Opini

Bercadar Wajibkah?

KITA mengetahui bahwa aurat merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam, terutama kaum wanitanya

Bercadar Wajibkah?
SURYA/BENNI INDO
Wulan (kanan) dan Dewi saat mendatangi rektorat Unitri, Sabtu (18/11/2017). Keduanya mengaku dilarang menggunakan cadar. 

Paparan ini sebagaimana diutarakan oleh Imam Syarwani yang menyebutkan bahwa wanita memiliki tiga jenis aurat: Partama, aurat dalam shalat --sebagaimana telah dijelaskan-- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Kedua, aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad. Dan, ketiga, aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha. (Kitab Tuhfatul Muhtaaj, 2:112).

Syaikh Sulaiman Al Jamal dalam hal ini juga mempertegas maksud perkataan Imam An Nawawi bahwa aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan. (Kitab Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411).

Ulasan di atas juga diperkuat oleh Syekh Ibnu Qaasim Al Abadi dalam karyanya yang mengatakan bahwa wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan, wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah. (Kitab Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3:115).

Namun persoalan cadar terhadap wanita khilaf terhadap wajib ataupun tidak itu di luar shalat, tetapi seorang wanita yang memakai cadar dalam shalat dihukumkan kepada makruh, ini disebutkan oleh Syekh Taqiyuddin Al Hushni dalam kitab Kifaayatul Akhyaar, beliau berkata: “Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi, sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar).” (Kitab Kifaayatul Akhyaar, 181).

Kedua, dalam mazhab Maliki, Ibnu Khuwaidz Mindad berpendapat bahwa wanita yang cantik dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah kalau membuka wajah dan telapak tangan, maka wajib ditutupi (Tafsir Qurthubi, Juz 2 hal. 228). Ketiga, dalam kitab Hanafiyyah dijelaskan, “Gadis dilarang menampakkan wajahnya di depan laki-laki lain bukan karena wajah itu aurat, akan tetapi karena takut terjadi fitnah, dan tidak boleh memandangnya dengan syahwat.” (Ad-Darul Mukhtar, 12/284). Keempat, adapun pendapat mazhab Ahmad bin Hanbal, jelas muka dan telapak tangan termasuk aurat secara mutlak.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa semua mazhab, kalau wanita itu masih muda dan akan menimbulkan kemunkaran seperti pandangan lelaki hidung belang, maka wajib hukumnya memakai cadar. Semua sepakat tentang boleh membuka wajah dan telapak tangan dalam keadaan darurat, seperti berobat dan menjadi saksi. Itulah poin di antara yang disepakati oleh ulama mazhab. Sedangkan masalah perselisihannya; apakah wajah dan telapak tangan termasuk aurat atau bukan?

Masrur Salamuddin, M.A., Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, pemerhati masalah sosial dan keagamaan. Email: pejuangsalafi2017@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved