Breaking News:

Luar Negeri

Saudi Berubah Haluan, Dari Pemimpin Bombardir Yaman, Jadi Pemimpin Bantuan Kemanusiaan ke Yaman

Kerajaan Arab Saudi tampaknya telah berubah haluan terhadap negara termiskin di Arab, Yaman. Dari pimpinan koalisi Arab menggempur Yaman untuk

AFP / AHMAD AL-BASHA
Salah satu organisasi bantuan menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga miskin Yaman. 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH – Kerajaan Arab Saudi tampaknya telah berubah haluan terhadap negara termiskin di Arab, Yaman.

Dari pimpinan koalisi Arab menggempur Yaman untuk mengusir militan Houthi dukungan Iran, menjadi pemimpin gerakan membantu Yaman.

Arab Saudi akan menjadi tuan rumah konferensi donor untuk mendukung Yaman pada 2 Juni 2020, media pemerintah melaporkan pada Minggu (10/5/2020).

Negara di semenanjung Arab yang terus konflik bersenjata, ditambah ancaman virus Corona.

Konferensi bermitra dengan PBB, karena negara termiskin di dunia Arab itu juga memerangi kelaparan dan penyakit menular lainnya yang meluas, seperti kolera, lapor kantor berita Kerajaan, Saudi Press Agency (SPA).

Riyadh Tolak Kemerdekaan Separatis Selatan Yaman

Halima Aden dan Zainab Salbi Berbagi Kisah Kehidupan Perang

Banjir Terjang Aden, Bencana di Yaman Makin Parah

Kerajaan itu, yang akan menjadi pendonor utama bagi Yaman sejak memimpin intervensi militer 2015 terhadap pemberontak Huthi tidak mengatakan berapa banyak uang yang akan dapat dikumpulkan dari kegiatan tersebut.

SPA tidak mengatakan apa tujuan konferensi itu untuk mengumpulkan dana kemanusiaan untuk Yaman..

Tetapi pengumuman itu muncul ketika organisasi-organisasi bantuan memperingatkan wabah virus Corona dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan setelah enam tahun perang saudara di Yaman.

Pada Selasa (5/5/2020), militan Huthi mengumumkan kematian pertama korban virus Corona di Ibu Kota Sanaa, yang mereka kendalikan, memicu kekhawatiran baru, wabah besar di negara itu.

Kematian itu menambah jumlah orang yang telah meninggal akibat virus di Yaman menjadi empat orang dan jumlah total kasus yang dikonfirmasi menjadi 22 orang.

Fasilitas kesehatan Yaman yang telah dirusak oleh konflik selama bertahun-tahun, menjerumuskan negara itu ke dalam apa yang oleh PBB sebut sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Konflik antara pasukan pemerintah dan Houthi yang didukung Iran meningkat pada Maret 2015, ketika koalisi militer yang dipimpin Saudi melakukan intervensi terhadap pemberontak setelah menyerbu sebagian besar negara.

Perang telah menewaskan puluhan ribu orang, kebanyakan warga sipil, dan PBB mengatakan sekitar 24 juta warga Yaman atau lebih dari dua pertiga populasi bergantung pada bantuan.(*)

Editor: M Nur Pakar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved