Kupi Beungoh

Mengintip Potensi dan Peluang Aceh di Tengah Trend Halal Tourism

Label halal pada suatu produk menjadi hal yang sangat utama dan dibutuhkan bagi seluruh umat muslim.

Mengintip Potensi dan Peluang Aceh di Tengah Trend Halal Tourism
SERAMBINEWS.COM/Hand Over
Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala 

Aceh memiliki potensi yang sangat besar dalam penerapan wisata halal.

Sebagai provinsi berjuluk Serambi Mekah, Aceh memiliki budaya Islam yang cukup kental dan kuat dibandingkan daerah lain.

Hal ini dilihat dari penerapan sistem berbasis syariah yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle) masyarakatnya sehari-hari.

Kementerian Pariwisata menargetkan Aceh sebagai destinasi wisata halal yang digunakan untuk menarik wisatawan muslim dunia.

Dibuktikan dengan pencapaian dalam segi pariwisata, Aceh meraih tiga kategori dalam kompetisi pariwisata halal nasional tahun 2016, yaitu “Aceh sebagai destinasi budaya ramah wisatawan muslim terbaik”, “Bandara Sultan Iskandar Muda sebagai bandara ramah wisatawan muslim terbaik”, dan “Masjid Raya Baiturrahman sebagai daya tarik wisata terbaik”.

Baca: Aceh Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Halal Indonesia

Baca: Wali Kota Terima Promotor Wisata Halal Banda Aceh

Baca: Wali Kota Terima Promotor Wisata Halal Banda Aceh

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan BPS pada tahun 2017, sektor pariwisata Aceh bernilai sekitar Rp10,87 triliun atau setara dengan 8,97% dari total perekonomian Aceh.

Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pariwisata di Aceh memiliki peran yang sangat penting.

Selain itu, pada World Halal Tourism Award 2016 di Dubai, Aceh memenangkan dua kategori yaitu World's Best Airport for Halal Travelers dan World's Best Halal Cultural Destination.

Keduanya masuk dalam daftar lima besar terbaik di kategorinya masing-masing, untuk kategori budaya halal, Aceh bersaing dengan dengan Mekkah, Malaysia, Palestina, dan Arab Saudi.

Sedangkan untuk kategori bandar udara, Bandara SIM bersaing dengan Doha Hamad International Airport, Dubai Airport, King Abdul Azeez International Airport, dan Kuala Lumpur International Airport.

Pada 2018 silam, sebanyak tujuh destinasi di Aceh menjadi nominasi dalam Anugerah Pesona Indonesia 2018.

Potensi pariwisata Aceh pun sangat menjanjikan baik dari sisi keragaman dan keunikan budaya, kekhasan kuliner, cita rasa kopi, atmosfir di warung kopi, budaya Islami, dan pesona alamnya yang indah dan natural.

Tidak hanya sampai di situ, dalam pencapaiannya Aceh berhasil meraih peringkat kedua sebagai Destinasi Wisata Halal Indonesia 2019 dari 5 Provinsi di Indonesia melalui standar Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2019 yang mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI).

Peringkat ini diumumkan oleh CEO Crescent Rating dan Halal Trip, Fazal Bahardeen di Gedung Kementerian Pariwisata Indonesia.

Standar IMTI mengadopsi 4 kriteria GMTI yang meliputi: 1. Access, 2. Communication, 3. Environment, dan 4. Services (ACES), dimana masing-masing kriteria tersebut memiliki 3 komponen penting lainnya yang akan menentukan sebuah daerah terpilih sebagai destinasi wisata halal nasional dan internasional.

Mengutip Abdul Kadir Din, seorang pakar yang banyak berbicara tentang konsep wisata halal, bahwa kesuksesan wisata dibangun oleh tiga pilar, yaitu pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat.

Jadi, pemerintah sebagai pembuat kebijakan, pelaku bisnis sebagai orang yang mengembangkan wisata, dan masyarakat sebagai pendukung kegiatan pariwisata harus sama-sama kompak dalam mengembangkan potensi wisata halal ini agar dapat meraih peringkat pertama di tahun 2020 nanti.

Jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh terus meningkat, mencapai 2,5 juta orang, terdiri atas 2,4 juta wisnus dan 106 ribu wisman pada 2018.

Sementara pada 2017, sebanyak 2,3 juta orang, terdiri atas 2,2 juta wisnus dan 78 ribu wisman.

Angka ini diprediksi akan terus meningkat dan ditargetkan angka kunjungan wisnus di Aceh sebanyak tiga juta jiwa dan wisman 150 ribu orang pada 2019.

Sementara, angka kunjungan wisatawan muslim ke Aceh diharapkan juga meningkat, dari 35 ribu pada 2018 menjadi 40 ribu pada 2019.

Dari pencapaian ini terlihat bahwa Aceh memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan wisata halal yang mana dari situ dapat berdampak baik terhadap perekonomian serta sektor lainnya.

Diharapkan juga Aceh dapat menjadi Destinasi Pariwisata Halal Terbaik di Indonesia.

Baca: Merebut Brand Wisata Halal

Baca: Wisata Halal Ala Aceh, Bagaimana Kemasannya?

Pemetaan Potensi Wisata Aceh

Ada beberapa pemetaan kawasan pariwisata halal di Aceh, di antaranya meliputi Banda Aceh dan Aceh Besar untuk budaya yang meliputi atraksi unggulan Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami, PLTD Apung, Pantai Lampuuk, selancar angin, selancar layang, Museum Negeri Aceh, Taman Sari Gunongan, dan Pantai Ulee Lheu.

Kemudian, Sabang dengan destinasi alam meliputi tugu Pulau Weh, snorkeling Pantai Iboih, Tugu Kilometer 0, Pantai Iboih dan Pantai Sumur Tiga.

Baca: Puncak Arus Balik Wisatawan, Kapal Sabang-Banda Aceh Berlayar 10 Trip Hingga Malam

Aceh Jaya dengan alam yang meliputi Teluk Rigaih, Gunung Geurutee, Pasi Saka, Pulau Tsunami dan Arung Jeuram Sungai Teunom.

Selanjutnya Dataran Tinggi Gayo dengan mengusung konsep alam dan budaya yang meliputi Danau Laut Tawar, Pantan Terong, Gua Loyang Koro, Wih Terjun, dan Pantai Menye.

Pengembangan pariwisata halal selanjutnya adalah Singkil Pulau Banyak dengan konsep alam yang meliputi snorkeling, Hopping Island, dermaga Singkil, Desa Pulo Saruk, Pulau Panjang, Melelo, Rangit, Palambak, Tailana, Asok, Lambudung, dan Sikandang.

Baca: Dukung Wisata Halal, Pengusaha Diminta Urus Sertifikasi Halal

Baca: 80 Persen Kopi Gayo dari Koperasi Baburrayan Aceh Tengah Dijual ke Starbucks

*) PENULIS adalah Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved