Salam

Warkop Membandel Harus Ditindak Tegas

ACEH akhirnya tercatat sebagai provinsi yang juga terinfeksi virus corona. Sama seperti provinsi lainnya di republik yang amat luas

SATLANTAS POLRES ABDYA
Patroli gabungan dipimpin Kasat Lantas Polres Abdya, Iptu Fitriadi SH, Selasa (24/3/2020) malam, mengimbau warga yang masih berkumpul di warkop dan café kawasan Kota Blangpidie dan sekitarnya agar pulang ke rumah guna mencegah penyebaran Covid-19)       

ACEH akhirnya tercatat sebagai provinsi yang juga terinfeksi virus corona. Sama seperti provinsi lainnya di republik yang amat luas ini. Hal ini ditandai dengan adanya satu pria Aceh Utara yang diduga terinfeksi Covid-19 dan dirawat di Rumah

Sakit Arun, Lhokseumawe, kemudian dirujuk ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, akhirnya meninggal di Banda Aceh dalam status pasien dalam pengawasan (PDP) pada 23 Maret 2020.

Dua hari kemudian, pihak RSUZA mengumumkan bahwa pasien yang meninggal itu positif corona, berdasarkan hasil uji lab swab yang bersangkutan di Balitbang Kemenkes RI. Jumat (27/3/2020) kemarin tiga orang lagi warga Aceh dinyatakan positif corona. Satu orang pria berasal dari Aceh Besar, sedangkan dua lagi berstatus pasangan suami istri yang berdomisili di salah satu kecamatan dalam Kota Banda Aceh.

Melihat fakta ini rasanya sangat tepat apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, yakni terus gencar melakukan langkah langkah preventif dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona. Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia kemarin bahwa bentuk pencegahan yang dilakukan oleh Pemko Banda Aceh adalah meminta pengelola wahana permainan ditutup total sampai ada instruksi lebih lanjut dari pemerintah.

Sedangkan warung kopi, kafe, dan restoran diminta untuk tidak menyediakan meja dan kursi sementara waktu. Kalau pengunjung ingin membeli sesuatu dari warkop atau kafe cukup minta dibungkus saja dan langsung dibawa pulang atau dengan sistem ‘take away’. Dengan demikian, tidak ada pengunjung yang berhimpun atau kongkow-kongkow di warkop atau kafe seperti biasanya. Ini dimaksudkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Akan tetapi, dalam pantauan Harian Serambi Indonesia, imbauan Wali Kota Banda Aceh itu tidak seluruh pengelola warkop, kafe, dan restoran mematuhinya. Beberapa warkop dan kafe cara sembunyi-sembunyi masih menerima dan melayani pengunjung, meskipun pintu depan tampak ditutup. Permainan kucing-kucingan seperti ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus berlangsung. Sebab, hal ini tidak akan efektif memutus mata rantai penyebaran virus corona di Banda Aceh maupun di kabupaten/kota lainnya di provinsi ini.

Oleh karenanya, baik Wali Kota Banda Aceh maupun seluruh bupati/wali kota di Provinsi Aceh harus bertindak tegas, yakni tanpa tedeng aling-aling untuk menindak para pengelola warkop, kafe, dan restoran yang tidak mengindahkan larangan agar tidak menyediakan meja dan kursi sementara waktu di tempat usaha mereka. Perlu dipikirkan cara penindakan yang tegas ersebut. bukan saja dengan cara mengerahkan petugas Satpol PP dan wilayatul hisbah pada malam hari, tetapi pada siang hari pun mereka harus rutin merazia warkop, kafe, dan restoran. Pengelola usaha yang bandel maupun pengunjung yang tetap ingin kongkow-kongkow di warung atau kafe sudah saatnya diberikan sanksi yang bisa menimbulkan efek jera.

Misalnya ditahan sementara di sel polsek dan polres atau langsung dicambuk atau diwajibkan membayar denda.

Pendeknya, tindakan tegas memang sudah harus diberlakukan sehingga tidak semakin banyak warga yang  bandel tetap berada di luar rumah dalam kondisi krisis corona seperti saat ini. Harapan kita semoga semoga seluruh warga Aceh disiplin tanpa sungguh-sungguh mematuhi himbauan dan larangan agar membatasi diri berada di ruang publik. Semoga kita terhindar dari corona dan tidak menjadi “carrier” terhadap orang lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved