Kupi Beungoh
Jangan Tergiur Bekerja di Malaysia, Sama Ada yang Sudah di Malaysia Jangan Tergiur Kerja di Aceh
Adapula yang tergiur untuk bertarung dalam konstelasi pilkada maupun menjadi caleg, terutama dari partai lokal.
Dia pulang bagaikan panglima perang yang tak punya pengetahuan tentang peta di tanah seberang.
Akibatnya, banyak dari mereka kini sudah bagaikan dihidang buah simalakama, makan mati ayah tak makan mati ibu.
Bertahan di Aceh hidup tak menentu, kembali ke Malaysia pun merasa malu.
Kedai runcit atau usaha yang dibangunnya dengan susah payah di Malaysia, terbengkalai atau sudah dijual.
Seorang kawan bercerita, hidupnya betul-betul hancur karena tergiur dengan narasi-narasi indah di tanah kelahirannya.
Tiga kedai runcitnya sudah dijual semuanya.
Seluruh uang sudah habis untuk biaya mengurus berbagai keperluan proyek yang diidamkan.
Tapi proyek itu tak pernah datang kepadanya.
• Pengusaha Aceh di Malaysia Dirikan GUAM, Sediakan Asuransi Kematian Bagi Anggota yang Kemalangan
• Pengusaha Aceh Berharap Bisa Kerjakan Proyek APBA, Jangan Sampai Jadi Penonton di Daerah Sendiri
• Ada ‘Hantu’ dalam Proses Lelang Proyek APBA
Wahai kawan, tulisan ini sejatinya adalah pengingat bagi diri saya.
Seraya berharap mudah-mudahan Anda juga membaca dan meresapinya.
Intinya, kita jangan selalu melihat ke atas, hanya melihat orang-orang yang sukses di bidangnya.
Kita tak pernah mencoba menelusuri, bahwa kesuksesannya tidak diraih dengan mudah.
Semuanya butuh proses yang lama, tidak semudah membalik telapak tangan.
Sama ada dengan sukses yang kita raih sebagai pedagang kedai runcit di Malaysia.
Butuh puluhan tahun bagi kita untuk sampai pada kondisi saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jafar-insya-reubee-malaysia.jpg)