Jurnalisme Warga
Meugroeb, Tarian Perang dari Pidie
INDONESIA merupakan negara yang sangat kaya. Selain kaya akan hasil alam, negara bersemboyan Bhineka Tunggal Ika ini pun kaya akan budaya

Tahun 2016 salah satu gampong (desa) yang masih menyuguhkan tarian meugroeb kepada khalayak ramai adalah yaitu Gampong Pulo Lueng Teuga, itu pun hanya setiap malam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Jika malam Lebaran ada takbiran, di Gampong Pulo Leung Teuga ada agenda tambahan yakni tarian meugroeb.
Meski sebelumnya merupakan tarian perang, kini tarian tersebut menjadi budaya untuk media silaturahmi di gampong itu. Tujuannya untuk memperkenalkan pendatang kepada masyarakat gampong, seperti tamu atau pengantin pria (linto baro), baik yang berasal dari gampong atau warga sekitar.
Harapannya
Masyarakat Gampong Pulo Lueng Teuga menganggap tarian ini merupakan peninggalan sejarah yang wajib dilestarikan agar generasi Aceh dapat mengetahui dan menyaksikan peninggalan leluhur tersebut.
Pada tahun 2014 tarian meugroeb pernah ditampilkan pada penutupan Pedir Raya Festival, di mana masyarakat menyambutnya dengan sangat antusias, sehingga setelah acara itu banyak masyarakat yang jadi tahu tentang keberadaannya, tapi saya belum mendapatkan informasi apakah setelah itu pernah atau tidak ditampilkan lagi tarian ini di depan khalayak ramai.
Tarian meugroeb akan menjadi identitas bagi masyarakat Pidie. Sebagai warga Pidie, saya sendiri baru mengetahui keberadaan tarian ini, lalu bagaimana dengan generasi mendatang, apabila tidak dilestarikan. Jadi, sangat disayangkan jika tarian tersebut punah dari budaya kita, jangan sampai orang asing lebih mencintai budaya peninggalan leluhur kita yang sangat berharga ini.
Nah, bagi Anda yang tertarik untuk menyaksikan tarian meugroeb, jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung ke Pidie, karena Pidie akan meberikan sensasi yang berbeda yang susah untuk dilupakan.