Rabu, 22 April 2026

Opini

Hegemoni Barat dalam Intelektualitas Kita

Haruskah intelektualitas kita diukur dengan standarisasi tunggal untuk menegaskan reputasinya? Mestikah kita terdefinisi dengan paradigma intelektuali

Editor: bakri
IST
Syukri Rizki, Alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry, Kandidat Master Program Southeast Asian Studies di Goethe University, Jerman 

Sama halnya dalam konteks masyarakat Aceh di mana ditemukan banyak sekali buah karya para pemikir dalam berbagai disiplin ilmu. Karya-karya mereka masih digunakan dan dirujuk sebagai sumber akademis yang terpercaya, meski indeksasi internasional tidak meliriknya. Lalu, apakah kita harus latah mengekor setiap inovasi yang dikembangkan `pihak luar' yang memonopoli definisi keilmiahan suatu karya tulis? Sangat disesalkan kenaifan ini bisa terjadi di saat semakin merebaknya kesadaran akan hibridisasi budaya.

Meluasnya penggunaan media telah nyaris menghilangkan sekat-sekat antarbudaya. Sehingga permeabilitas produk kebudayaan yang satu terhadap yang lainnya menjadi tidak terelakkan lagi, memungkinkan hibridisasi berbagai fitur nilai untuk menghasilkan suatu produk yang baru. Kita tidak antiterhadap fenomena semacam ini karena banyak terobosan positif yang bisa dilahirkan. Sebagai analogi, menyilangkan dua varietas padi yang sama-sama bagus akan menghasilkan bibit padi unggul yang lebih baik kualitasnya sehingga menambah nilai ekonomisnya

Namun, perumpaan sederhana ini tidak sesimpel kedengarannya jika kita membahas hibridisasi budaya, terlebih budaya akademis. Kita telah terlalu lama pasrah dengan sistem keilmuwan Barat yang semena-mena menginstruksikan bagaimana seharusnya kita menjadi manusia modern dan bagaimana semestinya membuat karya akademis yang berkualitas. Malangnya lagi, kepercayaan diri akan kesanggupan bersaing malah terpasung dalam perasaan rendah diri yang semakin direndahkan.

Menjemput kesadaran

Meski sudah tercebur basah dalam kubangan kapitalisasi kerangka pemikiran, kita tetap bisa merombak paradigma yang telah menjadi keluhan di sebagian besar negeri-negeri timur, termasuk Indonesia. Mengkomunikasikan hasil penelitian dan buah pikiran tidak melulu melalui jurnal bereputasi internasional, apalagi hanya dengan simplifikasi jurnal yang terindeks scopus.

Bahkan dalam prakteknya, orientasi terhadap indeksasi internasional telah membuat "kartel sitasi" di kalangan para ilmuwan yang semakin menciderai nilai relevansi suatu tulisan ilmiah. Meski kita belum memiliki bargaining power yang sanggup mengimbangi hegemoni ini, setidaknya kita sadar akan bobot intelektualitas dan kepakaran para cendikiawan kita, dan sekurang-kurangnya tahu apa yang harus dipertahankan sebagai prinsip yang kita definisikan sendiri.

Kita sudah cukup letih dengan permainan eurosentris yang seakan tidak ada penghabisannya. Semestinya di samping mengamini setiap rentetan `dikte' yang digaungkan Barat, kita juga harus percaya diri dengan corak kultur akademis kita. Bukankah budaya intelektual Islam kitalah yang terlebih dahulu berkontribusi untuk Barat sehingga ia bisa `tercerahkan' seperti sekarang ini? Lantas, mengapa sekarang kita latah mengikuti setiap titah yang belum tentu baik dan berfaedah.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved