Breaking News:

Kupi Beungoh

Bolehkah Tunda Angsuran Kredit dan Utang dalam Kondisi Darurat Wabah Corona? Begini Perspektif Fiqh

Dalam perspektif fiqh, Kondisi yang sedang dihadapi masyarakat dunia saat ini masuk dalam kategori al-syiddah atau darurat.

IST
Dr Tgk H Ajidar Matsyah Lc MA, Pimpinan Dayah Tinggi Islam Samudera Pase. 

Akibatnya ekonomi pun lumpuh secara global, tak terkecuali wilayah Aceh.

Kondisi ini dalam perspektif fiqh masuk dalam kategori al-syiddah atau darurat.

Status kondisi darurat seperti hari ini dan barangkali beberapa waktu ke depan mempengaruhi efek hukum bagi pemberi utang, pemberi pinjaman dan pemberi kredit terhadap penghutang, peminjam dan pengambil kredit.

Dalam perspektif fiqh, jika seseorang yang berutang berhadapan dengan kondisi seperti bencana wabah hari ini, sehingga menyulitkan baginya untuk membayar hutang atau angsuran kredit, maka pihak pemberi pinjaman atau kredit dianjurkan untuk menunda sementara penagihan atau pemotongan angsuran kredit yang sedang berjalan.

Anjuran ini dapat dipahami dari maksud ayat berikut;

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 280).

Menurut Tafsir al-Thabari (Vol.VI, hal.31-32), terdapat beberapa riwayat terkait penafsiran kata ila maisaratiin pada ayat di atas.

Sebagian riwayat menyebutkan makna ila maisaratiin tunggu sampai ia kaya.

Sebagian riwayat yang lain menyebutkan makna ila maisaratiin tunggu sampai ia mencukupi kebutuhan.

Bahkan dalam riwayat yang lain lagi menyebutkan makna ila maisaratiin ialah tunggu sampai ia mati.

Artinya ketiga-tiga riwayat tersebut sepakat bahwa keharusan bagi pemberi pinjaman, pemberi utang dan pemberi kredit untuk menunda sementara waktu penagihan dan pemotongan kredit sampai keadaan kembali normal.

Lembaga keuangan sebagai central peminjaman masyarakat sudah selayaknya tampil dengan sigap dalam kondisi al-syiddah (darurat) ini.

Lembaga keuangan ikut serta membantu masyarakat, khususnya nasabahnya yaitu dengan menunda penagihan dan pemotongan angsuran kredit nasabahnya.

Penundaan penagihan dan angsuran kredit dalam kondisi seperti ini, terutama di Aceh, merupakan bagian dari anjuran fiqh sosial, sebagai mana terdapat dalam hadist berikut:

المسلم أخو المسلم لايظلمه ولايسلمه ومن كان فى حاجة أخيه كان الله فى حاجته ومن فرّج عن مسلم كربة فرّج الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن ستر مسلما ستر الله يوم القيامة (رواه البخارى).

Artinya: Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kebinasaan), barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya Allah akan memenuhi hajatnya, dan barang siapa melapangkan suatu kesulitan seorang Muslim Allah lapangkan kesulitaan-kesulitannya di akhirat, dan barang siapa yang menutup aib seorang Muslim Allah akan menutupi aibnya. (H.R. Bukhari).

Hakikatnya menghilangkan kesulitan seseorang dalam kondisi wabah dan hura hara seperti hari ini merupakan tanggung jawab bersama.

Social solidarity perlu diperkuat oleh setiap individu masyarakat termasuk lembaga keuangan dan tidak hanya dibebankan atas pundak seseorang saja.

Akan tetapi apa yang dapat dilakukan hari ini segera lakukan.

Dalam hal ini, salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pihak lembaga keuangan, bank maupun nonbank, adalah penangguhan utang dan kredit bagi nasabahnya.

Langkah ini akan dikenang oleh pihak nasabah terhadap solidaritas lembaga keuangan.

Jika tidak, maka penilaian masyarakat dan nasabah terhadap eksistensi lembaga keuangan akan bergeser, terutama terhadap lembaga kuangan daerah.

Penangguhan ini tanpa perlu kepada permohonan dari pengutang atau peminjam terlebih dahulu.

Tetapi diperlukan kebijakan dan tindakan segera pihak lembaga keuangan.

Bahkan jika melihat perkembangan wabah ini dari hari ke hari, ada kemungkinan krisis ekonomi yang dahsyat dan lama akan terjadi.

Nasib masyarakat dan resiko lainnya akan semakin parah.

Maka pihak pemberi utang, pinjaman atau kredit yang nominalnya memungkinkan untuk diibra’kan (dihapuskan atau disedekahkan), maka sungguh sangat dianjurkan, sesuai dengan pengertian ayat di atas yaitu “Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. Dengan ini, besar harapan akan ada info mengembirakan dalam beberapa hari ini tertuma dari lembaga keuangan daerah. Sekian   

*) PENULIS adalah Pimpinan Dayah Tinggi Islam Samudera Pase, Baktiya Aceh Utara

المعهد العالى للعلوم الإسلامية ســمودرا فاســى

Direktur Sekolah Tingi Ilmu Ekonomi Syariah (STIES)-Baktiya Aceh Utara dan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved