Jumat, 15 Mei 2026

Kupi Beungoh

Aceh Butuh Pemimpin Setegas Waled Husaini

Saya memperhatikan, Tgk. H. Husaini A. Wahab yang akrab disapa Waled Husaini memiliki sejumlah kriteria pemimpin yang tegas.

Tayang:
Editor: Zaenal
IST
Penulis, Teuku Zulkhairi (kanan) dan Wakil Bupati Aceh Besar, Waled Husaini A Wahab, setelah pengajian KWPSI, di Banda Aceh, Rabu (12/9/2018) malam. 

Oleh Teuku Zulkhairi

MASYARAKAT Aceh umumnya sangat mencintai agamanya, Islam. Karena Islam telah mendarah daging dalam diri mereka.

Mereka mewarisi semangat kecintaan kepada Islam dari para endatunya.

Kisah kejayaan Islam di Aceh di masa lalu telah menjadi suatu ingatan sejarah yang tidak mungkin dilupakan.

Maka ada semboyan, Aceh dan Islam lage zat dan sifeut. Sesuatu uang tidak bisa dipisahkan.

Kejayaan masa lalu terwujud antara lain karena faktor ketegasan pemimpinan dalam membela dan memperjuangkan Islam, sehingga menjadi jalan hidup masyarakatnya.

Harus diakui, itulah yang kini dirindukan masyarakat Aceh.

Sebab, orang Aceh paham bahwa kejayaan Aceh masa lalu terwujud karena faktor kecintaan para pemimpinnya kepada Islam.

Saya memperhatikan, Tgk. H. Husaini A. Wahab yang akrab disapa Waled Husaini memiliki sejumlah kriteria pemimpin yang tegas.

Setelah terpilih sebagai wakil Bupati Aceh Besar, dalam beberapa isu, beliau telah membuktikan ketegasannya merespons sejumlah kebijakan yang dinilai “merendahkan” Syari’at Islam.

Beberapa video statemen tegas beliau membela Syari’at Islam menyebar dengan cepat di media sosial seperti Facebook dan Whatsapp.

Misalnya video ketika beliau berbicara isu HAM beberapa waktu lalu.

Dengan bahasa Aceh yang kental, Waled Husaini mengatakan:

“Hana perle HAM gop hino, tanyo di Aceh Besar na aturan Syariat Islam droe teuh".

Sempurna. Secara cepat menjadi viral. Nama Waled Husani pun kian mengharum.

Masyarakat banyak membicarakan beliau.

Saya mampir di sebuah toko kelontong, mendengar pembicaraan penjual di situ membicarakan kesukaannya pada sikap wakil Bupati Aceh Besar, yaitu Waled Husaini.

Orang-orang Aceh mencintai apa yang ada dalam diri mereka, bukan sesuatu yang diimpor dari luar.

Mereka paham sejarah masa lalu bangsanya, dengan apa mereka dulu pernah berjaya.

Waled Husaini yang juga pimpinan dayah ini dengan jabatannya juga menyeru masyarakat Aceh besar untuk menghentikan kegiatan saat Adzan saat berkumandang.

Sempurna, masyarakat sangat menyukai itu. Itulah yang ditunggu.

Dalam beberapa kesempatan diskusi dengan beliau, saya juga menyimak tekad beliau untuk memberantas narkoba di Aceh.

Beliau nampak tidak main-main untuk misi ini.

(Kisah Habib Teupin Wan, Ulama Pejuang yang Terlupakan)

Begitu juga tekad beliau untuk mencegah illegal logging. Beliau khawatir jika suatu saat kelak generasi kita mengalami bencana berat akibat kesalahan yang kita biarkan dilakukan hari ini.

Pengajian KWPSI 

Malam tadi, Rabu 12 September 2018, Waled Husaini mengisi pengajian rutin yang diselenggarakan Kaukus Wartawan Peduli Syari’at Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke.

Sebenarnya, menurut cerita Sekjend KWPSI, Muhammad Saman, sudah beberapa kali pihaknya ingin menghadirkan Waled Husaini dalam pengajian ini.

Tapi baru kali ini Waled Husaini memiliki kesempatan menghadirinya.

Luar biasa, jamaah pengajian tumpah ruah.

Mereka yang berasal dari berbagai komunitas dan latar belakang ini menyimak dengan seksama setiap untaian kalimat-kalimat tegas Waled Husaini.

Di awal pengajian, Waled Husaini mengatakan, alasan kenapa Aceh dulu jaya dan makmur.

Menurut beliau, hal itu terwujud karena saat itu pemimpin berpegang kepada hukum Allah.

Peduli pada agama Allah maka Allah akan peduli kita.

(Duh! Masjid Raya Baiturrahman tak Ramah Lansia)

Hari ini bagaimana agar kita kembali jaya?

Jawabannya menurut Waled adalah dengan kembali sepenuhnya kepada hukum Allah.

Mengutip sebuah ayat, Waled Husaini mengatakan,

“Sekiranya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka pasti Allah akan bukakan kepada mereka pintu keberkahan dari langit dan dari bumi”.

Dalam pengajian ini, Waled Husaini juga menyinggung tentang kepemimpinan yang seharusnya mencintai dan membela Islam.

Beliau bilang kira-kira begini: “Kalau seorang pemimpin ingin dicintai rakyatnya. Maka cintailah Allah Swt. Cintailah Syari’atNya”.

Waled  Husaini memberi contoh, kenapa di Turki rakyatnya melawan tank tentara untuk membela Presiden Erdogan saat kudeta yang gagal dua tahun lalu?

Jawabannya adalah karena mereka mencintai pemimpinnya.

Alasan mengapa mereka mencintai pemimpinnya adalah karena pemimpinnya mencintai Allah.

Maka menurut Waled Husaini, siapa yang taat kepada Allah, umat Islam akan taat kepadanya.

Dalam pengajian ini, Waled Husaini juga sangat serius berharap agar ia terus diingatkan dalam mengemban amanah sebagai wakil Bupati Aceh Besar.

“Jangan biarkan saya jatuh ke jurang. Ingatkan saya jika saya khilaf,” kata beliau.

(Inilah Akhlak, Doa, dan Sifat Hidup Orang Beriman)

Waled Husaini juga mengatakan, untuk apa jabatan kalau tidak menguntungkan bagi agama.

Apa yang kita banggakan dengan jabatan jika rakyat kita makan riba? Apa yang kita banggakan dengan jabatan ini jika rakyat kita tidak paham agama? Ssabu-sabu merajalela? di LP, lembaga pendidikan, dan sebagainya.

Tidak lupa, panjang lebar Waled Husaini merespons isu perintah mengecilkan suara azan.

Sembari membaca beberapa paragraf kitab kuning terkait keutamaan azan, Waled mengatakan:

“Bila perlu suara azan kita pasang mulai dari Masjid Raya terdengar suara hingga ke Seulimum. Azan itu adalah kalimah yang mulia,” kata Waled Husaini menjelaskan.

Menurut Waled Husaini, kalau hari ini kita muliakan kalimah tauhid, maka Allah pasti Allah akan muliakan kita.

Beliau juga mengatakan bahwa Azan adalah marwah ummat Islam sehingga pemerintah pusat beliau harapkan jangan hanya peduli pada satu orang lalu mengorbankan banyak orang.

Terkait dengan aturan “menghentikan kegiatan saat azan berkumandang” yang dibuat di Aceh Besar, Waled Husaini mengaku akan kumpulkan para camat untuk memikirkan bagaimana caranya mewujudkan program ini.

“Kalau ada Camat yang tidak siap jalankan program ini, maka kita ganti dengan camat yang siap menjalankan perintah ini,” tegas Waled.

Seusai pengajian ini, saya memperhatikan para jamaah enggan beranjak dari tempat duduknya.

Banyak yang meminta foto dan mencium tangan Waled Husaini.

Tentulah, penghormatan semacam ini lahir secara alami.

Mereka menaruh hormat karena tahu Waled Husaini tegas membela Syari’at Islam.

* PENULIS adalah Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved