Jumat, 1 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara

SEBUAH seminar yang mengusung tema “Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara” digelar di aula lantai 3 Gedung Pascasarjana

Tayang:
Editor: bakri
IST
ARKIN, S.IP., alumnus Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh 

Narasumber lainnya, Prof  Misri A Muchsin MAg, Guru Besar dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh membahas tentang Kesulthanan Samudra Pase: Titik Nol Peradaban Islam di Asia Tenggara menjelaskan bahwa penetapan Barus sebagai titik nol atau titik awal sejarah Islam di Nusantara itu sah-sah saja, tetapi ini menjadi problem historis yang berkepanjangan sejak seminar sejarah tahun 1963. Oleh karenanya, kekuatan data yang digunakan oleh ahlilah yang menentukan kekuatan argumentasinya.

“Pendapat yang menyatakan Barus sebagai titik awal masuk Islam, mengacu pada makam di kompleks Mahligai dan hasil yang dicek ke sana rata-rata makam abad 11-12 Masehi. Makam di kawasan Barus lebih tua adalah makam yang berada di puncak Bukit Tangga Seribu yang berangka tahun 804 M,” kata Misri di hadapan ratusan peserta seminar yang berhadir.

Prof Misri menegaskan bahwa Samudra Pase merupakan Titik Nol Peradaban Islam di Asia Tenggara. Menurutnya, Samudra Pase di samping menghasilkan mata uang, juga memiliki stempel kerajaan yang menjadi contoh model untuk kerajaan lain di Asia Tenggara, seperti Melaka, Johor, Sulu di Filiphina dan Pattani di Thailand, serta Aceh Darussalam.

“Samudra Pase sebagai sentra pusat peradaban Islam adalah warisan pusaka (herritage) sebagai produk budaya pada masa kejayaannya yang masih tersisa sampai terakhir ini. Misalnya, mata uang emas dan perak, stempel kerajaan, kompleks makam di Gampong Beuringin, dan produk budaya tangible lainnya,” jelasnya.

Menurut Prof Muchsin, produk budaya tak benda atau jenis intangible, misalnya tulisan aksara Arab Melayu atau Arab-Jawi, sistem sosial politik, sosial ekonomi perdagangan, dan sistem sosial keagamaan seperti Ahlussunah wal Jamaah yang masih dianut dan dilegalkan secara mayoritas oleh masyarakat dan Pemerintah Aceh hingga dewasa ini.

Seminar nasional ini dibuka resmi oleh Rektor UIN Ar-Raniry yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry, Dr Gunawan MA PhD. Turut hadir Ketua Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh, Nasir Djamil MSi, Anggota DPD RI asal Aceh, Fadhil Rahmi Lc, Dekan FAH UIN Ar-Raniry, Dr Fauzi Ismail, dan Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari. 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved