Salam

Pakai Sistem Blok untuk Cegah Kebakaran Berulang  

MUSIBAH kebakaran kembali terjadi di Aceh. Kali ini melanda Aceh Singkil, tepatnya di Desa Ujung, Kecamatan Singkil

Pakai Sistem Blok untuk Cegah Kebakaran Berulang   
SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI
Kebakaran hanguskan rumah penduduk Desa Ujung, Singkil, Aceh Singkil, Kamis (20/2/2020). 

MUSIBAH kebakaran kembali terjadi di Aceh. Kali ini melanda Aceh Singkil, tepatnya di Desa Ujung, Kecamatan Singkil. Dalam peristiwa pada Kamis (20/2/2020) pagi itu 16 rumah dilaporkan rusak berat dan tiga rusak ringan.

Tidak ada korban jiwa, namun akibat peristiwa ini sebanyak 100 warga Desa Ujung Singkil yang kehilangan tempat tinggal terpaksa mengungsi.

Selain itu, banyak sekali di antara korban yang tidak sempat menyelamatkan harta bendanya karena api begitu cepat melahap rumah- rumah berkonstruksi kayu dan dibangun berdempetan bagaikan gerbong kereta api tersebut.

Lokasi tempat terjadinya kebakaran merupakan permukiman tua seiring dengan dipindahkannya Kota Singkil lama ke Kota Singkil Baru (New Singkil) pada awal abad ke-19. Selain itu, lokasi dimaksud merupakan kawasan yang penduduknya paling padat di wilayah Aceh Singkil.

Dulu, sejak zaman Belanda hingga awal kemerdekaan, rumahrumah itu dibangun dengan sistem blok. Per sekian rumah ada gang yang lebarnya minimal empat meter. Dengan pola seperti itu, jika terjadi kebakaran, api biasanya bisa dicegat atau diblokir di gang sehingga tak merembet dan membakar begitu banyak rumah di sisi kiri dan kanannya.

Tapi setelah tahun 1980 sepertinya pengawasan pembangunan rumah di Singkil mulai longgar. Keharusan tentang izin mendirikan bangunan (IMB) sepertinya tidak jalan. Buktinya, mulai banyak rumah yang dibangun justru di atas gang. Entah bagaimana bisa orang membeli tanah yang awalnya merupakan gang.

Kondisi seperti ini membuat permukiman masyarakat di Desa Ujung dijuluki “kampung gerbong kereta api” atau “kampung deret” dengan pola perumahan sambung-menyambung antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Batas penyekat antarrumah hanya dibatasi oleh satu dinding. Semua bahan bangunannya pun terbuat dari bahan kayu. Hanya beberapa rumah yang semipermanen, karena memang sangat susah mendapatkan batu maupun batu bata untuk membangun rumah beton di Singkil.

Kondisi seperti itu terbukti selain tidak sehat karena terbatasnya cahaya matahari yang masuk, juga sangat rawan terhadap kebakaran.

Andai saja satu rumah terbakar maka dengan cepat menjalar ke rumah-rumah yang lain. Faktanya, bencana kebakaran memang kerap berulang di Singkil.Serambi mencatat, pada tahun 2006 terjadi kebakaran yang menghanguskan 12 buah rumah. Setahun berselang kebakaran kembali terjadi dan menghanguskan 13 rumah. Kasus terbaru, pada tanggal 20 Februari 2020, masyarakat Desa Ujung kembali berduka karena terjadi lagi musibah kebakaran yang mengakibatkan 19 buah rumah habis dilalap si jago merah. Untuk menghindari terjadinya kembali kebakaran massal sudah saatnya pola pembangunan permukiman di Aceh Singkil dan di daerah lainnya di Aceh kembali ke pola yang diterapkan Pemerintah Belanda, yakni dibuat blok-blok perumahan secara terpisah. Untuk memisahkan blok-blok perumahan tersebut dibuat kembali lorong tau gang-gang. Sehingga, jika terjadi kebakaran dengan cepat dapat dilokalisir, tidak sampai menjalar ke blok perumahan lainnya.

Rumah-rumah yang terbuat dari kayu seharusnya memerlukan perlakuan khusus karena terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Instalasi listriknya pun harus lebih sering dicek sehingga listrik tidak menjadi faktor pemicu kebakaran lantaran terjadinya hubungan arus pendek (korsleting listrik).

Sehubungan dengan musibah kebakaran yang menimpa permukiman masyarakat Desa Ujung kiranya Pemkab Singkil perlu segera melakukan evaluasi terhadap perkampungan dengan pola gerbong kereta api atau kampung deret seperti yang kini ada.

Evaluasi sangat diperlukan untuk menentukan layak tidaknya masyarakat menempati perumahan tersebut. Seandainya pemkab menilai rumah-rumah tidak layak lagi dihuni sebaiknya segera lakukan revitalisasi. Revitalisasi perumahan tersebut dilakukan agar setiap kelompok masyarakat memperoleh rumah yang layak huni sekaligus terjamin keamanannya, terutama dari bahaya kebakaran. Agar tidak membebani anggaran pemerintah daerah kiranya kegiatan revitalisasi dapat dilakukan bertahap, terutama untuk permukiman dengan kondisi perumahan yang memprihatinkan. Program revitalisasi tersebut dapat dijadikan program andalan pemerintah daerah, misalnya melalui kegiatan “bedah rumah”.

Selain itu, rumah-rumah yang kini berada di atas gang harus diganti rugi dan dipindah, sehingga tersedia koridor atau space untuk mendukung pola blok dalam permukiman warga. Dengan cara inilah kita berharap kebakaran yang menyebabkan kerugian massif tidak terulang. Bagaimanapun, “sedia payung sebelum hujan” jauh lebih baik daripada panik menghadapi bencana yang tiba-tiba terjadi. Jangan pula menunggu sampai terjadi kebakaran lagi baru dilakukan kegiatan pembangunan kembali seperti yang dilakukan selama ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved