Jurnalisme Warga
Bandara Geulanggang Labu, Kenangan pada Masa Jepang
MELETUSNYA Perang Dunia (PD) II pada tahun 1941 tidak hanya menghancurleburkan Eropa dan Asia Timur, tetapi juga Pemerintah Hindia Belanda di Asia Ten
Sisa perlengkapan prajurit Jepang yang tinggal saat itu di Bandara Geulanggang Labu hanyalah drum berisi minyak yang ditumpahkan oleh masyarakat dan diambil hanya drumnya saja, kemudian kabel telepon yang terpasang juga ditarik paksa sebagaimana yang disampaikan oleh Teungku Nas yang ayahnya adalah pelaku sejarah masa lalu.
Kemudian, lahan tersebut diserahkan kembali kepada masyarakat untuk digunakan sebagai lahan menanam aneka buah-buahan atau tanaman yang bermanfaat yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Menurut Nek Din, salah seorang warga Geulanggang Labu, pada masa kekuasaan Ulee Balang Ampon Chiek Peusangan ada ketentuan atau peraturan apabila ada masyarakat yang memiliki lahan/kebun tidak membersihkannya dalam jangka paling lama enam bulan, maka lahan tersebut akan diambil alih untuk pemerintah gampong/desa setempat. Ketentuan ini sampai sekarang masih berlaku, khususnya di dalam wilayah Kecamatan Peusangaan sebelum pemekaran.
Kondisi Bandara Geulanggang Labu saat ini hanya tinggal kenangan. Lahan yang dulunya berupa hamparan luas, sekarang dipenuhi pohon kelapa yang menjulang. Ada masyarakat yang menanam rumput gajah (Pennisetum purpurium) untuk makanan ternak sapi, ada juga sebagian kecil dari lahan tersebut yang digunakan oleh masyarakat sebagai tempat menggembala sapi.
Masyarakat Geulanggang Labu pada umumnya adalah petani dan peternak sapi. Potensi desa yang dikembangkan di sini berupa perkebunan kelapa. Pohon kelapa juga sering disebut sebagai pohon kehidupan karena dia akan terus berbuah selama kita terus memeliharanya dengan baik, tidak hanya mengambil buah, tetapi juga perlu merawatnya. Selain pohon kelapa masyarakat Geulanggang Labu juga banyak menanam pohon cokelat (kakao) dan rambutan karena didukung oleh tanah yang subur.
Walaupun Bandara Geulanggang Labu sudah tiada, tapi masyarakat masih dapat menerbangkan cita-citanya setinggi langit, terutama para generasi muda harapan bangsa yang tidak hanya menerima apa adanya, tetapi harus mampu membawa perubahan untuk diri dan desanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-bariah-dosen-fakultas-ekonomi-universitas-almuslim-peusangan.jpg)