Jurnalisme Warga
Bandara Geulanggang Labu, Kenangan pada Masa Jepang
MELETUSNYA Perang Dunia (PD) II pada tahun 1941 tidak hanya menghancurleburkan Eropa dan Asia Timur, tetapi juga Pemerintah Hindia Belanda di Asia Ten
OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporakn dari Matangglumpang Dua
MELETUSNYA Perang Dunia (PD) II pada tahun 1941 tidak hanya menghancurleburkan Eropa dan Asia Timur, tetapi juga Pemerintah Hindia Belanda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Setelah tentara Belanda kembali ke negaranya, datanglah penjajah baru, yaitu Jepang. Ada versi yang menyebutkan bahwa tentara Jepang saat itu datang ke Aceh dari Singapura karena diundang oleh pejuang dan ulama Aceh untuk mengusir Belanda. Dan faktanya, karena Jepang masuk, Belanda pun angka kaki. Salah satu daerah yang dikuasai oleh fasisme Jepang pada masa itu adalah Geulanggang Labu di wilayah Peusangan, Bireuen. Sebelum mekar dari kabupaten induknya, Bireuen dulunya adalah bagian dari Kabupaten Aceh Utara.
Pesawat udara adalah salah satu sarana pertempuran pada PD II, disamping itu juga sebagai alat transportasi utama pengangkut bahan makanan, perlengkapan perang, dan juga pengangkut perajurit perang.
Keberadaan bandara tentunya menjadi kebutuhan penting dan harus dipenuhi. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa di Geulanggang Labu, Peusangan, Bireuen, pada masa penjajahan Jepang dibangun bandar udara (bandara). Walaupun bandara ini kecil jika dibandingkan dengan beberapa bandara lain di Indonesia, tetapi para pilot dapat mendaratkan pesawatnya dengan mulus.
Pada masa itu anak-anak dan dewasa bila mendengar suara deru mesin pesawat akan berlarian menatap langit mencari tahu di mana sumber suara tersebut, karena masih pesawat kala ini masih menjadi benda yang langka, terutama di Peusangan.
Geulanggang Labu adalah salah satu desa di Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, berpenduduk ± 651 jiwa dengan jumlah KK 180, sebagaimana yang disampaikan Pak Syahrul, sekretaris desa (sekdes) kepada saya.
Menuju desa ini kita harus menempuh jarak ± 7 km dari ibu kota Kecamatan Peusangan, Matangglumpang Dua. Menurut sekdes setempat, berdasarkan informasi yang berkembang secara turun-temurun, di desa ini dulunya ada lapangan/geulanggang berupa hamparan luas tempat berkumpulnya sapi yang digembala oleh warga. Jika dibandingkan dengan desa lain maka Geulanggang Labu kondisi tanahnya jauh lebih datar dan padat, serta didukung pula oleh keberadaan lahan berupa hamparan yang luas.
Pada masa penjajahan Jepang, berbagai fasilitas yang dibutuhkan diupayakan oleh penguasa pada masa itu. Salah satu permintaan mereka adalah agar pemerintah menyediakan satu lapangan terbang. Setelah bermusyawarah akhirnya ditetapkan untuk dibangun bandara di Desa Geulanggang Labu yang saat itu masih dalam wilayah Kecamatan Peusangan sebelum pemekaran.
Sebelum tentara Jepang mendarat di Aceh, menurut cerita dari sebuah buku yang saya baca, sudah lebih dahulu beberapa orang pimpinan Jepang tiba di Aceh, dengan tujuan mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk menyambut bala tentara Jepang, walaupun pada saat itu belum seluruhnya pasukan Belanda pulang ke negarannya.
Membangun lapangan terbang dalam waktu yang singkat tentu membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Apalagi diharuskan memenuhi persyaratan minimal yang normal untuk landasan pacu, yakni 1.850 meter. Namun, perlakuan untuk bandara kecil tentu berbeda pada masa itu.
Pimpinan pasukan Jepang telah mewajibkan kerja paksa kepada masyarakat untuk membangun lapangan terbang di Geulanggang Labu, termasuk juga pelajar Madrasah Almuslim Peusangan yang tak terlalu jauh dari lokasi pembangunan bandara. Mereka diwajibkan kerja paksa selama satu minggu dalam sebulan, sehingga para pelajar tak lagi mengikuti pendidikan sebagaimana layaknya. Ini pula salah satu sebab mengapa pada saat penjajahan Jepang mutu pendidikan di Almuslim menurun drastis.
Setelah selesai pembangunan bandara, akhirnya pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat dengan mulus di tanah Aceh, yaitu di Geulanggang Labu dan disambut masyarakat dengan sukacita, karena dalam bayangan mereka akan hidup lebih baik lagi jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda.
Masa penjajahan Jepang dimulai pada tahun 1942 sampai dengan 1945, ± 3 tahun lamanya. Jepang mengaku kalah setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom tentara Amerika Serikat pada Agustus 1945. Ketika Soekarno dan Hatta membacakan teks proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, saat itu secara resmi Jepang meninggalkan Indonesia, namun masih ada sebagian tentara Jepang yang memilih tetap di Indonesia dengan bermacam cara.
Pada saat kembali ke negaranya ada juga tentara Jepang yang membawa perempuan Aceh menjadi istrinya, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh salah seorang sahabat saya di Nagoya, Jepang bahwa neneknya adalah orang Aceh, tetapi tak pernah pulang ke Aceh.
Setelah tentara Jepang ke kembali ke negaranya otomatis tak ada lagi aktivitas penerbangan di Bandara Geulanggang Labu, maka seluruh lahannya dikembalikan kepada penguasa saat itu, yaitu Ulee Balang Ampon Chiek Peusangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-dosen-fakultas-ekonomi-universitas-almuslim-peusangan.jpg)