Breaking News:

Opini

Isra Mikraj, Antara Akal dan Iman

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

Isra Mikraj, Antara Akal dan Iman
Umat muslim mendengarkan ceramah Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA

Apa yang ditegaskan oleh Alquran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis menyatakan, “Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai pun kepada sajak. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun.

Sementara itu, teori Black Holes menyatakan, pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja sedangkan 97% selebihnya di luar kemampuan manusia. Tidak semuanya harus dibuktikan secara ilmiah, Kierkegaard tokoh eksistensialisme, seorang harus percaya bukan karena ia tahu tetapi karena ia tidak tahu. Dan itu juga sebabnya Immanuel Kant berkata, “saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya”.

Kalau demikian, seandainya pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra Mikraj, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara ilmiah menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksprimen terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal peristiwa israk dan mikraj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksprimen (M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran).

Kita percaya kepada Isra Mikraj karena tidak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama itu semua diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak semua hal dapat kita rasional-logikakan, terlebih menyangkut peristiwa gaib seperti ini. Ia juga tidak dapat dijelaskan dengan mengemukakan perkembangan yang demikian pesat menyangkut alat-alat transportasi luar angkasa, kerena peristiwa Isra Mikraj terjadi tanpa “alat” seperti yang digunakan oleh antariksawan dan itu pun baru pada jarak yang relatif terbatas, tidak mencapai batas yang dilukiskan dengan Sidratul Muntaha.

Maka yang dikedepankan adalah iman bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi terlebih pengantar uraian peristiwa Israk adalah Surah An-Nahl yang berarti keajaiban, yang mana lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra dan Mikraj.

Perintah shalat
Kemudian, yang perlu digarisbawahi bahwa dalam peristiwa Isra Mikraj ini Rasulullah saw mendapat perintah shalat lima waktu, dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Israk Mikraj itu. Shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak guna mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran, dan jiwa manusia. Shalat dibutuhkan oleh akal dan pikiran manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang cara kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.

Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga pada akhirnya sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.

Menurut para ilmuwan, apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan masyarakat, maka hal itu berarti kita telah “menandatangani” kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut. Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Alquran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra, “Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas, dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga.” (QS. An-Nahl: 26).

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (Ikat) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved