Berita Luar Negeri
Malaysia Tegaskan Akan Menolak Pengungsi Rohingya yang Mau Masuk ke Negaranya
Menteri Senior Malaysia, Ismail Sabri Yaakob mengatakan pemerintah mempertahankan pendiriannya bahwa solusi terbaik adalah mengirim mereka kembali.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM – Pemerintah Malaysia tegas dalam posisinya untuk menghentikan masuknya pengungsi Rohingya ke negara itu.
Menteri Senior Malaysia, Ismail Sabri Yaakob mengatakan pemerintah mempertahankan pendiriannya bahwa solusi terbaik adalah mengirim mereka kembali.
Dia menambahkan bahwa Kementerian Luar Negeri telah diminta untuk membahas cara-cara merealisasikan masalah tersebut.
“Kami juga mengatakan kepada Kementerian Luar Negeri untuk berdiskusi dengan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR)
karena banyak negara di dunia yang berbicara tentang kemanusiaan tetapi mereka tidak menerimanya,” katanya," dikutip dari Bernama, Sabtu (27/6/2020).
• UNHCR Apresiasi Indonesia dan Siap Bantu Pemerintah Tangani Etnis Rohingya di Aceh Utara
• Tagar ‘Aceh’ Puncaki Trending Topic Twitter, Warganet Ramai Puji Aceh Pahlawan untuk Rohingya
"Jika mereka benar-benar berjuang untuk kemanusiaan, saya menantang mereka, untuk mengambil Rohingya di Malaysia karena mereka mempersoalkan dan mengkritik kami," katanya dalam sebuah pertemuan, Sabtu (27/6/2020) siang.
Ismail Sabri juga tidak mengesampingkan kemungkinan perlakuan baik oleh Malaysia terhadap pengungsi Rohingya.
Sehingga Malaysia merupakan salah satu negara pilihan pengungsi Rohingya.
Ismail Sabri mengatakan masalah pengungsi Rohingya yang diperkirakan sebanyak 200,000 orang di Malaysia akan selesai jika semua negara maju yang keras mengkritik Malaysia dengan membantu memasukkan beberapa pengungsi ke negara masing-masing.
“Kami telah memperlakukan mereka dengan baik dari aspek kemanusiaan, bahkan kami adalah yang terbaik di dunia. Jika ada bencana di negara lain, kami cepat memberikan kontribusi dan bantuan,” katanya.
"Meskipun demikian, jangan mengambil keuntungan dari niat baik kami karena seluruh dunia telah mendorong masalah Rohingya ke Malaysia untuk diselesaikan," katanya.
• Nasib Rohingya Tinggal Sementara di Bekas Gedung Imigrasi Lhokseumawe, Seperti Terkatung-katung
• UNHCR: Imigran Rohingya Aman dari Paparan Covid-19, Justru Rentan Terkena saat di Darat
Selain itu, Ismail yang juga Menteri Pertahanan Malaysia berjanji ke pemerintah untuk terus memperketat perbatasan negara termasuk pelabuhan ilegal seperti jalur tikus untuk memastikan Malaysia tidak lagi menjadi tujuan warga asing.
Kemarin, Jumat (26/6/2020), Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin mengatakan bahwa Malaysia tidak dapat lagi menerima pengungsi Muslim Rohingya dari Myanmar.
Muhyiddin menjelaskan bahwa ekonomi Malayasia yang mengalami kesulitan dan sumber daya yang semakin menipis sedang dialami Malaysia akibat pandemi virus corona.
Melansir dari Malay Mail, Malaysia yang tidak mengakui status pengungsi, baru-baru ini menolak perahu dan menahan ratusan orang Rohingya.
Di tengah meningkatnya kemarahan Malaysia terhadap orang asing yang dituduh menyebarkan virus corona dan memakai dana negara yang cukup banyak.
"Kami tidak bisa lagi menampung lebih banyak (pengungsi), karena sumber daya dan kapasitas kami yang sudah mulai menipis, diperparah oleh pandemi Covid-19," kata Muhyiddin dalam teleconference KTT ASEAN, Jumat (26/6/2020).
• Berbeda dari Biasanya, Pengungsi Rohingya yang Terdampar di Aceh Kali Ini Disambut Pro-Kontra
• Penurunan Imigran Rohingya ke Daratan Aceh Utara Bersamaan dengan Petir dan Kumandang Azan
“Namun, Malaysia secara tidak adil diharapkan untuk melakukan lebih banyak untuk mengakomodasi pengungsi yang masuk,” ujarnya.
Malaysia yang mayoritas Muslim telah lama menjadi tujuan favorit bagi Rohingya.
Para Muslim Rohingya melarikan diri dari penumpasan yang dilakukan militer pada 2017 di Myanmar untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Perlakuan terhadap Rohingya telah memecah belah ASEAN, dengan dua anggota mayoritas Muslimnya yakni Malaysia dan Indonesia.
Kedua Neagara itu mengkritik Myanmar yang mayoritas beragama Budha dan menyatakan kekecewaan dan putus asa ketika pengungsi Rohingnya tiba dengan kapal-kapal penyeludupan.
• Tangis dan Protes Warga Selamatkan Etnis Rohingya
• Imigran Rohingya Dijaga Ketat, Warga dan Wartawan Dilarang Masuk ke Eks Kantor Imigrasi Lhokseumawe
Myanmar menyangkal pelanggaran terhadap anggota minoritas di Negara Bagian Rakhine, Myanmar barat itu.
Pihak Myanmar mengatakan bahwa Rohingya bukanlah warga negara mereka, melainkan imigran ilegal dari Asia Selatan.
Rohingya telah bertahun-tahun menaiki kapal antara November dan April, ketika laut tenang, untuk sampai ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Malaysia, Thailand dan Indonesia.
Muhyiddin mendesak badan pengungsi PBB untuk mempercepat pemukiman kembali Rohingya di Malaysia ke negara ketiga.
Badan itu mengatakan ada lebih dari 100.000 Rohingya di Malaysia meskipun kelompok HAM mengatakan jumlahnya lebih tinggi.
Muhyiddin juga menyerukan lebih banyak upaya untuk memerangi perdagangan Rohingya, yang katanya semakin berisiko untuk dieksploitasi, perbudakan dan perekrutan oleh militan.
• Dikawal Pasukan TNI- Polri, Imigran Rohingya Dievakuasi dari Pantai Lancok Aceh Utara
• Keluhan Sesak Nafas, Seorang Wanita Imigran Rohingya di Aceh Utara Ditangani Tim Medis
"ASEAN harus berbuat lebih banyak untuk membantu Myanmar, dan Myanmar juga harus berbuat lebih banyak untuk membantu dirinya sendiri agar krisis ini tidak terjadi di belakang kita," katanya.
Otoritas Malaysia mengatakan bahwa belasan orang Rohingya meninggal di atas kapal.
Tubuh mereka dilarungkan ke laut dari sebuah kapal yang kemudian mendarat di sebuah pulau Malaysia pada bulan ini dengan membawa 269 orang di dalamnya. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)
• Anggota Polda Aceh Patungan Dana Bangun Rumah Duafa, Setiap Hari Setor untuk Kuis Surga
• Tak Perlu Khawatir, Kenali Penyebab Bintitan pada Mata dan Begini Cara Penyembuhannya