan. Pilihan itu bisa kita mulai dengan makanan-makanan yang kita konsumsi. Juga didukung dengan menjaga kebugaran tubuh. Kita harus mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Itu semua bisa diwujudkan dengan mengubah pola pikir masyarakat, Aceh khususnya, mengenai pentingnya mengatur pola makan yang seimbang dan sehat, serta dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari makanan yang selama ini dikonsumsi secara berlebihan.
Dengan filosofi pajoh bu beuleu-leu, eungkot beucut-cut, sepertinya masyarakat Aceh sangat sulit jika hidup tanpa nasi. Yang perlu ditanamkan di sini adalah edukasi dari bahaya jika mengonsumsi karbohidrat secara berlebihan, dan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, serta memenuhi kebutuhan tubuh dengan berolahraga. Yang tak kalah penting ialah pengenalan terhadap penyakit diabetes itu sendiri. Karena beberapa komplikasi dapat terjadi akibat diabetes, di antaranya kerusakan jantung, saraf, ginjal, kerusakan dan kematian jaringan, kerusakan pembuluh darah, disfungsi seksual, katarak, dan kebutaan.
Faktor ketidaktahuan dan rendahnya kesadaran akan kesehatan inilah yang membuat penderita diabetes semakin meningkat setiap tahunnya. Oleh sebab itu, tentunya sangat dibutuhkan suatu kiat guna menumbuhkan kesadaran masyarakat Aceh mengenai pentingnya gaya hidup dan pola makan yang sehat, serta pengetahuan yang memadai mengenai diabetes untuk mengurangi prevalensi penderita penyakit ini di Aceh.
Cut Eka Zuliyanti, Mahasiswi program S2 Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha). Email: cutekazuliyanti1976@yahoo.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pengungsi-etnis-rohingya-asal-negara-bruma_20150622_092001.jpg)