Citizen Reporter

Imam Fasih, Jamaah Khusyuk

FASIH dan merdunya suara Imam Masjidil Haram, Mekkah dan Masjid Nabawi, Madinah, saat mengimami

Imam Fasih, Jamaah Khusyuk
IST
DR Hj NURJANNAH ISMAIL MAg, Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, melaporkan dari Mekkah

Selain praktis, menyimak melalui kedua alat ini juga ada landasan hukum kaidah fikih. Artinya, hukum perantara sama dengan hukum maksud. Bahwa shalat Tarawih berjamaah lebih sempurna jika menyimak bacaan ayat Quran, maka menyimak termasuk melalui kedua alat ini hukumnya juga sunah.

Adapun kelebihan menyimak pakai Alquran dan smartphone sesuai pengalaman saya dan beberapa jamaah lainnya dari Aceh, yakni shalat menjadi lebih khusyuk karena kita mengetahui ayat yang dibacakan imam dengan fasih dan merdu itu.

Dengan demikian, kita juga terus berusaha agar shalat selalu bersamaan dengan imam supaya tak tertinggal bacaan. Selain itu, kita juga mengetahui ketika imam membaca surat sajadah, sehingga langsung sujud tanpa rukuk.

Bahkan, ketika imam terkadang menangis saat membaca ayat tertentu dan kita tak tahu maknanya, maka kita akan berusaha menandai ayat tersebut dalam hati dan akan melihat terjemahan di tafsir nantinya seusai Tarawih atau qiyamul lail (shalat malam).

Lebih dari itu, yang terpenting kita akan sangat menanti-nanti Tarawih atau qiyamul lail berjamaah karena akan menyimak bacaan. Dengan demikian, ketika sebulan penuh itu bisa Tarawih berjamaah di Masjid Nabawi kemudian disambungkan di Masjidil Haram atau sebaliknya, maka sepantasnya kita merasa sudah mengkhatamkan Alquran bersama imam masjid di kedua kota suci ini. Bukankan pahala penyimak ayat Quran sama dengan pembacanya?

Apalagi jika ditambah ulangan sepuluh juz lagi, jika kita tak pernah absen shalat qiyamul lail saat sepuluh akhir Ramadhan. Di samping tentunya juga mengaji sendirian.

Oleh karena itu, saya berharap target bacaan imam dalam Tarawih juga ada baiknya diberlakukan di masjid-masjid di Aceh, setidaknya di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh dan masjid agung di kabupaten/kota.

Tentu kita tak harus mengundang Imam Masjidil Haram atau Masjid Nabawi ke Aceh, melainkan bisa memanfaatkan para hafiz di daerah masing-masing. Dengan demikian, hafiz terbedayakan dengan mulia dan jamaah bisa dilatih khusyuk menyimak bacaan ayat Quran dalam shalat. (*)

Editor: bakri
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved