Jurnalisme Warga

Laweung, Rute Indah Pidie-Banda Aceh

MELIHAT sesuatu yang indah tentu muncul rasa bahagia tersendiri di hati setiap orang

Laweung, Rute Indah Pidie-Banda Aceh
IST
IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Warung Penulis, melaporkan dari Pidie

OLEH IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Warung Penulis, melaporkan dari Pidie

MELIHAT sesuatu yang indah tentu muncul rasa bahagia tersendiri di hati setiap orang. Apalagi jika ia berkesempatan menyaksikan pemandangan indah, sungguh berbunga hati. Alasan sederhana inilah yang memicu hasrat saya untuk memilih alternatif lain kala menumpuh perjalanan Pidie-Banda Aceh.

Selain jenuh melintas pada jalan yang sama, melewati jalur lain tentulah memberikan kesan unik dan menyenangkan. Alhasil, saya bergerak dari Pidie ke Banda Aceh melewati jalur Laweung, Guha Tujoh, hingga Krueng Raya yang berada di Aceh Besar.

Start awal saya lakukan dari Grong-Grong. Rasanya, tak ada penumpang dan pengemudi lintas timur utara Aceh yang tidak tahu Grong-Grong. Sebuah kota kecil di Kabupaten Pidie. Jika sore hari, jalan seputaran Grong-Grong macet total, walau hanya satu kilometer.

Nah, salah satu faktor yang membuat jalan ini macet adalah penjual kaki lima. Konon ada cerita, kenapa padagang di tepi jalan disebut pedagang kaki lima? Sebab penjualnya berkaki dua, dan ada gerobak yang punya kaki/roda tiga. Jadi, tiga roda tambah dua kaki hasilnya lima, maka disebutlah pedagang kaki lima. Konon ada lagi lelucon, kenapa disebut pedagang kaki lima? Sebab biar cepat lari menyelamatkan barang dagangannya saat aparat penertiban melakukan razia. Ya, mereka adalah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Kembali ke poin dasar. Grong-Grong terkenal dengan kuliner sederhana yang rasanya “hanjeut hana”, artinya wajib dirasakan lezatnya. Ya, orang-orang menyebutnya “mie caluk”. Saya yakin sebagian besar di antara kita pernah mendengar mie caluk dan pasti sudah pernah merasakannya.

Ternyata, Grong-Grong menjadi pusat mie caluk Aceh. Karena banyak pedagang mie caluk di lokasi ini. Mulai dari ibu-ibu, para gadis tertarik jualan mie caluk. Dan yang paling menakjubkan, mulai dari anak kecil, para pemuda, hingga nenek-nenek doyan mie caluk. Itu karena rasanya yang selalu menggoyang lidah.

Mie caluk, mi yang khusus diciptakan untuk rakyat dengan harga caluk-caluk, artinya murah. Berkisar antara Rp1.000 dan Rp2.000 per bungkus. Mie caluk terbuat dari bahan dasar mi Aceh yang dikombinasikan dengan bumbu kacang merah dan urap, selain campuran mi dengan bumbu kacang. Juga terdapat jengkol, tahu, dan tempe bumbu. Perpaduan yang bikin selera kian tinggi.

Pasar Grong-Grong selalu ramai oleh pengunjung, dari pagi sampai malam hari. Meskipun mie caluk bisa kita dapati di mana saja, bahkan hampir seantero Aceh ada. Namun, mie caluk Grong-Grong tetap legendaris dan menjadi primadona masyarakat Aceh, khususnya warga Pidie. Biasanya, untuk mendapatkan mie caluk yang rasanya maknyus, kita harus menunggu sore hari. Selain memiliki rasa khas, juga harganya ramah di kantong.

Saya tak ingin melewatkan kesempatan membeli mie caluk, agar jadi bekal pengganjal perut selama perjalanan ke Banda Aceh. Setelah merasa cukup bekal dan oleh-oleh bagi keluarga di Banda Aceh, saya pun bergerak melanjutkan perjalanan melewati Kecamatan Batee dan perbatasan Laweung.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved