Kupi Beungoh

Aceh Butuh Pemimpin Setegas Waled Husaini

Saya memperhatikan, Tgk. H. Husaini A. Wahab yang akrab disapa Waled Husaini memiliki sejumlah kriteria pemimpin yang tegas.

Aceh Butuh Pemimpin Setegas Waled Husaini
IST
Penulis, Teuku Zulkhairi (kanan) dan Wakil Bupati Aceh Besar, Waled Husaini A Wahab, setelah pengajian KWPSI, di Banda Aceh, Rabu (12/9/2018) malam. 

Di awal pengajian, Waled Husaini mengatakan, alasan kenapa Aceh dulu jaya dan makmur.

Menurut beliau, hal itu terwujud karena saat itu pemimpin berpegang kepada hukum Allah.

Peduli pada agama Allah maka Allah akan peduli kita.

(Duh! Masjid Raya Baiturrahman tak Ramah Lansia)

Hari ini bagaimana agar kita kembali jaya?

Jawabannya menurut Waled adalah dengan kembali sepenuhnya kepada hukum Allah.

Mengutip sebuah ayat, Waled Husaini mengatakan,

“Sekiranya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka pasti Allah akan bukakan kepada mereka pintu keberkahan dari langit dan dari bumi”.

Dalam pengajian ini, Waled Husaini juga menyinggung tentang kepemimpinan yang seharusnya mencintai dan membela Islam.

Beliau bilang kira-kira begini: “Kalau seorang pemimpin ingin dicintai rakyatnya. Maka cintailah Allah Swt. Cintailah Syari’atNya”.

Waled  Husaini memberi contoh, kenapa di Turki rakyatnya melawan tank tentara untuk membela Presiden Erdogan saat kudeta yang gagal dua tahun lalu?

Jawabannya adalah karena mereka mencintai pemimpinnya.

Alasan mengapa mereka mencintai pemimpinnya adalah karena pemimpinnya mencintai Allah.

Maka menurut Waled Husaini, siapa yang taat kepada Allah, umat Islam akan taat kepadanya.

Dalam pengajian ini, Waled Husaini juga sangat serius berharap agar ia terus diingatkan dalam mengemban amanah sebagai wakil Bupati Aceh Besar.

“Jangan biarkan saya jatuh ke jurang. Ingatkan saya jika saya khilaf,” kata beliau.

(Inilah Akhlak, Doa, dan Sifat Hidup Orang Beriman)

Waled Husaini juga mengatakan, untuk apa jabatan kalau tidak menguntungkan bagi agama.

Apa yang kita banggakan dengan jabatan jika rakyat kita makan riba? Apa yang kita banggakan dengan jabatan ini jika rakyat kita tidak paham agama? Ssabu-sabu merajalela? di LP, lembaga pendidikan, dan sebagainya.

Tidak lupa, panjang lebar Waled Husaini merespons isu perintah mengecilkan suara azan.

Sembari membaca beberapa paragraf kitab kuning terkait keutamaan azan, Waled mengatakan:

“Bila perlu suara azan kita pasang mulai dari Masjid Raya terdengar suara hingga ke Seulimum. Azan itu adalah kalimah yang mulia,” kata Waled Husaini menjelaskan.

Menurut Waled Husaini, kalau hari ini kita muliakan kalimah tauhid, maka Allah pasti Allah akan muliakan kita.

Beliau juga mengatakan bahwa Azan adalah marwah ummat Islam sehingga pemerintah pusat beliau harapkan jangan hanya peduli pada satu orang lalu mengorbankan banyak orang.

Terkait dengan aturan “menghentikan kegiatan saat azan berkumandang” yang dibuat di Aceh Besar, Waled Husaini mengaku akan kumpulkan para camat untuk memikirkan bagaimana caranya mewujudkan program ini.

“Kalau ada Camat yang tidak siap jalankan program ini, maka kita ganti dengan camat yang siap menjalankan perintah ini,” tegas Waled.

Seusai pengajian ini, saya memperhatikan para jamaah enggan beranjak dari tempat duduknya.

Banyak yang meminta foto dan mencium tangan Waled Husaini.

Tentulah, penghormatan semacam ini lahir secara alami.

Mereka menaruh hormat karena tahu Waled Husaini tegas membela Syari’at Islam.

* PENULIS adalah Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved