Kupi Beungoh

Belajar di Rumah Menimbulkan Persoalan Baru, Pemerintah Perlu Segera Menyusun Formulanya

Aturan yang mengharuskan siswa belajar di rumah atau home learning berbasis online, memunculkan persoalan baru.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Husen, S.Sy., M.Ag, Guru MIN 9 Aceh Selatan. 

Sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut, maka sekolah-sekolah atau madrasah diliburkan.

Namun, bukan berarti siswa libur seperti liburnya semester atau hari libur.

Siswa diharuskan untuk belajar di rumah atau home learning berbasis online.

Aturan tersebut kemudian memunculkan persoalan baru.

Terutama bagi orangtua siswa, khawatir anaknya dapat menyalahgunakan fungsi HP untuk main game atau hal lain dengan alasan membuat tugas sekolah.

Karena tidak mungkin orangtua dapat mengontrol dengan penuh anaknya.

Tugas yang begitu banyak setiap mata pelajaran, bahkan melebihi tugas pada saat jam sekolah.

Sebagaimana pemberitaan tentang banyaknya pengaduan orangtua kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mengeluhkan anak-anak mereka justru stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari gurunya, selama diliburkan akibat virus corona atau COVID-19.

Penulis mengutip laporan dari KPAI sampai tanggal 19/03/2020, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bagian pengaduan online sudah menerima 51 pengaduan sejumlah siswa dari berbagai daerah yang mengeluhkan beratnya penugasan dari guru yang harus dikerjakan dengan deadline yang sempit (kpai.go.id).

Sehingga memunculkan kalimat baru yang beredar di medsos, munculnya istilah dari anak-anak “mati bukan karena corona, tapi karena tugas sekolah”.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved